Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Hadiah Pernikahan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, dan hari ini adalah hari dimana Ben memboyong Sisie pulang dari rumah sakit, karena menurut dokter keadaan Sisie sudah mulai membaik. Hanya tinggal pemulihan pasca operasi saja. Hubungan keduanya juga sudah sangat dekat, itu terbukti kalau Sisie dan Ben sudah tidak ada kecanggungan lagi.


Sisie yang awalnya malu saat Ben akan mengantarnya ke kamar mandi kini mulai terbiasa. Saat Sisie merasa malu, Ben selalu mengatakan kalau aku adalah suamimu, jangan pernah merasa malu. Kita sudah halal luar dalam.


Dan Sisie yang selalu mendapatkan ucapan seperti itu, awalnya menebalkan muka kepada Ben.Tapi lama kelamaan dia sudah terbiasa. Hingga sampai saat ini, saat mereka mau pulang, Sisie selalu ditemani Ben.


Arsen dan Mia tak mau ketinggalan karena Mia selalu merengek ingin ikut mengantar Sisie pulang ke rumahnya. Selain itu, jiwa kepo Mia meronta-ronta, dia sangat ingin tahu rumah yang akan ditempati Sisie dan suaminya.


Saat ini Sisie dan Mia sudah berada di satu mobil yang sama, mereka akan menuju rumah Ben. Namun yang membuat Mia dan Sisie bingung, mobil yang mereka kendarai menuju perumahan rumah Mia dan Arsen.


"Mas, kita kok kesini. Bukannya kita mau ke rumah Sisie dan Ben ya. " tanya Mia yang sudah tidak bisa menahan rasa penasaran nya.


Ben dan Arsen saling berpandangan lalu mereka tersenyum bersama.


"Hei, kalian. ingat ya, kalian sudah punya istri. awas saja kalau penyakit lama kalian kambuh lagi, akan aku potong lontong kalian. " kata Sisie saat Arsen dan Ben saling melemparkan senyuman.


Ben dan Arsen langsung bergidik mendengar ancaman Sisie. Sedangkan Mia hanya cengat-cengir.


"Apaan sih, Sie. Ancamanmu sangat menakutkan. ularku masih belum bertemu colokannya. " ujar Ben kembali fokus ke jalan.


Tepat didepan rumah Arsen dan Mia mobil mereka berhenti dan berbelok ke rumah yang tepat berada di depan rumah mereka.


"Lho.... ini kan... " Mia mereasa bingung begitu juga dengan Sisie.


"Ayo turun. " ajak Arsen.


Ben mengeluarkan kursi roda dan membantu Sisie duduk di kursi roda.


Arsen segera menggandeng tangan Mia dan mengikuti Sisie dan Ben masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah sudah ada dua asisten rumah tangga yang menyambut mereka.


Selamat datang di rumah kita, Sie. " ujar Ben kemudian menjawab semua kebingungan Sisie dan Mia.


"Mas... Jadi..." Mia menoleh kearah suaminya.


Arsen hanya memberi anggukan kepala kepadanya.


"By, jadi kita akan tinggal di sini? bertetangga dengan Mia dan Arsen? " tanya Sisie yang juga bingung dengan keadaan saat ini.

__ADS_1


"Iya.. apa kau suka? " tanya Ben kepada istrinya itu.


Sisie langsung memeluk pinggang suaminya berada tepat di hadapannya. Tentu saja posisi seperti itu membuat Ben salah tingkah.


"Terima kasih, By... aku bahagia. Aku bisa dekat dengan sahabatku."


"Tentu saja, tapi apa kau bisa melepaskan pelukanmu ini, rasanya membuatku tidak nyaman."


Sisie yang mendengar permintaan suaminya langsung tersadar apa yang dia lakukan dan apa yang dia peluk.


"Maaf... " kata Sisie dengan wajah yang sudah memerah.


Ben lalu menuju sebuah ruangan, tak lama dia keluar dan membawa sebuah berkas di tangannya.


Arsen dan Mia hanya memperhatikan apa yang dilakukan mereka berdua. Mia juga memperhatikan interior ruangan yang sedikit berbeda dengan rumahnya.


"Ini untukmu, sebagai hadiah pernikahan kita. " kata Ben sambil menyerahkan sebuah berkas sertifikat kepada istrinya.


"Ini.... "


"Iya, ini adalah sertifikat rumah ini. Rumah ini ku hadiahkan kepadamu. " ujar Ben menjelaskan.


