
Satu minggu sudah Mia tidak masuk kuliah karena luka pada kakinya. Dan selama itu juga Sisie sering datang ke rumah Arsen untuk menemani Mia agar tidak kesepian saat Arsen kerja, walau sudah ada bi Mar di sana. Tapi tetap saja, kedatangan seorang sahabat lebih berarti.
Hari ini Mia sudah akan berangkat kuliah, karena merasa kakinya sudah jauh lebih baik. Bahkan sekarang mereka sudah kembali tidur di lantai atas. Seperti biasa Mia selalu membantu Arsen memasangkan dasi sebelum berangkat kerja. Dan Arsen sangat senang dengan hal itu, karena dia bisa memandangi wajah cantik Mia dari jarak dekat.
"Hari ini aku antar ya, dan nanti pulangnya aku jemput. "
Mia mengernyit mendengarkan ucapan Arsen, tidak biasanya.
"Ada apa? "
"Kita akan bertemu beberapa dosen, dekan dan rektor di kampusmu. "
"Memangnya ada apa? "
"Nanti kamu juga akan tau sendiri. "
Mia tidak bertanya lagi, karena merasa Arsen enggan menjawab pertanyaan darinya.
"Baiklah, terserah kau saja."
Mereka berdua turun dan menuju meja makan. Di sana sudah siap sarapan untuk mereka, yang sudah disiapkan oleh bi Mar.
"Sudah, lama rasanya aku tidak makan nasi goreng mu. " kata Arsen sambil menyuap kan makanan ke dalam mulutnya.
"Kenapa? apa mas Arsen merindukan nasi gorengku? " tanya Mia sambil tersenyum.
Arsen mengangguk.
"Baiklah, besok aku akan membuatkan mas Arsen nasi goreng untuk sarapan. "
Mereka melanjutkan sarapannya dengan tenang. Bi Mar salalu memperhatikan mereka berdua, cara mereka berinteraksi. Dan saat mereka berdua pergi, maka Bi Mar langsung memberikan semua informasi kepada mama Rima. Memang bi Mar, adalah utusan mama Rima yang akan memberikan semua informasi tentang semua kejadian yang terjadi kediaman Arsen.
Saat ini, Arsen dan Mia sudah berada di kampus. Arsen turun terlebih dulu lalu membukakan pintu untuk Mia. Mia turun dengan genggaman erat di tangan Arsen, seolah dia itu memberikan kekuatan untuk istrinya itu.
Mereka berjalan melewati koridor dengan tangan Arsen yang memeluk erat pinggang Mia. Seolah mengatakan kepada mereka yang melihat kalau Mia adalah miliknya dan jangan pernah mengganggunya seperti apa yang dilakukan duo racun yang hanya tinggal menerima eksekusi dari Mia hari ini.
Semua orang tau kalau Jessica dan Sandra ingin mencelakai Mia. Bahkan CCTV itu tersebar di kalangan kampus. Mereka juga sudah mendengar kalau Mia adalah istri dari Arsen. Semua orang bergidik membayangkan seorang Jessica yang sombongnya nggak ketulungan, itu harus menjadi seorang gelandangan jika sampai, Mia tidak mau memaafkanya. Tidak hanya putus kuliah, perusahaannya pun terancam bangkrut.
Semua itu menunggu keputusan dati Mia hari ini. Apakah Mia akan memaafkan mereka yang sudah ingin mencelakainya atau tidak.
Mia dan Arsen masuk ke dalam sebuah ruangan pertemuan, disana sudah ada Retor, Dekan dan beberapa dosen. Juga ada dua pria paruh baya bersama istrinya. Ada juga Jessica, Sandra dan Aldo.
Aldo...?
__ADS_1
Kenapa dia ada disini juga?
Banyak pertanyaan yang bergelayut dibenak Mia tentang semua ini. Sebenarnya ada apa?
Mia dan Arsen duduk berdampingan, sedangkan Harry yang baru datang langsung berdiri di belakangnya.
Mia melihat wajah-wajah yang tertunduk itu kecuali para guru dan Aldo.
"Mas Sebenarnya ada apa sih? " Tanya Mia berbisik ditelinga Arsen.
Sebentar lagi kau akan tau.
"Maaf tuan Arsen kemarin saat anda datang kemari, saya sedang perjalanan ke luar kota. Jadi, saya tidak bisa menemui anda dan diwakili oleh pak Dekan. " kata Rektor yang membuka pembicaraan.
"Tidak apa-apa pak Rektor. Saya kemari sekali lagi ingin meminta pendapat istri saya tentang hukuman apa yang akan kita berikan kepada dua wanita yang ingin mencelakai istri saya. Karena yang berhak menghukum mereka adalah istri saya. " kata Arsen dengan tenang.
"Jadi nona Mia, hukuman apa yang ingin anda berikan kepada Jessica dan Sandra yang ingin mencelakai anda satu minggu yang lalu. " tanya Rektor itu kepada Mia.
