
Arsen dan Mia sudah berada di kamar seperti biasa. Mereka selalu masuk ke kamar setelah makan malam. Dan tugas untuk mengunci semua pintu adalah tugas Bi Mar.
Saat ini mereka berdua sedang duduk bersandar di kepala ranjang, dengan posisi Arsen berada di belakang Mia sambil memeluk Mia dan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya itu.
"Katakan padaku, bagaimana perasaanmu saat ada seorang wanita yang mengaku menjadi calon istriku. " tanya Arsen pada akhirnya setelah lama saling terdiam dan hanya berpelukan. .
"Aku tidak percaya. " jawab Mia singkat.
"Kenapa? " tanya Arsen lagi sambil mengangkat alisnya.
"Karena kau adalah gay, yang tidak suka kepada seorang wanita. Bahkan kau menikahiku saja awalnya karena perjanjian kontrak. Jika tidak, mungkin kau tidak akan menikah dengan wanita manapun tuan Arsen. " jawab Mia dengan percaya diri dan senyuman yang terkembang.
Mendengar jawaban Mia membuat Arsen tersenyum, ternyata istrinya ini masih menganggap dirinya seorang gay.
"Aku akan mengatakan sebuah rahasia padamu, " kata Arsen sambil mengusap pipi Mia dengan jarinya.
"Rahasia? Rahasia apa? " tanya Mia penasaran.
"Bagaimana kalau aku ini pria normal. " tanya Arsen balik.
Mia mengerutkan keningnya, seolah tak percaya dengan ucapan Arsen.
"Jangan bercanda, mas. Dari awal kau mengatakan padaku kalau kau seorang gay. Bahkankah kau yang membuat perjanjian aneh itu. Apa kau ingat? " Mia kembali bertanya.
'Yang mana? "
"Kita hanya akan menikah, tanpa adanya sentuhan fisik. " Mia mengingatkan salah satu poin dalam surat perjanjian yang sudah tidak berlaku itu.
"Oh, itu... " Arsen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sudah ingatkan? kau yang membuat perjanjian itu tapi kau juga yang membatalkannya. Dan setelah merasakan tubuhku, kau bilang kalau aku ini... can... du... " Mia menutup mulutnya setelah mengulang ucapan Arsen waktu itu.
Dan apa artinya ini....
"Mas.... kau benar-benar normal? Kau bukan seorang gay? Benarkah itu? " Mia memberondong Arsen dengan berbagai pertanyaan sambil berbalik menatap Arsen yang berada di belakangnya dengan tidak percaya.
"Mas.. Jawab... "
Mia mengguncang-guncangkan bahu Arsen dengan kencang. Kini posisi mereka berdua sudah saling berhadapan dengan Mia yang duduk di paha Arsen.
__ADS_1
Arsen tak bergeming dan hanya menggedikkan bahunya.
"Mas..."
Mia masih berusaha mendapatkan jawaban dari Arsen.
"Tadi aku bilang apa, Mia sayang. Kau saja yang tidak percaya padaku. " Jawab Arsen acuh.
"Mas... " Mia langsung memeluk tubuh Arsen dan memberikan kecupan bertubi-tubi diwajah suaminya itu.
"Aku bahagia... Aku bahagia karena ternyata suamiku adalah seorang pria normal. Terima kasih. " kata Mia dengan air mata yang sudah menetes dipipinya.
"Kenapa kau cengeng sekali sih. " kata Arsen sambil mengusap air mata mia dengan ibu jarinya.
"Ini tangis bahagia, mas."
"Apa kau sangat bahagia saat tahu kalau aku pria normal? " tanya Arsen menyelidik.
"Iya, tentu saja aku bahagia karena kau pria normal. Tapi walau kau seorang gay sekalipun aku akan tetap bahagia, karena aku mencintaimu apa adanya. Bagaimanapun keadaanmu dan siapapun dirimu aku tetap mencintaimu. " ucap Mia sambil berhambur di pelukan Arsen.
"Lalu Ben itu? apakah dia benar kekasihmu? atau hanya pura-pura juga?" Tanya Mia setelah melepaskan pelukannya.
