Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Kegelisahan Ivan


__ADS_3

Cantika terasa kesal pada Ivan, karena apa yang ia katakan padanya malah di tertawakan. Padahal ia benar-benar peka dengan perasaannya, bahwa Alika ada rasa suka pada Ivan.


"Hem, tatapan mata wanita itu ke Mas Ivan jelas sekali kok. Jika ia suka padanya? masa iya Mas Ivan tidak bisa menyadari akan hal itu? ataukah dia hanya pura-pura saja ya?" batinnya mulai gelisah.


Hingga ia pun memutuskan untuk sekedar cerita apa yang ia rasakan pada, Siska. Dan kebetulan Siska sudah sampai di markas besar kepolisian. Ia sedang tidak ada tugas hingga sedikit bersantai.


[Siska, apa kamu sudah sampai di tempat? aku minta maaf jika menggangu waktumu sekejap saja. Ada hal yang ingin aku ceritakan.]


Drt drt drt drt drt


Satu notifikasi chat pesan masuk ke dalam nomor ponsel milik, Siska dan ia pun membukanya lantas membacanya dan tak lupa membalasnya.


[Iya, Non Cantika. Saya sudah sampai di tempat, katakan saja apa yang ingin nona katakan. Tak usah sungkan karena kebetulan saya sedang tidak sibuk.]


Setelah mendapatkan balasan chat pesan dari Siska, Cantika menceritakan kegelisahan dirinya tentang Alika.


Bahkan Cantika meminta pada Siska supaya tidak mengatakan apa pun pada Alika tentang apa yang saat ini ia ceritakan padanya.


Cantika sudah begitu dekat dengan Siska, hingga ia tidak sungkan atau ragu menceritakan kegelisahan dan kecurigaannya tentang Alika.

__ADS_1


Siska pun mencoba menenangkan hati Cantika dengan mengatakan bahwa itu hanya perasaan Cantika saja. Padahal sebenarnya ia sangat tahu memang Alika sangat cinta pada, Ivan.


"Hem, hati Non Cantika tidak bisa di bohongi. Hebat sekali ya, jika seorang wanita sudah mulai jatuh cinta pada pasangannya. Ia bisa sebegitu pekanya. Aku minta maaf ya Non Cantika, karena aku menutupi jika Alika memang suka pada, Komandan Ivan. Karena aku tidak ingin, Non Cantika menjadi semakin bertambah resah dan gelisah," batin Siska.


Selagi dirinya melamunkan Cantika, datanglah Alika.


"Asik, pasti sedang melamun sang pujaan hati ya? kasih tahu dong, pria mana yang sudah berhasil meluluhkan hatimu?" tegur Alika sempat membuat Siska tersentak kaget.


"Hem, sedang sekali membuatju kaget. Apakah tidak bisa ya, jika hidupmu itu tidak kepo kehidupan orang?"


Perkataan Siska membuat Alika memicingkan alisnya. Ia heran pada sifat Siska yang menurutnya sedang tidak bersahabat sama sekali. Karena biasanya ia jika di goda tidak merespon seperti itu.


******


Satu bulan sudah berlalu dari kedatangan Siska dan Alika. Dalam waktu satu bulan itu, Alika memang fakum. Dia sama sekali tidak melakukan hal jahat lagi pada Cantika. Bukan karena ia telah bertobat dan sadar akan perbuatannya yang salah. Tetapi karena dalam satu bulan iti, ia sedang banyak pekerjaan yang benar-benar membutuhkan extra kerja keras dan juga pemikiran. Hingga ia mengesampingkan dahulu kepentingan pribadinya.


Sementara di rumah Cantika. Ivan mulai merasakan dirinya ini sudah tidak berarti lagi. Karena kelumpuhan yang ia alami mengakibatkan tidak bisa melakukan aktifitasnya lagi.


Untuk sementara waktu, jabatan dan masa kerja Ivan di tangguhkan terlebih dahulu oleh atasannya hingga ia benar-benar pulih.

__ADS_1


"Aku merasa dirimu ini sudah tidak berguna lagi. Justru aku hanya menjadi beban bagi istriku. Seharusnya aku yang bekerja banting tulang demi anak istri. Tetapi ini malah terbalik, istriku yang harus bekerja mati-matian. Aku benar-benar malu," batin Ivan mulai goyah dan berputus asa.


"Mas Ivan, maaf ya. Aku pulangnya rada kesorean karena tiba-tiba pada saat akan pulang ada pelanggan baru," ucap Cantika yang baru pulang dari garmennya mendapati Ivan sedang murung di teras halaman.


Dia mengira jika murungnya Ivan karena keterlambatan pulasnya. Padahal Ivan tidak memikirkan akan hal itu sama sekali. Yang ia pikirkan adalah dirinya sendiri, ia ingin bisa bekerja lagi.


"Sayang, aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Justru aku merasa iba padamu yang tiap hari sibuk sendiri sedangkan aku seperti ini," keluh kesahnya seraya tertunduk.


Cantika juga merasa iba pada suaminya yang terluka begitu lama dan tak kunjung sembuh, padahal sudah rajin terapi kaki supaya bisa berjalan lagi. Kadang Cantika juga merasa jika apa yang terjadi pada suaminya itu karena kesalahan dirinya.


"Mas Ivan, kesapa kamu berpikiran seperti itu? aku sama sekali tidak mempermasalahkan apa pun. Aku juga sangat bisa memahami kondisi dirimu yang sekarang ini. Aku tidak pernah menyalahkan dirimu, mas. Justru kamu itu telah berkorban begitu besarnya padaku."


"Mas, jika aku melihat kesedihan di rona wajahmu itu. Akan membuat diriku menjadi merasa bersalah dengan apa yang telah menimpa padamu."


Kini Ivan pun mulai tersenyum walaupun di dalam hatinya masih bisa merasakan kesedihan karena tak bisa memberikan nafkah pada anak dan istrinya. Ivan tak ingin lagi melihat kesedihan di hati istrinya.


"Aku minta maaf ya, sayang.. Sudah membuat dirimu bersedih," ucapnya tersenyum.


"Sudahlah, Mas. Tak perlu minta maaf karena di sini tidak ada yang salah jadi tak ada yang perlu di maafkan.. Yuk kita masuk, aku akan mandi dulu. Setelah itu aku bantu Mas Ivan mandi ya? eh apa sebaiknya kita mandi bersama saja?" bisik Cantika terkekeh.

__ADS_1


Sejak Ivan duduk di kursi roda, Cantika tidak pernah mengeluh sama sekali untuk merawat suaminya itu. Ia begitu tulus dan penuh cinta kasih dalam merawat Ivan.


__ADS_2