
Saat ini Arsen dan Mia sedang makan malam bersama dengan makanan yang di masak Mia. Mereka berdua makan dalam diam, dan hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang beradu.
Setelah selesai makan, Mia da Arsen duduk di balkon kamarnya, menikmati suasana malam. Arsen yang sedang sibuk memeriksa laporan yang masuk melalui emailnya, sedangkan Mia sedang memainkan game di ponselnya.
"Mas, tadi aku bertemu Ben di mall. " ucap Mia sambil terus memainkan ponselnya.
"Oohhh, dia bicara apa sama kamu? " tanya Arsen sambil masih memeriksa emailnya.
Mia mengernyitkan keningnya, karena dia pikir Arsen akan terkejut. Tapi lihat sikapnya, dia terlihat biasa-biasa saja. Bahkan terkesan tidak peduli.
"Nggak ada, dia cuma memeriksa leherku saja yang penuh tanda kepemilikanmu. " ucap Mia sambil mengerucutkan bibirnya.
"Terus apa yang dia katakan? " Arsen menutup laptopnya dan menghadap ke arah Mia.
"Dia bilang, aku bukan wanita biasa, karena sudah bisa meluluhkan hatimu yang sekeras batu. " Mia mengatakannya dengan ragu dan sesekali melihat ekspresi Arsen.
"Lalu, apa lagi yang dia katakan. "
"Aku tidak boleh berbesar kepala, dan berfikir kalau kau menyukaiku atau tertarik padaku. Mungkin saja saat ini kau hanya sedang bermain-main denganku. " Mia langsung menundukkan kepalanya setelah mengatkan itu, dia ingin mengetahui reaksi Arsen.
Arsen menggelengkan kepalanya, kenapa bisa sampai Ben mengatakan hal itu kepada Mia. Padahal tadi di kantor dia hanya bilang kalau bertemu Mia, tapi tidak mengatakan kalau dia menggertak Mia dengan kata-kata seperti itu.
Arsen menatap Mia dengan penuh arti.
"Lalu apa kau mempercayai ucapannya? "
"Entahlah, aku tidak yakin. Karena kemungkinan apa yang dikatakannya itu benar. "
Arsen mengangkat alisnya mendengar jawaban Mia.
"Jika memang apa yang dikatakan Ben itu benar apa yang akan kau lakukan? "
Sontak Mia langsung mengangkat kepalanya dan menatapa Arsen dengam tajam.
"Aku tidak peduli, bahkan jika kau hanya bermain-main saja denganku, aku tidak peduli. Aku akan tetap pada posisiku, yaitu menjadi istrimu. Dan akan mempertahankan itu. "
__ADS_1
"Kenapa kau harus bertahan disampingku yang tidak sempurna ini? "
"Entahlah, aku benar-benar tidak peduli siapa dirimu. Yang aku tahu sekarang, aku merasa nyaman berada di dekatmu. Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu padaku. Tapi yang aku tahu dan aku bisa memastikan kalau aku mungkin sudah menyukaimu.Ah, tidak... Mungkin aku sudah mencintaimu, walau aku tau kamu tidak akan pernah bisa membalas perasaanku ini. " ungkap Mia jujur sambil menundukkan kepalanya.
Arsen menggamit dagu Mia agar menatapnya, disana terukir sebuah senyuman yang tidak bisa Mia artikan. Sebuah senyuman penuh arti.
Dan tiba-tiba Arsen menempelkan bibirnya di bibir Mia. Dan menyesapnya perlahan, atas dan bawah. Mia membalas ciuman Arsen itu dengan lembut, dan mengikuti ritme permainan Arsen.
Tautan bibir mereka terlepas, dan Arsen membersihkan sisa saliva yang menempel di bibir Mia dengan ibu jarinya. Dia lalu berdiri dan mengajak Mia masuk ke dalam kamar.
"Ayo, sudah malam. Dan udara semakin dingin. "
Setelah mengunci pintu balkon Arsen duduk di pinggir ranjang, menatap Mia yang baru keluar dari kamar mandi.
"Kemarilah... "
Arsen menepuk-nepuk tempat di samping nya dan meminta Mia duduk di sana. Dia menatap Mia dengan dalam, dan kembali mendaratkan ciuman di bibir Mia. Arsen mencium Mia dengan lembut dan menuntut. Hingga ciuman itu turun ke ceruk leher Mia. Menghisapnya lembut dan meninggalkan bekas merah disana.
