Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Rencana Pernikahan


__ADS_3

"Jangan dekati dan peluk-peluk Sisie. Karena dia adalah calon istriku. Aku tidak suka pria lain menyentuhnya. " ucap Ben sambil mendorong tubuh Aldo menjauhi Sisie


Semua orang lagi-lagi tercengang dengan ucapan Ben, yang langsung mengklaim kalau Sisie adalah miliknya. Sedangkan Aldo yang tidak tahu apa-apa hanya seperti orang bodoh.


"Sie, bisa jelaskan siapa pria ini? Kenapa dia ngaku-ngaku calon suamimu? " tanya Aldo meminta penjelasan kepada Sisie.


Sisie hanya menghembuskan nafasnya kasar. Dia tidak tau apa yang harus dia katakan. Dan yang paling mengesankan adalah sikap posesif Ben, yang tidak ingin Sisie disentuh oleh Aldo.


Mama Helen akhirnya berdiri untuk melerai kedua pria yang sedang bersitegang itu, dan mendekati Aldo.


"Aldo, perkenalkan dia adalah Tuan Ben. Kekasih Sisie. Mereka akan menikah besok. "


"Apa?" ucap semua orang bersamaan.


"Maksud mama apa aku menikah besok?" tanya Sisie.


"Papa tidak ingat, kalau besok lusa kita harus ke Jepang. Kalau mereka tidak segera menikah, lalu siapa yang akan menjaga Sisie, pa." ujar mama Helen mengingatkan.


Papa Tomi langsung menepuk keningnya karena dia lupa akan hal itu. Itulah kenapa, Pentingnya Istri nya ikut kemanapun dia pergi. Karena semua sudah terjadwal oleh istrinya. Jadi jika tidak ada istrinya, maka papa Tomi tidak bisa apa-apa.


"Jadi bener, pria ini calon suami Sisie? " Tanya Aldo lagi tak percaya.


"Iya, sayang." jawab mama Helen santai.


Ben mengernyit saat mendengar mama Helen memanggil Aldo dengan sebutan sayang.


"Maaf tante, memangnya siapa pria ini? '


"Oohhh, dia Aldo. Teman dekat Sisie dan Mia. "


Mendengar itu, Ben langsung melotot dan menatap tajam Arsen yang langsung bersembunyi di belakang istri nya yang pura-pura polos.


"Sial... ternyata aku masuk jebakan pasangan laknat ini. " gumam Ben dalam hati.


"Jadi, persiapkan dirimu besok, tuan Ben. Kita akan menikahkan mu disini, besok. Pernikahan sederhana dulu. Nanti kalau Sisie sudah sembuh kami akan mengadakan resepsi pernikahan kalian. Papa dan mama akan mengaturnya nanti, dan mulai mengurangi aktivitas kami diluar kota. " ujar mama Helen dengan penuh semangat.


Papa Tomi langsung berjalan mendekati Ben yang sepertinya mulai sedikit goyah.


"Ingat tuan Ben, seorang pria sejati itu yang di pegang adalah ucapannya. Dan kami semua disini adalah saksi semua ucapanmu tadi. " ujar papa Tomi sambil menepuk-nepuk bahu, Ben.


Aldo lagi-lagi berjalan mendekati Sisie. Dan langsung memeluknya lagi.


"Sie aku nggak nyangka kalau kamu akan menikah secepat ini, Mia sudah nikah, sekarang kamu juga akan nikah. Aku kesepian dong. " Keluh Aldo dipelukan Sisie.

__ADS_1


Ben yang melihat itu lagi-lagi merasa tidak suka, Dia langsung menjauhkan tubuh Aldo dari Sisie seperti tadi.


"Sudah kubilang jangan sentuh Sisi , Aku tidak suka calon istriku disentuh orang lain . " ucap Ben dengan sedikit membentak Aldo.


Mendengar itu semua orang , hanya menggelengkan kepalanya . Bahkan Baru kali ini Arsen tau kalau Ben memiliki sifat posesif terhadap pasangannya.


Aldo berdecih setelah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ben .


"Lihatlah Sie belum-belum calon suamimu ini sangat posesif kepadamu , Bagaimana kalau kalian sudah menikah mungkin aku tidak akan memiliki kesempatan untuk dekat denganmu . Sama seperti Mia dan suaminya . Kenapa kalian berdua memiliki suami yang sangat posesif seperti ini ." Keluh Aldo


Sisi dan kedua orangnya terkekeh mendengar keluhan dari Aldo . Benar apa yang dia lihat , belum-belum Ben sudah bersikap posesif kepadanya, dan Sisie sangat menyukai hal itu. Dia tidak perlu mengejar Ben lagi , karena Ben sudah mengklaim dirinya sebagai istrinya.


Mereka semua yang ada di sana duduk bersama , untuk membahas pernikahan Ben dan Sisi besok . Aldo duduk bersama kedua orang tua Sisi , Ben duduk bersama Arsen, sedangkan Mia duduk didekat Sisie.


