Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Keraguan Ben


__ADS_3

Hari berganti, dan bulan berlalu. Tak terasa usia kandungan Mia sudah menginjak bulan ke tujuh, Perut Mia sudah terlihat sangat besar dan bahkan untuk kelahiran normal pasti sudah waktunya melahirkan. Namun mereka harus menunggu satu bulan lagi untuk menantikan kehadiran kedua jagoan mereka.


Ya, beberapa hari yang lalu Mia dan Arsen sudah memeriksakan kandungannya untuk mengetahui jenis kelamin kedua bayi mereka. Dan dokter mengatakan kalau kedua bayi mereka berjenis kelamin laki-laki. Arsen sangat bersemangat akan hal itu. Karena bagaimanapun dia juga menginginkan anak pertamanya laki-laki walau hanya dalam hati, karena dia tidak ingin menyakiti hati istrinya jika mengatakan keinginannya. Dan Tuhan langsung mengabulkannya dengan memberikan dua jagoan kecil di kandungan sang istri.


Hari ini Arsen akan mengajak istrinya itu untuk membelikan perlengkapan calon bayi mereka. Karena HPL sudah dekat, Arsen tidak ingin membuat istrinya bersedih karena tidak memiliki persiapan untuk menyambut kehadiran bayi mereka.


"Mas, Sisie sama Ben mau ikut kita belanja. " kata Mia saat mereka tengah bersiap.


"Kenapa? apa mereka ingin membeli pakaian bayi juga? " ujar Arsen sinis.


"Ya kali mas, kita nggak tau apa mereka sudah nyelup apa belum. " Mia terkekeh saat mengatakan hal itu.


"Benar juga, Kenapa aku lupa menanyakan padanya. "


"Menanyakan apa? " tanya Mia penasaran.


"Menanyakan apa ular kobranya sudah masuk ke dalam sarangnya. Dan bagaimana rasanya? Dia ketagihan apa enggak. Ah, aku jadi penasaran. ' Arsen bermonolog padahal disana ada istrinya


Mia mengernyitkan keningnya saat mendengar ocehan suaminya.


"Mas please deh. Jangan kepo dengan keadaan orang lain. Nggak baik kayak emak-emak aja kamu mas, kepo sama kehidupan Ben dan Sisie. '


Mia terus terkekeh mendengarkan ucapannya sendiri, yang mengatakan suaminya mirip emak-emak.


"Ya bagaimana nggak penasaran, kita semua tau siapa Ben. Apa Sisie sudah berhasil menaklukan pria aneh itu. Seperti kau yang berhasil menaklukanku dengan ketulusanmu. "


"Mas, jangan bicara seperti itu. Meskipun ia pria aneh, tapi dulu kau juga pernah masuk ke dunianya Walau hanya sebagai kedok. "


Arsen langsung terdiam saat Mia mengingatkannya hal itu. Kenapa dia dulu bodoh sekali mau menerima tawaran Ben untuk masuk ke dunianya. Tapi kalau tidak begitu, mungkin dia tidak akan bertemu Mia dan menjadikannya istri kontrak. Hingga dia bisa menyadari ketulusan istrinya itu.


"Sudahlah, kenapa jadi membahas ini sih. Ayo kita bersiap. Kamu naik kursi roda saja ya, nanti biar nggak kelelahan. " Arsen mengingatkan istrinya itu

__ADS_1


"Iya mas."


Arsen lalu menuntun istrinya keluar kamar. Sekarang Arsen dan Mia tidur di kamar bawah yang sudah dia persiapkan beberapa bulan lalu sesuai saran dari sang mama. Dan mungkin setelah ini, mereka akan tetap tinggal di kamar bawah, dan mulai merenovasi lantai atas untuk kamar anak-anak mereka kelak. Itulah yang ada dipikirkan Arsen saat ini. Dia akan membuat rumah ini menjadi rumah impian untuk keluarga kecil mereka nanti.


Mereka sudah berada di teras, menunggu kedatangan pasangan yang ingin ikut mereka belanja. Memang tepat sekali pilihan Ben yang membeli rumah di dekat rumah Arsen. Karena sekarang istri-istri mereka sering berkunjung satu sama lain untuk menghilangkan kejenuhan.


Saat Sisie masih sakit, Mia selalu berkunjung ke rumahnya dan menemani Sisie saat Ben pergi ke kantor. Dan Saat ini Sisie yang sudah sembuh, sering datang ke rumah Mia, karena dia tidak akan membiarkan sahabatnya berjalan ke rumahnya dengan perut yang besar.


Sisie sudah dinyatakan sembuh dan bisa berjalan dengan normal sejak sebulan yang lalu. Berkat tekad kuat dari Sisie yang ingin sembuh dan ketelatenan Ben saat merawatnya dan mengantarkan nya terapi. Akhirnya hanya butuh waktu tiga bulan Sisie bisa sembuh dan berjalan normal lagi.


