Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Penasaran


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, datanglah dua mesin jahit dan juga satu karung kain perca, ke rumah Cantika.


Dia pun merasa bingung, karena sama sekali tak memesan mesin jahit baru dan juga satu karung besar berisi kain perca.


"Dengan Bu Cantika? tolong tanda tangan di sini karena barang sudah sampai semua ya?" ucap kurir pengantar barang.


Sejenak cantik diam pada saat melihat dua mesin jahit dan satu karung besar berisi kain perca.


"Tapi saya tidak memesan semua ini loh, pak," tolak halus Cantika.


"Saya tahu, tetapi ada seseorang yang memesan ini dan semuanya sudah dibayar ibu tinggal tanda tangan saja," ucap kurir kembali.


"Mohon maaf, bu. Karena waktu saya sedikit, saya akan mengantar barang pesanan lainnya. Tolong segera ditandatangani semua barang sudah dibayar hanya tinggal di tanda tangani oleh ibu untuk bukti di kantor," ucap kurir kembali.


Dengan terpaksa, Cantika menandatangani bukti penyampaian barang kiriman tersebut karena wajah kurir sudah terlihat sekali tak bersahabat.


Setelah mendapatkan tanda tangan dari Cantika, kurir tersebut langsung pergi begitu saja wajahnya tidak ada senyum sedikitpun.


"Siapa yang memberikan semua ini, aku kok menjadi penasaran? tidak mungkin semua ini Mas Tian yang mengirimkannya, karena dia sama sekali tak tahu tentang keberadaanku di sini."


"Siapapun orang yang berbaik hati padaku ini akan aku ingat selamanya. Untuk sementara waktu aku tidak akan memikirkan orang yang telah baik kepadaku ini."


"Aku akan mempergunakan pemberiannya ini dengan sebaik mungkin. Dan suatu saat nanti jika aku telah mengetahui siapa orang itu, aku akan menggantinya."

__ADS_1


"Karena saat ini tidak ada waktu bagiku untuk mencari tahu siapa sebenarnya dibalik ini semua, karena aku harus segera memulai pekerjaanku."


"Besok aku tinggal membeli jarum dan benang serta peralatan yang lain. Untuk saat ini aku tidak akan keluar rumah lagi karena aku sudah lelah."


Cantika sedari tadi menggerutu sendiri setelah melihat dua mesin jahit dan satu karung besar berisi kain perca. Tetapi setelah itu dia tidak mengindahkan pemikirannya, ia pun masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan bibi dan Siska untuk membantunya mengangkat dua mesin jahit tersebut dan satu karung besar berisi kain perca masuk ke dalam rumah.


"Aku akan memberitahu pada Tuan Ivan, setelah aku membantu Nona Cantika," batin Siska.


"Semoga saja kali ini Tuan Ivan mencintai Non Cantika selamanya bukan hanya sesaat seperti yang di lakukan oleh Tuan Tian," batin Bibi.


Keduanya menggerutu di dalam hatinya pada saat membantu Cantika mengangkat mesin jahit. Setelah semuanya terangkat masuk di dalam rumah, Cantika istirahat di kamarnya. Bibi dan Siska juga demikian.


Kesempatan ini di gunakan oleh Siska untuk mengirimkan pesan kepada Ivan.


[Tuan Ivan, dua mesin dan satu karung kain perca sudah mendarat dengan selamat di rumah ini.]


Satu notifikasi chat pesan masuk kedalam nomor ponsel milik Ivan, ia lekas membacanya dan tersenyum puas.


"Baguslah jika sudah sampai, aku yakin saat ini pasti kamu sedang berpikir siapa yang telah mengirimkan semua ini padamu ya, Cantika. Seorang pengagum rahasia yang ingin mempersunting dirimu waktu itu, hingga aku keduluan oleh Tian. Tetapi ternyata ia brengsek dan bukan pria yang baik. Aku benar-benar menyesal telah melepaskan Cantika demi Tian. Jika tahu akan seperti ini, kamu tidak bahagia. Saat itu aku tak membantu Tian menyelesaikan kasusnya dengan Rani," batin Ivan kesal mengingat semua perbuatan yang telah di lakukan oleh Tian pada Cantika.


