
Waktu berjalan cepat sekali, tetapi Tian tetap pada pendiriannya dengan tidak tinggal di rumah Rani. Ia hanya datang pagi untuk mengecek kondisinya setelah itu pulang dan sore datang lagi setelah itu pulang.
Hingga pada akhirnya Rani mensiasati sikap Tian ini. Pada waktu libur kantor, Rani tiba-tiba datang ke rumah Tian dan Cantika. Hal ini membuat kaget Cantika.
"Rani, untuk apa kamu datang kemari?" tanya Tian tak suka melihat kedatangannya.
"Mas, aku takut tinggal di rumah sendirian makanya aku berniat ingin tinggal di sini bersama kalian berdua," ucap Rani memelas.
"Cantika, boleh ya aku tinggal di sini bersamamu?" tanya Rani menatap memelas pada Cantika.
Cantika diam saja, akan tetapi di dalam hatinya ia tak suka dengan niat Rani.
"Bagaimana ini, aku padahal sama sekali tak ingin tinggal satu atap dengannya? tapi melihat wajahnya yang kusam dan terlihat sekali sedang menahan rasa sakit, aku kok ya tak tega," batin Cantika mulai resah dan gelisah.
"Cantika, jika kamu tak ingin Rani tinggal di sini ya nggak apa-apa," ucap Tian mengagetkan lamunannya.
"Mas, kok kamu seperti itu? apa kamu tega jika terjadi apa-apa padaku sementara di rumah hanya ada asisten rumah tangga saja," protes Rani pasang wajah sedih.
"Rani, aku akan selalu datang ke rumahmu. Dan lagi pula, ada dua asisten rumah tangga yang satu kan sudah aku khususkan menjaga dirimu, jadi tak usah khawatir jika terjadi apa-apa padamu. Lagi pula kenapa kamu selalu berkata buruk tentang kondisi dirimu?"
"Selalu saja kamu negatif thinking, seharusnya kamu itu berpikiran positif supaya benar-benar di sembuhkan oleh Allah."
Mendengar apa yang di katakan oleh Tian, semakin membuat hati Rani kesal tetapi ia mencoba untuk tidak terpancing emosi.
"Mas, biarlah Mba Rani tinggal di sini. Kasihan juga jika ia itu tinggal sendirian di rumahnya apa lagi ia dalam kondisi sakit," ucap Cantika.
"Sayang, apa kamu yakin? bukankah kamu sudah pernah berkata jika tak ingin tinggal satu atap dengan Rani?" tanya Tian tak percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh Cantika.
"Memang awalnya aku tak ingin tinggal satu atap dengan Mba Rani. Tapi saat aku melihat sendiri kondisinya ini, aku menjadi tak tega. Kan di sini kita bisa saling menjaga satu sama lain," ucap Cantika mencoba tersenyum walaupun sebenarnya berat baginya jika tinggal satu atap dengan istri sah suaminya.
__ADS_1
"Cantika, terima kasih ya. Kamu benar-benar wanita yang sangat baik, pantas saja Mas Tian memilih dirimu." Ucap Rani seraya tiba-tiba menggenggam jemari tangan Cantika.
"Lihat saja, Cantika. Aku sengaja masuk rumah ini karena ingin supaya aksiku berjalan sempurna dan lancar," batin Rani.
"Ya Allah, kenapa aku merasa tatapan mata Mba Rani begitu dendam padaku ya? apa aku telah salah dalam mengambil sebuah keputusan? tapi aku sudah terlanjur mengizinkan ia tinggal di sini. Perasaanku kok tak enak seperti ini ya?" batin Cantika menatap ada niat jahat pada mata Rani.
Tian juga meragukan sikap Rani, karena ia tahu betul bagaimana itu Rani.
"Aku tidak boleh lengah, harus benar-benar menjaga Cantika. Karena aku tak ingin Rani kelak menyakitinya. Untuk apa pula Cantika tiba-tiba mengizinkan Rani tinggal di sini? padahal sudah bagus ia tetap tinggal di rumahnya.