"Iya, sebenarnya aku tidak punya rumah di kota ini. Aku tinggal di apartemen selama ini. Jadi menurutku ada baiknya kita membeli rumah, untuk tempat tinggal saat berumah tangga. Dan aku meminta tolong Arsen untuk mencarikan rumah disekitar rumahnya, agar jika kau dan Mia ingin bertemu tidak membutuhkan waktu lama dalam perjalanan. Dan kebetulan sekali, rumah ini dijual beberapa hari yang lalu. Aku langsung meminta asistenku untuk mengurus semuanya. "


Sisie tak bisa berkata-kata lagi mendengarkan penjelasan dari Ben. Dia tidak menyangka akan mendapatkan hadiah rumah dari suaminya.


Bangunan rumah ini memang lebih besar dari rumah Mia, mungkin karena orangnya dulu menyukai rumah yang besar. Berbeda dengan rumah Mia yang bangunan nya tidak terlalu besar tapi nyaman, karena sejak awal Mia mengatakan Arsen tidak suka banyak ruangan di rumahnya.


"Terima kasih, aku sangat menyukai hadiahnya. "


"Aku senang jika kau senang. Untuk sementara kamar kita ada dilantai bawah sampai kakimu sembuh. Jika kakimu sudah sembuh kamar kita ada di lantai atas. "


Mia dan Arsen memperhatikan interaksi mereka berdua, dan tanpa terasa Mia merebahkan kepalanya di bahu sang suami. Mereka tidak menyangka kalau Ben bisa juga romantis seperti pria normal lainnya.


"Tunggu... Pria normal??? '


"Tuan Ben. Kau normal apa belok sebenarnya?" pertanyaan itu behasil lolos dari mulut Mia.

__ADS_1


Semua orang langsung memandang ke arah Mia. Tidak mengerti apa maksud Mia sebenarnya.


"Apa maksudmu, sayang? " Arsen yang bertanya.


"Aku jadi berfikir apakah pria belok bisa melakukan hal semanis ini? Kalau suamiku aku yakin seratus persen, karena dia mengaku kepadaku kalau dia adalah pria normal yang berpura-pura belok. Benarkan, sayang? Apa lagi buktinya adalah dua junior di perutku. " ucap Mia sambil mengusap perutnya.


Ben jadi salah tingkah saat ditanya hal itu, karena dia sebenarnya bingung dengan dirinya sendiri. Apakah dia normal apa belok. Entahlah.


Dia memiliki perasaan cemburu kepada Sisie, saat berdekatan dengan pria lain. Tapi disatu sisi ada sesuatu yang menghalanginya, untuk berkata jujur kepada Sisie.


"Kau bisa buktikan apakah kau belok apa tidak nanti saat Sisie sudah sembuh. " ujar Arsen menjawab kebingungan Ben.


"Caranya? " tanya Ben polos.


Mia dan Sisie juga memperhatikan apa yang akan Arsen katakan, untuk membuktikan Ben normal atau belok.


"Kau harus melihat tubuh polos Sisie. Jika juniormu bereaksi maka itu artinya kau normal Ben. Dan jika kau sudah menikmatinya dan merasa ketagihan, Beuh itu apa lagi. " kata Arsen frontal.


Mia dan Sisie sontak membelakakkan matanya mendengar cara yang di berikan Arsen. Benar-benar mulut tak berfilter. Mia langsung menghadiahkan pukulan bertubi-tubi kepada suaminya, dan Arsen hanya tertawa mendapatkan serangan dari istrinya.


Sedangkan Ben menatap Sisie dengan intens. Pasalnya dia tidak pernah memikirkan hal itu. Sisie selalu memintanya keluar saat dia akan mandi dan buang air. Jadi dia tidak pernah melihat lekuk tubuh istrinya tanpa sehelai benang. Mungkin, Cara yang dikatakan Arsen bisa dicoba nanti, untuk memastikan dirinya normal atau tidak.


Ben langsung memasang senyuman penuh arti kepada Sisie.


Sisie yang menyadari tatapan suaminya itu langsung memberikan antisipasi.


"By, jangan macam-macam. Aku masih sakit. " ujar nya sambil menyilangkan tangannya di depan dada.


Sontak ucapan Sisie membuat semua orang tertawa.


"Apa yang kau pikirkan? " Ben menyentil kening Sisie.


Sisie jadi salah tingkah dengan apa yang sudah dis katakan tadi.


"Sudah... sudah... Ben, Sie. AKu dan Mia pamit dulu. Mia sudah waktunya istirahat. Jika kalian mau bertamu dirumah kami, pintu rumah kami terbuka untuk kalian. "


Arsen lalu mengajak istrinya untuk bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada tuan rumah untuk pulang.

__ADS_1


"Setelah kami pulang kalian bisa melakukan apa yang tadi aku sarankan." ujar Arsen dengan nada mengejek dan berlalu dari hadapan mereka.


Benar-benar pasangan tidak ada akhlak.


__ADS_2