Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Dia Calon Istriku


__ADS_3

"Tidak boleh. Sisie tidak boleh menikah dengan siapapun. Karena aku yang akan menikah dengannya. "


Mendengar ucapan Ben semua orang tercengang dan tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Kecuali mama Helen yang tersenyum tipis, dia sejak tadi memasang umpan untuk memancing Ben. Dan lihatlah kini umpannya berhasil dimakan target.


Sisie sendiri merasa tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


"Hei, bro. Jangan bercanda. Sebaiknya kau pikirkan baik-baik apa yang kau katakan. Apalagi kepada kedua orang tuanya. "


"Tidak, aku serius. Aku yang sudah membuatnya seperti ini sudah sepantasnya aku akan bertanggung jawab kepada Sisie. "


Mendengar kata tanggung jawab membuat Sisie jadi lemas tak bersemangat. Dia kira Ben akan menikahinya karena dia benar-benar mencintai Sisie. Tapi ternyata bukan karena itu, melainkan karena sebuah tanggung jawab.


"Tidak perlu tuan Ben. Jika hanya karena tanggung jawab kau tidak perlu sampai menikahiku. Aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak mencintaiku. " ujar Sisie dengan suara dinginnya.


Mendengar ucapan Sisie membuat semua orang tak percaya terutama Mia dan Arsen. Bukankah selama ini Sisie yang gencar mengejar, Ben. Tapi kenapa saat Ben mau menikahinya dia jadi jual mahal seperti itu.


Ben lalu jalan mendekat ke arah Sisie. Mama Helen yang mengerti hal itu segera berdiri dan memberikan tempat dan waktu untuk mereka berdua.


"Sie, Mungkin aku belum bisa mencintaimu untuk saat ini. Tapi mungkin suatu hari nanti aku bisa jatuh cinta padamu seiring berjalannya waktu. Seperti pernikahan Arsen dan Mia. Bukankah dulu mereka menikah karena terpaksa, dan sekarang lihatlah mereka saling mencintai dan bahkan mereka sudah menghasilkan dua benih di perut Mia. " ujar Ben sambil menggenggam tangan Sisie.


Sisie menoleh kearah Mia, dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari sahabatnya itu.


"Tapi, tuan.... "


"Untuk sekarang biarlah aku menikah denganmu sebagai rasa tanggung jawab karena sudah membuatmu seperti ini. Dan biarlah rasa cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu. " ujar Ben lagi.


"Apa kau serius?" tanya Sisie meyakinkan.


Ben mengangguk yakin.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa merawatmu, Sie. Jika aku tidak menikahimu. Karena untuk merawat mu perlu sentuhan baik secara langsung ataupun tidak. Misalnya untuk mengangkat mu dari tempat tidur ke kursi roda, atau saat kau mau ke Toilet dan memandikanmu. Semua itu tidak bisa aku lakukan jika kita tidak menikah. " ujar Ben tanpa ada rasa beban, seolah dia berbicara empat mata dengan Sisie. Padahal di sana ada orang tua Sisie Arsen dan Mia.


Dan ucapan Ben itu sukses membuat wajah Sisie memerah.


Arsen menepuk jidatnya mendengar ucapan sahabatnya itu, Dia tidak percaya Ben yang sudah lama melupakan wanita dan tidak pernah dekat dengan wanita akan begitu lancar membujuk seorang wanita untuk menikah dengannya.


Begitu pula Mia dan kedua orang tua Sisie, mereka bertiga hanya geleng-geleng kepala mendengarkan ucapan Ben.


"Ben maaf sebelumnya menyela. Sisie juga masih memiliki orang tua, tidak kah kau meminta ijin kepada kedua orang tua Sisie juga. " Arsen menyela rayuan Ben kepada Sisie.


"Mungkin Saja jika kedua orang tua Sisie mengijinkan kau tidak perlu membujuk Sisie untuk mau menikah denganmu. " Ejek Arsen.


Ben langsung menoleh kearah Arsen dan dilihatnya kedua orang tua Sisie yang sedang tersenyum kepadanya.


Dia jadi salah tingkah. Kenapa dia begitu ceroboh dan tidak menyadari adanya orangtua Sisie, padahal mereka sejak tadi mengobrol.