"Jadi bagaimana nak Ben , apakah kamu bersedia menikah dengan Sisi besok ." Tanya papa Tomi meyakinkan .


"Jika kalian ingin aku menikah besok , tidak apa-apa . Aku bisa dia menikah besok. Dan aku akan meminta asistenku untuk mengurus berkas pernikahan hari ini juga. " ujar Ben dengan yakin.


"Lalu Bagaimana dengan keluargamu , Apakah mereka akan datang ? " Tanya papa Ben lagi .


"Tidak perlu tuan , Saya dari pihak laki-laki tidak perlu membawa Wali . Nanti saat resepsi saja saya akan mengundang semua keluarga besar saya . Karena saat ini Mamah dan Papa juga masih berada di Jerman , tidak mungkin jika mereka akan datang . Aku hanya akan mengatakannya lewat telepon . Atau besok kita bisa melakukan video call saat prosesi akad ." Kata Ben dengan penuh keyakinan .


"Baiklah kalau begitu , kami percaya kepadamu ."


"Oke tentu saja, aku dan istriku tidak akan melewatkan ini. Benar kan sayang? " Arsen melemparkan pertanyaan kepada Mia istrinya.


"Tentu saja, sayang. Aku tidak akan melewatkan pernikahan sahabat baikku ini. " ujar Mia sambil memeluk sahabatnya ini.


"Hei, kalian aku kan juga sahabat kalian. Tapi aku tidak boleh ikut bergabung seperti itu dengan kalian. Suami kalian sangat jahat. " Ucap Aldo sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bukan mahram, bodoh. " kata Arsen dan Ben bersamaan.


Semua yang ada disana tertawa mendengar perdebatan ketiga pria itu.


Arsen lalu mendekati istrinya, dan mengajaknya pulang. Mia yang enggan pergi dari sana, akhirnya menurut juga setelah mendapatkan nasehat dari Helen.


"Besok aku kesini lagi, ya Sie. Jaga kesehatanmu, biar cepet sembuh." pamit Mia


"Iya, bumil. Kamu juga harus banyak istirahat agar kedua keponakanku sehat-sehat disini. " ucao Sisie sambil mengusap perut Sisie yang sudah sedikit membuncit.


Mereka berdua lalu meninggalkan ruangan VVIP itu setelah berpamitan kepada semua orang. Dengan senyum lebar Mia masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Arsen.


"Apa kau senang, sahabatmu jadi menikah dengan Ben? " tanya Arsen.

__ADS_1


"Iya, aku senang. Akhirnya perjuangan Sisie mendapatkan pujaan hatinya tidak sia-sia, walau dia harus mempertaruhkan nyawanya untuk mengejar cintanya. " kata Mia dengan mata berbinar.


"Aku rasa, Sisie itu bodoh sayang. Kenapa dia sampai seperti itu hanya demi seorang Ben yang gay. "


"Itulah yang disebut cinta itu buta, mas. Aku harap Ben bisa sembuh setelah menikah dengan Sisie dan menemukan colokan yang pas untuk ularnya." Mereka berdua lalu tertawa lepas di dalam mobil, membicarakan kedua sahabat mereka.


Lalu tiba-tiba mereka terdiam.


"Mas, sepertinya ada yang terlupa. "


"Apa ya? "


Mereka berdua berfikir keras selama perjalanan mengingat apa yang terlupa. Hingga Mia melihat toko perlengkapan bayi di pinggir jalan.


"Mas, Mama.... kita belum mengabari mama dan papa tentang jumlah bayi kita. "


"Kau benar, segera hubungi mama dan papa , sayang. " kata Arsen.


Mia segera mengambil ponselnya dan menghubungi mama Rima.


Pada panggilan pertama, telpon langsung di angkat.


"Ada apa sayang? " tanya mama Rima.


"Ma, kami dari dokter kandungan tadi. "


"Benarkah? Lalu bagaimana hasilnya sayang. "


"Ada dua bayi ma. " kata Mia sambil tersenyum kearah suaminya.


"Benarkah? Syukurlah sayang. Nanti akan mama sampaikan kabar gembira ini kepada papa kalian." ujar mama Rima yang merasa sangat bahagia setelah mendengarkan kabar gembira ini dari menantunya itu.


"Iya ma, saat ini kami masih berada di perjalanan mau pulang. "


"Baiklah, sampai dirumah cepat istirahat sayang. jangan terlalu lelah. Mama sudah mengatakan kepada Bi Mar, untuk menjagamu dengan baik selama kehamilan. "


"Terima kasih ma... Mama memang yang tebaik. "


"Sama-sama sayang. Sampaikan salam mama kepada suamimu ya. "


"Siap ma. "


Tak perlu disampaikan karena Arsen sudah mendengar semua percakapan mereka.

__ADS_1


Setelah panggilan terputus Arsen langsung menggenggam erat tangan Mia dan mencium nya berkali-kali, dengan mengucapkan terima kasih kepada istrinya itu.


__ADS_2