"Ben, dia adalah rekan bisnis ku. Kami menjadi seorang sahabat sejak empat tahun yang lalu. Dia adalah seorang gay betulan bukan gay Jadi-jadian seperti aku. Dialah yang mengajakku menjadi pasangannya, untuk menjauhi wanita. Karena saat itu aku masih merasa sakit hati dengan mantan yang tadi pagi kemari. "
Arsen menghembuskan nafasnya, dia lalu menceritakan tentangnya yang terpuruk dan akhirnya bertemu dengan Ben saat menghadiri pertemuan di Bali. Dan saat itu Ben melihatnya tengah bertengkar dengan seorang wanita. Ben melihat tatapan benci, marah dan rindu secara bersamaan di mata Arsen.
Kemudian Ben mendekati Arsen yang sedang terpuruk, dengan menawarkan kerja sama dan sebuah kesepakatan berdua.
"Aku pikir tidak ada salahnya aku bergaul dengan kehidupan para golongan yang menyimpang. Aku pikir papa dan mama tidak tahu, tapi siapa sangka ternyata mata dan telinga mama ada di mana-mana. Dan kamu tahulah apa yang terjadi. "
Mia mengangguk-anggukan kepala nya mengerti. Lalu sedetik kemudian Mia memeluk Arsen dan bersandar di dada bidang suaminya itu. Tapi sedetik kemudian dia menegakkan tubuhnya lagi.
"Jadi... di malam pengantin kita. Bagaimana perasaanmu saat melihatku berganti pakaian di hadapanmu. " tanya Mia malu-malu.
"Oh... rasanya membuatku tidak bisa tidur semalaman, sayang. " kata Arsen sambil mendorong tubuh istrinya kebelakang sampai Mia terjatuh diatas kasur. Lalu Arsen menindih tubuh Mia yang sedikit berisi.
"Sekarang aku harus membalasmu. "
Arsen lalu menggelitik perut Mia sampai dia tertawa terpingkal.
__ADS_1
"Ampun, mas. "
Arsen tidak melepaskan Mia malam ini, dan entah bagaimana caranya Arsen sudah melucuti pakaian istrinya itu, sampai teronggok dibawah ranjang mereka. Dan akhirnya Arsen melakukannya lagi dengan Mia, untuk yang kesekian kalinya. Benar kata Mia tadi, kalau tubuhnya sudah menjadi candu untuk suaminya.
Setelah malakukan pergulatan malam ini, Mia dan Arsen lalu tertawa bersama. Entah kebahagiaan apa yang sedang mereka rasakan saat ini, tapi itu semua sukses membuat pasangan suami istri itu merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Terima kasih kau telah berbagi rahasiamu denganku, mas. Aku bahagia sungguh bahagia. "
Arsen hanya tersenyum mendengarkan celotehan istrinya itu.
"Jadi, sekarang apakah Ben sudah tau tentang hubungan kita? " tanya Mia kemudian.
"Tahu, dia yang pertama tahu kalau aku akan jatuh cinta kepadamu. "
"Tapi, kenapa dia menggertak ku waktu bertemu di mall? "
"Dia sedang mengujimu saja. Apakah nyalimu ciut atau besar. " kata Arsen menjelaskan maksud Ben menggertak nya.
"Semoga Ben bisa menemukan jodohnya, dan semoga dia bisa kembali normal. " Gumam Mia yang masih bisa didengar Arsen.
"Memang kenapa? kalau ben kembali normal? " tanya Arsen curiga.
"Kasihan dia, Ben seorang pria yang sangat tampan seperti mu. Dan banyak yang menyukai nya? " kata Mia tanpa sadar memuji pria lain di hadapan suaminya
"Maksudmu? "
Mia memukuli bibirnya karena sudah sembarangan bicara.
"Mia, katakan padaku apa maksud ucapan mu. Mengatakan Ben tampan dan banyak yang menyukainya, apakah kau salah satu wanita yang menyukai Ben? " tanya Arsen penuh intimidasi.
"Bu... bukan, untuk apa aku menyukai Ben. Sedangkan suamiku sendiri lebih tampan dari Ben. " sanggah Mia.
Arsen tersenyum tipis saat Mia mengatakan itu.
"Lalu? Siapa yang menyukai Ben? Dan dari mana kau tahu kalau ada yang menyukai Ben? " Arsen memberondong Mia dengan beberapa pertanyaan.
"Sisie.... Sahabatku itu menyukai Ben. Dan dia terang-terangan mengatakan kalau dia mencintai Ben sejak pandangan pertama. Kini dia sedang mencoba mendekati Ben dengan menerornya dengan beberapa pesan tidak penting. "
"Apa? Jadi yang meneror Ben selama ini, adalah sahabat mu? Sisie? "
__ADS_1