"Maksudnya? " tanya Mia yang masih merasa bingung. Karena Arsen dan Sisie tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku lupa tidak memberitahumu. Sekarang lihatlah. " Arsen menyodorkan ponselnya agar dilihat oleh Mia
Mia melihat secara perlahan detik-detik dia akan tertabrak. Karena dia menyeberang jalan cukup hati-hati dan sudah memastikan tidak ada mobil yang lewat saat dia menyeberang.
"Kenapa kalian lakukan ini padaku? Kalau aku tidak segera menghindar mungkin aku benar-benar celaka atau mati. Sekarang katakan padaku apa alasan kalian. " Kata Mia dengan suara yang sangat dingin dan penuh penekanan.
"Kami... kami... " ucap Jessica terbata.
"Bukan kami, tapi kau saja. " bantah Sandra yang tidak terima dia dilibatkan lagi, karena yang mengajaknya adalah Jessica.
"Kau." Jessica melotot dan menunjuk ke arah Sandra.
"Apa." balas Sandra ketus.
"Hentikan, aku tidak mau dengar perdebatan kalian. Yang ingin aku dengar kenapa kalian lakukan ini padaku. " Bentak Mia dengan wajah yang sudah memerah.
Arsen sendiri tidak menyangka kalau Mia bisa semarah ini. Dia hanya mengusap punggung Mia dengan lembut.
"Maafkan aku Mia, aku menyesal. "
"Aku tidak akan memaafkanmu sebelum kau jelaskan alasan kenapa kau melakukan ini pada ku. Padahal aku tidak pernah mengganggu kalian bahkan berbicara pun tidak pernah. Apa salahku pada kalian sehingga kalian ingin membunuhku, hah... " ucap Mia dengan nafas memburu dan air mata yang sudah meleleh.
"Sekarang katakan, apa salahku pada kalian. Apa alasan kalian melakukan ini padaku. " teriak Mia tanpa peduli siapa yang ada di hadapan nya.
__ADS_1
Arsen langsung memeluk Mia yang sedang emosi dan mennagis itu.
"Tenanglah sayang. "
Arsen tersenyum penuh arti sambil menatap semua orang yang ada di sana. Ini sebabnya Arsen tidak ingin memberitahu Mia jauh sebelumnya. Karena Arsen ingin Mia tau di waktu yang tepat dan emosinya akan membuat mereka dihukum sesuai apa yang Mia rasakan saat itu.
"Aku melakukannya karena aku merasa cemburu padamu, Mia. " Kata Jessica dengan tertunduk.
Mia langsung melepaskan pelukan Arsen dan menatap Jessica dengan pandangan tak mengerti.
"Cemburu... cemburu pada siapa? " tanya Mia sambil memicingkan matanya, dia lalu menatap Arsen. Dan Arsen hanya menggedikkan bahunya.
"Aku cemburu pada kedekatanmu dengan Aldo. Apa kau tidak tau kalau aku sangat menyukai Aldo? Aku tidak punya kesempatan dekat dengannya jika ada kau. Dan saat kau cuti kuliah kemarin, aku bisa dekat dengannya. Namun kehadiran mu lagi, membuat Aldo mengacuhkanku. Dan lebih menempel denganmu. sepeeti cicak dengan dinding. " kata Jessica sambil melipat tangannya, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kenapa juga kau harus masuk kuliah lagi." gumamnya.
Mia berdiri dan berjalan mendekati Jessica. Dan...
Plak...
Sebuah tamparan keras Mia hadiahkan dipipi mulus Jessica. Membuat semua orang terkejut dengan Aksi frontal Mia.
Plak...
Sebuah tamparan sekali lagi mendarat di pipi Jessica satunya. Membuat Jessica langsung mengusap kedua pipinya.
"Kau ingin membunuhku hanya karena cemburu aku dekat dengan Aldo? Kau punya otak tidak. " Mia menunjuk-nujuk kening Jessica dengan jari telunjuknya, tanpa melihat orang tua Jessica yang berada disampingnya.
'Aku dan Aldo hanya teman, sahabat. Tidak lebih. Dan tidak akan bisa lebih karena aku sudah mempunyai suami. Kamu bisa mikir nggak sih." Kata Mia, sambil berjalan ke samping Arsen, dan duduk dengan santai.
"Nona Mia maafkan anak saya, saya mohon. " Papa Jessica mulai angkat bicara. Dan sekalinya bicara dia meminta permintaan maaf untuk anaknya.
"Kenapa harus nada yang minta maaf, tuan. " tanya mia sambil mengernyitkan .
"Karena jika anda tidak memafkan Jessica maka tuan Arsen akan menarik sahamnya diperusahaan kami, dan kami akan terancam bangkrut nona.. " kata papa Jessica dengan mata memkhon begitu juga dengan papa Sandra.
"Benarkah itu mas? " tanya Mia pada suaminya. Arsen hanya menggedikkan bahunya acuh.
"Berapa saham yang suamiku miliki di perusahaan kalian. " tanya Mia kemudian.
" Sekitar 40%, nona. "
Mia menyeringai. "Sudah aku putuskan. "
__ADS_1