
Mereka berdua kembali duduk dengan tenang setelah kehebohan yang dibuat Sisie karena mendapatkan sebuah kartu nama dari Ben. Sisie lalu menyimpan kartu nama itu dengan baik di dalam dompetnya. Dia lalu kembali memandang Mia penuh arti , dan menyibakan rambut Mia yang menutupi lehernya .
"Hei Mia, Apa kau sudah melakukannya dengan Arsen ?" tanya Sisie langsung .
Mia Hanya mengangguk sebagai jawaban dengan wajah yang memerah.
"Wah, jadi temanku sekarang bukan perawan lagi . Gila , kau sudah melakukannya dengan orang yang kau cintai ? Lalu apakah Arsen juga mencintaimu? atau kalian melakukannya karena cinta sepihak saja? " Sisie terus nyerocos memberikan pertanyaan kepada Mia.
"Entahlah , Aku tidak tahu . Karena yang aku tahu semalam aku hanya ingin melakukannya dengan dia. Tanpa memikirkan perasaannya padaku. Aku hanya ingin menyerahkan diriku, sebagai bukti kalau aku mencintainya dan ingin memberikan cucu kepada kedua orang tua Arsen. "
"Apa dia tau perasaanmu padanya? " Sisie jadi prihatin dengan keadaan yang menimpa sahabatnya itu.
Mia menggeleng.
"Dia tidak tau, yang dia tau mungkin aku mau melakukannya karena ingin memberikan cucu kepada orang tuanya." kata Mia dengan wajah tertunduk.
Sisie langsung memeluk sahabatnya itu.
"Bersabarlah, semua ini pasti akan berlalu, dan Arsen pasti akan mengetahui bagaimana perasaanmu kepadanya. Dan aku yakin, setelah ini. Dia tidak akan melepaskanmu lagi, karena sudah merasakan bagaimana rasanya memasuki lubang perawan. " kata Sisie menggoda sahabatnya itu agar dia tidak bersedih lagi.
"Apaan sih, Sie." Mia memukul pelan tangan Sisie.
"Ya benar kan? Apa yang aku katakan. " ucap Sisie sambil terkekeh.
"Pantas saja sejak tadi kuperhatikan cara jalanmu agak aneh. " ejek Sisie dan itu membuat wajah Mia merona.
Akhirnya makanan yang mereka pesan datang juga. Mereka makan dengan lahap, terutama Mia yang sejak tadi pagi belum kemasukan nasi sama sekali.
Setelah selesai makan siang, mereka berdua meneruskan acara belanjanya hari ini. Mia membawa sebuah troli untuk memasukkan barang belanjaannya nanti.
"Disini semua sayuran nya mahal-mahal dan tidak begitu lengkap. Sekali aja aku belanja disini. Minggu depan aku akan belanja di pasar saja, karena disana lebih lengkap dan lebih murah. " gumam Mia, sambil terus memasukkan apa yang ingin dia beli.
Sedangkan Sisie entah kemana dia pergi, katanya mau membeli sesuatu untuk keperluannya. Benar saja tak lama Sisie sudah datang dengan membawa sebuah tas besar. yang berisi barang belanjaannya.
"Belanja apa kamu, Sie?" tanya Mia yang penasaran dengan belanjaan Sisie.
"Biasa, beli keperluan bulanan Mia. Kayak kamu enggak aja. "
"Keperluan bulanan apa? "
"Yaelah, apa kamu nggak pernah palang merah tiap bulan. "
Mia membulatkan bibirnya setelah mengerti maksud Sisie.
Setelah semua kebutuhan Mia sudah dimasukkan ke troli, Mia segera melakukan pembayaran di kasir. Sisie hanya membuntuti Mia di belakangnya.
"Emang kalau udah berumah tangga belanjaannya segini banyaknya ya, Mi? " tanya Sisie yang penasaran.
"Iya dong. Aku selalu masak di rumah dan mas Arsen juga nggak pilih-pilih makanan jadi apa pun yang aku masak dia makan. "
"Wah, orang sekelas Arsen ternyata suka makanan rumahan ya. Salut aku sama kamu Mia. Nanti kalau aku mau nikah sama Ben, aku belajar masak sama kamu ya? "
"Jangan ngimpi deh, Sie. Mending cari cowok lain aja, yang normal. Jangan kayak aku, yang mencintai cowok nggak normal kayak Arsen. Sakit tau, mencintai seorang diri itu. "
"Bodo amat, aku akan mengejar Ben. Nggak apa-apa kalau harus menikah kontrak kayak kamu, sebagai kedok aja. Yang penting seseorang disisi kita itu tampan dan mapan dan bisa membahagiakan kita dengan hartanya tentunya."
__ADS_1
"Dasar matre. "
"Biarin... " Sisie membalas Mia dengan cuek.
Sisie sepertinya sudah terobsesi dengan Ben, sehingga dia mungkin akan mengikuti jejak Mia. Yaitu sebagai istri kontrak tuan gay.
Mia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang keras kepala itu. Dia tidak menyangka kalau Sisie akan bertekad mengejar Ben.