"Rani, kamu menempati kamar tamu ya? karena kamar utama di tempati akundan Cantika," ucap Tian.
"Iya, mas. Dimana pun aku tidur aku nggak akan protes. Yang terpenting bisa ada di sampingmu saja itu telah membuatku bahagia di sisa umurku ini," kembali lagi Rani berakying menangis.
Sejak saat itu, Rani tinggal di rumah yang di tempati Tian dan Cantika. Un beberapa hari awalnya memang tidak terjadi apapun. Semuanya lancar saja, tetapi hari berikutnya terjadi hal yang tak diinginkan oleh Cantika.
"Mas Tiannn.....cepat kemari mas,"
Teriakan Rani benar-benar membangunkan orang yang ada di rumah itu karena suara lantangnya.
"Mas Tian, sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Mba Rani. Sebaliknya kamu tengok dulu, mas," saran Cantika.
Hingga pada akhirnya, Tian bangkit dari ranjangnya dan melangkah ke kamar tamu untuk melihat kondisi Rani.
"Ada apa, Rani?" tanya Tian seraya mengusap matanya yang masih mengantuk.
"Mas, tolong kepalaku sakit sekali."
"Minumlah obatnya, biar sakit kepalamu reda," saran Tian.
__ADS_1
"Aku lupa, mas. Jika obat telah habis," ucap Rani seraya terus menyenderkan kepalanya di dinding seraya matanya tertutup seolah benar-benar merasakan sakit kepala.
"Ya sudah besok aku yang belikan, sekarang tidurlah biar aku temani dari sini," ucap Tian masih dengan berdiri agak jauh dari pandangan Rani.
"Mas, aku sudah minta mamah yang membelikannya. Tolong pijitin sebentar kepalaku ini," pinta Rani memelas.
Hingga dengan sangat terpaksa Tian mau menuruti kemauan Rani. Ia melangkah perlahan menuju ke tepi ranjang. Dan gerak cepat Rani memeluk Tian erat sekali membuat Tian tak bisa berkutik.
"Rani, tolong jangan seperti ini. Aku akan tetap memijit kepalamu tapi tidak seperti ini caranya," ucap Tian seraya memijat kepala Rani yang trus saja memeluk dirinya.
Sementara Cantika merasa curiga, kenapa juga Toan begitu lama ada di kamar, Rani. Hingga pada akhirnya ia melangkah keluar dari kamarnya dan ia begitu cemburu dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Ya Allah, apa aku bisa kuat? belum ada satu hari saja aku sudah terbakar cemburu seperti ini. Apakah Mas Tian masih ada rasa cinta pada Rani? dia begitu mesra seperti itu. Pantas saja ia enggan menceraikan Rani, dengan dalih macam-macam."
Cantika berlalu pergi dari depan pintu kamar tamu yang di tempati oleh Rani, karena tak melihat jalan, ia menjatuhkan vas bunga yang ada tepat di atas almari samping dekat pintu kamar tamu tersebut.
PRANG!!
Sontak Tian dan Rani terhenyak kaget, mereka lekas melangkah keluar, dan mendapati Cantika sibuk sedang membersihkan vas bunga yang tak sengaja ia pecahkan karena tersenggol tangan.
"Sayang, kamu sedang apa di sini?" tanya Tian jongkok ikut membersihkan kekacauan tersebut.
"Nggak sedang apa-apa kok, mas. Hanya saja bosan di dalam kamar jadi aku keluar sekedar jalan-jalan," ucap Cantika.
"Sayang, sudah nggak usah di bersihkan lagi. Biar kita panggil bibi saja," pinta Tian seraya meraih jemari Cantika supaya lekas bangun dari jongkoknya.
Sementara Rani melangkah masuk ke dalam kamar seraya tersenyum sinis.
"Satu caraku sudah berhasil, aku yakin sekali tadi Cantika melihat kemesraan yang aku buat. Pasti ia mulai terbakar api cemburu," batin Rani puas.
__ADS_1