"Maafkan saya tuan Tomi dan Nyoya Helen, saya sudah mengabaikan kalian dalam hal ini. Padahal restu kalian sangat penting." ujar Ben merasa sungkan.


"Sebelumnya, saya minta maaf tuan Ben, bukannya saya tidak merestui niat baik anda. Tapi saya khawatir, Jika anda menikahi Sisie karena tanggung, saya khawatir setelah Sisie sembuh dan anda belum bisa mencintai anak saya. Saya takut anda akan mencampakkannya begitu saja. Saya tidak mau itu terjadi tuan. Pernikahan adalah ikatan yang suci. Kami tidak ingin kau mempermainkan nya hanya karena rasa tanggung jawab. Dan Sisie adalah anak saya Satu-satunya kebahagiaannya adalah prioritas kami. " ujar papa Tomi bijak.


"Saya tidak akan mempermainkan pernikahan ini, tuan. Saya akan tetap menjadikan Sisie istri saya Satu-satunya sampai kapanpun. Tidak akan ada kata perpisahan atau perceraian yang anda khawatirkan tuan. " Ujar Ben meyakinkan papa Sisie.


Arsen dan Mia saling berpandangan. Mereka benar-benar tak percaya kalau yang bicara seperti itu adalah Ben. Pasalnya mereka berdua tau siapa Ben sebenarnya.


"Boleh, mama bertanya? " Mama Helen menimpali obrolan pria beda usia itu.


"Silahkan nyonya. "


"Untuk saat ini, saya mau bertanya bagaimana perasaan anda tuan Ben, kepada anak saya. Itu saja. "

__ADS_1


"Maksudnya? " tanya Ben tak mengerti


"Bagaimana perasaanmu, saat Sisie tidak menghubungi mu dan mendengar kalau Sisie sudah memiliki seorang kekasih. "


Mendengar pertanyaan Helen, sontak semua orang menatap Mama Helen tak percaya. Pasalnya dari mana dia tahu semua itu. Lalu pandangan mereka beralih kepada Mia yang salah tingkah.


"Maaf, aku menceritakan semuanya karena tadi tante Helen mendesakku mengatakan sebenarnya apa hubungan Sisie dengan Ben. " ujar Mia sambil mengangkat tangannya membentuk huruf V.


"Bukan salah Mia, jangan menatapnya seperti itu. Memang tadi aku yang menanyakan kepadanya sebenarnya ada hubungan apa antara kalian berdua. Kenapa tuan Ben, tidak beranjak sedikitpun dari ruangan ini. Kan mama penasaran." kata mama Helen santai.


Ben mendesah kasar saat ditanya hal itu.


"Sejujurnya saya merasa kehilangan saat Sisie tidak merecoki hari-hari saya dengan pesan-pesannya yang lebay dan tidak penting itu. Karena saya sudah terbiasa mendapatkan pesan-pesan itu setiap hari selama beberapa bulan ini."


Ben menjeda kalimatnya dan menarik nafasnya dalam-dalam.


"Dan saya merasa tidak suka saat mendengar Kalau dia sudah memiliki kekasih. " jawab Ben dengan nada ketus.


Mendengar hal itu, Sisie jadi tersenyum senang. Begitupun semua orang disana tersenyum penuh arti.


Tepat saat Ben menyelesaikan ucapannya itu, terdengar pintu dibuka dengan kasar. Dan semua orang memandang kearah pintu, dilihatnya Aldo berdiri disana. Dia langsung berjalan mendekati Sisie dengan langkah lebar, dan langsung berhambur memeluk Sisie. Tanpa mengiraukan semua orang yang ada di sana.


"Sie, kamu nggak apa-apa kan? " tanya Aldo saat memeluk Sisie.


"Aku baik, Aldo. Lepasin dong aku nggak bisa nafas tau. " Sisie memukul-mukul punggung Aldo yang sedang memeluknya.


Ben yang tidak suka melihat pemandangan itupun langsung menarik tubuh Aldo dari Sisie.


"Lepas."

__ADS_1


"Apaan sih. " sinis Aldo.


"Jangan dekati dan peluk-peluk Sisie. Karena dia adalah calon istriku. Aku tidak suka pria lain menyentuhnya. "


__ADS_2