
Malam menjelang, kini Inka mulai beraksi. Ia meminta pada pacar gelapmya untuk merampok rumah Tian. Dan saat itu juga, pacar gelap Inka menyelinap masuk ke rumah Tian dengan mengajak beberapa teman berandalnya.
Sementara saat itu Inka sedang tidur nyenyak. Dan salah satu diantara ketiganya menyergap Inka. Dan satunya lagi menyergap Tian.
"Hey, siapa kalian? lancang benar masuk rumah orang ya?"
Namun tiga orang ini tidak takut det Tian, justru salah satu yang menyergap Tian mengancamnya akan menusuk leher Tian dengan pisaunya. Tian pun mulai panik dan ketakutan pada saat, di lehernya ada sebuah pisau menempel.
"Katakan saja dimana semua harta benda yang berharga yang kamu simpan! nggak usah melawan lagi jika kamu ingin selamat!" ancamnya seraya menekan pisau itu ke leher Tian, hingga membuat Tian semakin ketakutan dan pada akhirnya ia mengatakan dimana ia menyimpan brankas.
Brankas besar itu berisi uang yang begitu banyaknya dan ada beberapa surat rumah serta surat-surat penting lainnya. Tetapi untuk tidak membuat curiga, para perampok hanya mengambil uang tunai yang berjumlah ratusan juta juga beberapa barang elektronik yang ada di rumah itu.
Lantas mereka bertiga mengikat Tian ke tepi ranjang. Dan membiarkan Inka begitu saja dengan kondisi mulut di sumpal lakban. Seperginya tiga perampok itu, Inka menghampiri Tian. Ia berpura-pura menolongnya Tuan dengan pasang wajah panik.
"Cepat donk, buka tali saja lama banget. Aku akan segera menelepon kantor polisi!' bentak Tian pada Inka.
Tetapi Inka memang sengaja memperlambat dalam membuka talinya supaya perampok lebih dulu pergi jauh dengan semua barang jarahannya.
"Sabar, mas. Talinya kan keras dan erat."
"Ya sudah kamu saja yang menelpon kantor polisi! biar aku buka sendiri ikatan yang ada di tanganku!"
Hingga pada akhirnya, Inka pun melangkah meraih ponselnya. Tetapi ia mengatakan bahwa tidaknada saldo pulsa sama sekali hingga tidak bisa menelpon kantor polisi. Tian memerintah menelpon dengan telpon rumah yang ada di ruang tengah.
Namun pada saat Inka baru melangkah beberapa langkah, listrik tiba-tiba padam begitu saja. Hingga membuat Inka membatalkan niatnya ke ruang tengah.
"Hah, pakai acara pemadaman lampu seperti ini!" umpat Tian kesal.
__ADS_1
Sampai menjelang pagi, baru lampu menyala. Tian baru bisa melaporkan perampokan tesebut pada pihak yang berwajib.
Beberapa menit kemudian, ia memutuskan untuk pergi ke kantor, tetapi setelah sarapan tiba-tiba kepalanya pusing. Dan ia pun memutuskan untuk tidak ke kantor pagi ini.
"Mas, kamu sebaiknya istirahat saja. Mungkin sakit kepalamu ini karena terlalu memikirkan perampokan semalam. Nggak usah khawatir, jika memang masih rezeki. Semuanya akan kembali padamu, mas," ucap Inka begitu entengnya membuat Tian malah marah.
"Gampang ya kamu mengatakan hal seperti itu, asal kamu tahu. Uang yang ada di brankas yang berjumlah ratusan juta itu untuk membayar gaji para karyawan di kantor! bagaimana mu tidak pusing jika seperti ini?" bentaknya kasar.
"Mas, kan bisa bayar gaji karyawan dengan tabungmu dulu. Oh ya, aku akan keluar sebentar. Untuk membeli bahan mentah dapur sudah pada habis," pamit Inka nyelonong pergi dari kamar tanpa menunggu jawaban dari Tian.