Kini kegiatan Sisie dan Mia adalah kuliah online, karena suami mereka melarang mereka untuk kuliah umum. Terutama Mia dengan perut besarnya.


Akhirnya yang ditunggupun datang, Terlihat pasangan serasi itu berjalan menyeberangi jalan perumahan di depan rumah mereka dengan bergandengan tangan. Dan dengan senyum yang terukir di bibir mereka.


"Maaf, apa kalian lama menunggu? " tanya Sisie saat mereka sudah berada tepat di hadapan Mia dan Arsen.


"Lumayan, mungkin kami sudah menunggu sejak kalian mandi keramas. " Sindir Arsen kepada pasangan yang tidak tau malu ini.


Sisie yang mendengar itu merasa sangat malu. Karena apa yang dikatakan Arsen benar. Mereka baru saja selesai mandi keramas, setelah melakukan pergulatan, sesaat setelah selesai sarapan. Sisie yang awalnya menolak tidak bisa berkutik saat suaminya mulai merayunya lagi dan sudah mengungkungknya diatas sofa.


Sedangkan Ben hanya cuek mendengar sidiran sahabatnya.


"Sudah ayo kita berangkat. " Mia mencoba berdiri dan langsung dibantu oleh suaminya masuk ke dalam mobil.


Arsen lalu memasukkan kursi roda ke dalam bagasi mobilnya untuk sang istri nanti. Ben hanya memperhatikan apa yang dilakukan Arsen. Sepertinya sangat merepotkan, tapi sahabatnya itu melakukannya tanpa mengeluh sedikit pun malah terlihat sangat bahagia.


Ben mengehela nafasnya, dia jadi berfikir. Apakah kelak dia juga sama sepeti Arsen yang sangat kerepotan saat istrinya hamil? Apa dia bisa? Karena selama ini dia sudah biasa hidup sendiri dan kini ada Sisie di hidupnya yang sudah memberinya warna baru di hidupnya. Kalau Sisie hamil dan memiliki anak....


Ah, pikiran-pikiran seperti ini kenapa mengganggunya sekarang. Ben mengacak rambutnya sendiri.


Arsen yang berada di sampingnya merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi pada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kau kenapa? " tanyanya kemudian.


Saat ini mereka sedang berada di sebuah toko perlengkapan bayi. Sisie dan Mia sedang antusias memilih pakaian untuk kedua jagoannya.


"Aku tanya padamu, apakah selama kehamilan istirmu kamu tidak merasa kerepotan sama sekali? " tanya Ben pada akhirnya.


"Tidak, memang kenapa? "


"Entahlah aku jadi ragu untuk memiliki seorang anak. "


"Kenapa? "


Ben lalu menceritakan kepada Arsen apa yang membuatnya ragu memiliki seorang anak. Arsen hanya mendengarkan dan menggeleng kan kepalanya mendengar semua ucapan Ben.


"Ben, saat kau merawat Sisie sakit. Apakah kau merasa kerepotan? " tanya Arsen pada akhirnya.


"Tidak. Karena aku merasa bertanggungjawab kepada nya. "


"Nah , begitu pula dengan merawat istri kita yang sedang hamil. Kita harus bertanggung jawab kepadanya, memperlakukannya dengan lembut dan menuruti semua keinginannya. Karena apa? Karena kita harus bertanggung jawab kepadanya. Kita yang sudah menikmatinya setiap malam, dan menanamkan benih dirahimnya. Saat dia hamil, maka perubahan tubuhnya tak seindah dulu, kita harus terima. Karena kita yang sudah merusak tubuhnya menjadi seperti itu. " kata Arsen menjelaskan kepada Ben dengan bahasanya.


"Kok bisa? tubuhnya berubah kan karena dia hamil. "


"Nah, dia hamil anak siapa? siapa yang menanam benihmu dirahimnya. "


Ben terdiam mendengarkan setiap ucapan Arsen.


"Jadi kita sebagai laki-laki tidak boleh egois mementingkan diri sendiri, yang maunya ingin dilayani. Tapi saat istri kita membutuhkan kita, kita bersikap cuek dan acuh. Apakah itu adil baginya? Tidak. Karena itulah jangan pernah mengeluh ataupun ragu untuk memiliki seorang anak. Karena dia kelak akan menjadi penerus kita, pelita hati kita. Dan untuk istri kita dia adalah amanah yang diberikan orang tuanya kepadamu. Dan kau berjanji akan menjaganya dengan baik. Karena pengorbanannya untuk melahirkan penerus kita itu taruhannya adalah nyawa. "


"Deg... "


Ben benar-benar lupa dengan semua itu. Dia sudah lupa kalau dia sendiri yang telah berjanji kepada kedua orang tua Sisie untuk menjaganya dengan baik.

__ADS_1


"Maaf." lirih Ben dalam hati.


__ADS_2