°
°
°
Perusahanan Bara.
Arsen sedang fokus dengan pekerjaannya, sampai sebuah ketukan di pintu mengganggu konsentrasi nya.
"Masuk. "
Harry masuk dengam membawa sebuah berkas yang Arsen minta.
"Ini tuan, saya sudah melakukan perintah anda. " Harry menyodorkan berkas itu kepada Arsen.
Arsen menerimanya dan segera membuka berkas itu.
" Reinaldo Wijaya. Anak dari Bagas Wijaya, pemilik BW hotel dan resto. "
"Jadi dia kuliah satu kelas dengan Mia, dan mereka hanya bersahabat. Bagus Harry, terimaksih atas kerja kerasmu. "
"Apa? "
Tadi setelah anda mengantarkan nona Mia, dia dihadang oleh dua orang teman sekelasnya yang terkenal suka membuli. "
"Benarkah? lalu apa yang dilakukan Mereka pada istriku? "
"Salah satu dari mereka ingin menampar nona Mia tuan. Tapi langsung di hadang oleh Aldo. "
"Jadi Aldo yang menolong Mia? " tanya Arsen sambil menaikkan aslinya.
"Iya tuan. "
"Sial.... "
Arsen merasa kesal lagi-lagi Aldo dekat dengan istrinya, ya bagaimana tidak dekat mereka kan satu kampus dan satu kelas lagi. Arsen sepertinya sudah tidak bisa berfikir jernih karena masalah ini.
"Kau boleh keluar Harry, dan terus suruh anak buahmu untuk mengawasi Mia diluar sana. "
"Baik tuan, saya permisi dulu. "
Setelah kepergian Harry, Arsen kembali fokus kepada laptopnya. Sedangkan berkas tentang Aldo di simpan di laci.
"Sepertinya dia tidak penting, dan hanya sebatas remahan saja yang bisa dia tendang kapan saja." gumam Arsen.
Tak lama sebuah panggilan dari sekertarisnya masuk.
__ADS_1
"Ada apa? " tany Arsen langsung saat mengangkat panggilan.
"Ada tuan Ben dari perusahaan Adams properti, tuan. Beliau ingin bertemu anda. "
"Suruh dia masuk. "
Panggilan di tutup, dan tak lama Ben masuk dengan senyuman lebar dibibirnya.
"Apa kabar Tuan Arsen. " Sapa Ben sambil memeluk Arsen.
"Kabar baik, tuan Ben. " Arsen membalas pelukan Ben kemudian segera melepaskannya.
"Ada keperluan apa anda kemari. "
"Tidak ada, aku hanya mampir saja. Dan memberikan laporan keungan yang kau tanyakan beberapa hari lalu. "
"Anda jauh-jauh kemari hanya untuk mengantarkan laporan ini?" Tanya Arsen tidak percaya karena biasanya Ben hanya menyuruh asisten atau sekertarisnya untuk mengantarkan berkas laporan seperti ini.
"Ya, begitulah... " jawab Ben cuek.
"Pasti ada sesuatu yang ingin kau sampaikan. " Arsen tidak bersikap formal lagi.
"Kau semakin pandai membaca pikiranku, Arsen. " Ben tertawa lebar saat Arsen berhasil menebak maksud kedatangannya.
"Ada apa, Ben. "
"Tadi aku dari mall mengantar mamiku belanja, dan tak sengaja aku bertemu dengan istrimu. "
Arsen menaikkan alisnya mendengar ucapan Ben.
"Kau bertemu istriku di mall? "
"Iya, dan aku sudah melihat semuanya. "
Arsen semakin tidak mengerti maksud Ben.
"Jangan beri aku teka teki Ben. Aku sudah pusing mengerjakan pekerjaanku dari tadi. " keluh Arsen pada akhirnya.
"Aku melihat tanda cinta yang kau berikan padanya. " Ben tertawa sinis.
"Selamat ya, apa kau sudah yakin dengannya? "
Arsen langsung menyandarkan tubuhnya disandaran kursi. Dia lega, saat yang dimaksud Ben hanya itu.
"Entahlah, semalam aku dibuat tak berdaya dengan semua ucapannya, Ben. Dan itu yang membuat hatiku luluh. "
"Apa yang dia katakan. " tanya Ben penasaran.
"Aku tidak peduli seperti apa duniamu, Aku tidak peduli siapa dirimu.Aku tidak peduli berapa lama aku harus hidup dengan mu, dan menjadi istrimu hanya sebagai kedok untuk menutupi status gay mu. Aku tidak peduli. Asalkan aku selalu bersamamu, dan melihatmu setiap hari itu sudah cukup bagiku. "
Deg....
Ben pun terkesiap mendengarkan apa yang Arsen katakan saat menirukan ucapan Mia. Kalau dia mendengarkan kata-kata seperti itu dari seorang wanita, mungkin dia juga akan luluh kepada wanita itu.
"Mungkin dia sudah mencintaimu. "
__ADS_1
"Entahlah, aku akan mencari tahu nanti. "