Di dalam hati, Inka berbunga-bunga karena usahanya telah berhasil. Ia pergi ke luar dengan tujuan ingin menemui pacar gelapnya terlebih dahulu. Barulah ia belanja kebutuhan dapur.
Tak perlu memakan waktu lama, kini Inka sudah ada di sebuah kontrakan milik pacarnya.
"Sayang, terima kasih ya. Ternyata suamimu kaya banget ya."
"Hem, tapi kamu dan dua temanmu bodoh! kenapa tanggung banget, kamu nggak ambil sekalian surat-surat penting yang ada di dalam brankas?"
"Bukan aku yang bodoh, tetapi justru kamu yang bodoh! aku memang sengaja membiarkan surat-surat penting itu. Biar itu untuk mu kelak. Jika aku ambil dan suamimu lapor polisi, nanti bpada saat aku menjual semua surat penting itu, pasti akan terlacak polisi. Apa itu tujannmu supaya aku masuk penjara?"
Setelah pacar gelapnya menjelaskan, barulah Inka paham.
"Hhee iya juga, kenapa aku tidak berpikir hingga sejauh itu. Oh ya, aku sudah mulai meracuninya lagi. Semoga kali ini tidak gagal lagi," ucap Inka.
"Nah itu pintar, jika racun yang kamu berikan sudah bereaksi. Kamu tinggal melakukan aksi selanjutnya. Pasti akan lebih gampang memperdaya suamimu jika ia sudah tak berdaya," ucap pacar gelap Inka.
Setelah cukup lama berada di rumah kontrakan milik pacar gelapnya. Inka pun melanjutkan perjalanan ke sebuah toko khusus sayur mayur dan kebutuhan dapur.
__ADS_1
Sejenak ia berbelanja layaknya istri yang baik. Seraya terus saja senyam senyum sendiri. Karena keberhasilan rencananya untuk merampok rumah Tian.
Beberapa saat kemudian, ia pun kembali ke rumah. Dan mengecek kondisi Yisn, ternyata masug tidur. Ia gunakan waktu tersebut untuk kembali menuang sedikit racun ke dalam gelas minumannya.
Karena ia sudah paham jika Tian bangun tidur, pasti yang pertama ia lakukan yakni minum segelas air putih. San apa yang di pikirkan oleh Inka benar adanya. Tian bangun langsung minum air putih yang sudah di tuangi racun oleh Inka.
Hingga tubuhnya terasa lemas dan tak ada daya untuk bangkit dari pembaringan. Kepalanya kembali terasa sakit yang luar biasa.
"Inka!"
"Iya, mas."
"Tolong ambilkan kotak obatnya, kenapa kepalaku kok jadi kumat lafi ya sakitnya. Malah ini bertambah sakit dan seluruh tubuhku kok lemas ya?" ucap Tian heran dengan kondisi dirinya sendiri.
"Mungkin kamu masih harus butuh istirahat, mas. Nanti setelah minum obat sebaiknya kamu istirahat lagi, mas."
Sejenak Inka masih kotak obatnya dan mengambil satu biji obat pered sakit kepala. Dan memberikannya pada, Tian.
"Hhaaaa... silahkan saja kamu minum obat sakit kepala. Tidak akan sembuh karena racun ini keras sekali," batin Inka.
Dia kemudian ke dapur untuk membantu bibi memasak. Dan kembali lagi jatah makanan untuk Tian, ia tuangi racun.
"Aku tidak boleh ceroboh dan aku harus benar-benar bersabar. Jika seperti ini tidak akan membuat curiga. Tetapi bjika akurniebg semuw justru aku bisa tertangkap basah."
Setelah makan matang, Inka membawa makan siang untuk Tian ke dalam kamar.
"Mas, makan siang dulu. Supaya kamu lekas fit dan segera aktifitas di kantor lagi."
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Inka menyusli Tian dengan lembu dan sabar. Hal ini membuat Tian kagum padanya.
"Inka, aku minta maaf ya. Sudah sering bersikap kasar padamu. Kadang aku tak sadar melakukan itu semua," ucap Tian di sela makan siangnya.