"Mas, kalau kau terus membuat tanda itu, aku bisa malu. Bagaimana aku menutupinya. " protes Mia ditengah cumbuan Arsen yang menginginkan lebih dari ini.
Arsen menyeringai mendengarkan ucapan Mia.
Mia tertegun mendengarkan ucapan Arsen. Sebuah Fakta yang dia lupa, kalau pernikahannya kemarin juga di adakaan secara besar-besaran. Jadi dia tidak perlu lagi menyembunyikan statusnya.
Arsen yang melihat Mia tengah berfikir, langsung membuka kaos yang dipakai Mia dan kini terlihat lagi kacamata hitam yang menutupi kedua squishy milik Mia. Perlahan Arsen membuka kaca mata itu dan mulai memainkan squishy nya. Sebuah mainan yang akan menjadi mainan favoritnya sekarang.
Arsen mengabsen setiap inci tubuh Mia tanpa terlewatkan satu pun. Dan Mia hanya bisa menikmati apa yang Arsen lakukan kepada, sebelum penyatuan kedua mereka terjadi.
Lenguhan panjang Arsen menandakan kalau Arsen telah mengakhiri malam panas kedua mereka. Entahlah, menyentuh tubuh Mia seolah sudah menjadi candu untuknya. Karena itu, Arsen tidak akan melepaskan Mia begitu saja. Itulah janji yang Arsen ucapkan saat penyatuan kedua mereka terjadi.
Arsen ambruk disamping tubuh Mia, dia mendekap tubuh ramping itu dengan posesif. Mia yang masih mengatur nafasnya pun membalas dekapan Arsen dan menelusupkan kepalanya didada bidang Arsen.
"Mia... aku tidak akan melepaskanmu. " Gumam Arsen sebelum memejamkan matanya.
Mia yang belum tidur itupun mendengar gumaman yang keluar dari mulut Arsen. Dan senyumannya langsung merekah mendengar semua itu.
__ADS_1
"Aku juga tidak akan melepaskanmu mas, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku. " Mia menguatkan tekadnya sebelum dia juga ikut terlelap dipelukan Arsen.
"Aku mencintaimu, mas Arsen. " gumam Mia sebelum dia juga mengarungi lautan mimpi bersmaa Arsen.
*
*
Apartemen Meisie.
Malam ini Sisie tidak bisa tidur, entah apa yang sedang dia pikirkan. Tubuhnya berguling ke sana kemari dan tak beraturan.
"Gini nih, kalau anak gadis nggak punya cowok. Tiap malem dirumah aja nggak kemana-mana. " Keluhanya
"Mia ngapain ya? masih bangun apa udah tidur? apa lagi di iya-iya sama suaminya? " pikiran Mesum Sisie sedang membayangkan sahabatnya itu.
"Bodo amat Mia, lu udah bisa enak-enakan sama suami lu. lha gue.... " Sisie terus bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Gue mau ngejar cinta gue.... "
Sisie langsung mengambil ponselnya dan mengambil sebuah kartu nama di dompetnya. Sebuah kartu nama dengan nama yang terkesan angkuh di sana.
"Ben Adam. Aku akan mengejarmu. "
Tanpa pikir panjang Sisie mengetikkan nomor ponsel Ben dan menyimpannya ke dalam kontak telponnya.
Dia lalu memencet tombol hijau dan menuliskan sebuah pesan untuk kontak yang bernama Ben.
"Selamat Malam Tuan Ben? " Sapa Sisie melalui pesan singkatnya,
Dia lalu kembali berbaring dan berguling-guling, diatas tempat tidurnya. Sambil sesekali memeriksa notifikasi pesan yang masuk. Tapi ternyata dia tidak mendapatkan balasan bahkan sampai satu jam menunggu.
Sisie menyerah, dan meletakkan ponselnya diatas nakas. Kemudisn dia memutuskan untuk tidur karena rasa kantuk itu sudah datang.
Saat Sisie terlelap, ada sebuah notif pesan yang masuk.
__ADS_1
"Selamat Malam, maaf dengan siapa?
Pesan itu tidak terbalas karena si pemilik ponsel sudah terlelap.