Ia pun kemudian membalas chat pesan yang di kirim oleh Siska. Setelah itu ia melanjutkan lagi pekerjaannya. Ia sudah ingin sekali kembali ke Indonesia akan tetapi tak juga selesai tugas di LA.


********

__ADS_1


Pagi menjelang, Cantika sudah bersiap-siap untuk sejenak pergi membeli semua kebutuhan menjahitnya. Karena ia ingin segera menjahit supaya cepat bisa punya penghasilan.


"Bibi-Siska, aku pamit ya akan pergi sejenak untuk membeli semua peralatan menjahit," pamitnya.


"Iya, non." Serentak jawab bibi dan Siska.


Ojek pesanan telah sampai di pelataran rumah dan Cantika langsung saja pergi bersama tukang ojek tersebut ke pasar dimana sekitar pasar banyak sekali toko-toko. Dan salah satunya toko peralatan untuk menjahit.


Berbeda situasi di rumah, Tian. Dengan terpaksa ia mempekerjakan asisten rumah tangga yang baru. Supaya rumah tidak berantakan lagi dan dirinya ada yang mengurus. Karena dirinya tidak mungkin membawa pulang istri sirinya. Yang ada nanti privasinya menjadi buruk di mata para tetangga.


"Mas Tian, katamu istrimu minggat. Kenapa kamu nggak pergunakan saja hal ini untuk menceraikan dirinya dan menikah resmi denganku," ucap Inka.


"Bagaimana aku akan menceraikan dirinya? Di mana dia berada saat ini saja aku tidak tahu, lantas jika aku menceraikannya akan mengirimkan surat cerai kemana?" ucap Tian beralasan.


Sebenarnya Tian bisa saja menceraikan Cantika dan surat cerainya ia simpan untuk sementara waktu. Tetapi dia sengaja tidak melakukan hal itu karena ini bukanlah waktu yang tepat menceraikan Cantika.


"Mas Tian, aku ini tidak bodoh ya? mentang-mentang umur aku masih sedikit hingga kamu berpikir aku ini gampang untuk di bodohi olehmu?" ucap Inka kesal.


Sebenarnya ia sudah lelah menuruti kemauan Rani, tetapi ia juga butuh uang. Apa lagi uang yang selalu Rani berikan jumlahnya tidaklah sedikit. Hingga Inka masih bertahan sampai detik ini menjadi istri siri Tian.


Selain Inka mendapatkan uang dari Rani, ia juga mendapatkan uang dari Tian. Tetapi Inka sama sekali tidak cinta pada Tian yang menurutnya adalah pria yang sudah berumur. Ia lebih suka dengan pria yang seumuran dirinya. Bahkan tanpa Tian tahu, Inka juga menjalin hubungan dengan pria lain.


"Inka, kenapa kamu kasar sekali padaku? bagaimanapun aku ini suamimu loh! dan aku juga yang selalu menyukupi semua kebutuhan dirimu tanpa kamu melayani segala kebutuhan harianku. Kamu hanya melayaniku di ranjang saja, itupun tidak setiap hari bukan? jadi kamu tidak usah banyak kata jika tidak mau aku talak sekarang juga, toh kami hingga sekarang tak hamil-hamil," ucap Tian lantang.

__ADS_1


Setelah mendengar ancaman dari Tian, Inka sudah tidak berani lagi berkata. Dia hanya diam saja seribu bahasa tanpa ada perlawanan. Walaupun di dalam hatinya ia terus saja menggerutu.


"Sialan, aku terjebak dengan permainan yang aku buat sendiri. Memang sayang juga sih jika aku di talak Mas Tian. Secara aku dengan mudah mendapatkan apa yang selama ini aku inginkan tanpa perlu aku bekerja keras. Baiklah, aku bersabar sedikit lagi menunggu Mas Tian benar-benar menceraikan istrinya," batin Inka.


__ADS_2