Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Cobaan Yang Bertubi-Tubi


__ADS_3

Tian membawa jazad bayi yang malang itu dengan penuh air mata. Ia begitu sedih dan sangat kecewa.


"Cantika, kamu hampir saja membuat aku bahagia karena akan memiliki seorang anak lelaki. Tetapi kamu mengulang kesalahan yang sama, membuatku kembali kecewa padamu."


"Kamu tak berhati-hati dalam menjaga kehamilanmu hingga terjatuh seperti ini. Secara tidak langsung kamulah yang telah membunuh anakku ini."


Sepanjang perjalanan ke rumah, Tian begitu kesal, marah, dan sangat kecewa. Begitu banyak umpatan di dalam hati Tian untuk Cantika.


Sesampainya di rumah, Tian langsung memanggil para tetangganya dan juga seorang kyai untuk memberikan doa pada jazad bayi lelakinya.


**********


Satu jam berlalu, Cantika telah sadar. Ia celingukan melihat sekelilingnya.


"Dimana aku?" tanyanya lirih.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar? apakah kamu benar-benar lupa dengan kejadian yang telah menimpa dirimu?" tanya Ivan.


Sejenak Cantika terdiam dan perlahan ia mengingat bagaimana ia terjatuh di dapur pada saat ia akan masuk ke kamar mandi. Kakinya tersandung hingga pada akhirnya ia terjatuh begitu saja.


"Mana bayiku, kenapa perutku rata?" Cantika meraba perutnya sendiri, perlahan air matanya mulai menetes.


"Cantika, kamu yang sabar ya. Menghadapi musibah ini."


Ivan mencoba menghibur Cantika yang terlihat begitu shock pada saat meraba perutnya.


"Mas Ivan, apa yang telah terjadi pada anakku?" tanya Cantika.


"Apakah ia terlahir prematur?" kembali lagi Cantika bertanya padahal Ivan belum juga menjawabnya.


"Kamu telah membunuh bayimu sendiri," tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu ruang rawat tesebut.


"Mas Tian, apa maksud perkataanmu?" tanya Cantika lirih.

__ADS_1


'Masih belum sadar juga, anakku meninggal di dalam perutmu akibat hantaman yang keras. Dan akhirnya kamu harus di operasi untuk mengambil bayiku yang telah meninggal di dalam perutmu," ucap lantang Tian.


"Inalillahi wa innailaihi rojiun, aku ingin ke makam mas. Tolong bawa aku ke makam sekarang juga."


Cantika akan bangkit dari pembaringan, tetapi di tahan oleh Ivan.


"Cantika, kendalikan emosimu. Kamu itu masih lemah dan belum di izinkan untuk kemana-mana. Sabar sejenak ya, nanti jika sudah waktunya pasti kamu bisa ke makam anakmu kapan saja," cegah Ivan.


"Tian, seharusnya kamu jangan berkata kasar pada Cantika. Di sini justru ia yang paling terluka apa lagi ia ini yang mengandung bayi itu."


"Kamu sudah sangat keterlaluan dengan menuduhnya sebagai pembunuh bayinya sendiri. Sementara ini semua karena musibah bukan karena unsur kesengajaan."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan, tak lantas membuat Tian sadar dan minta maaf pada Cantika. Ia malah berlalu pergi begitu saja.


'Kamu urus saja Cantika, aku mau kembali ke kantor. Aku ogah urus pembunuh anakku!"


Sebenarnya Ivan sangat marah melihat perlakuan kasar yang di lakukan oleh Tian pada Cantika. Tangannya mengepalkan tinjunya, akan tetapi ia kemudian tersadar. Hingga kepalan tangannya mengendur.


Cantika hanya diam saja, tetapi air matanya tak bisa berhenti. Ia sama sekali tak tahu jika akan alami hal seperti ini.


"Tidakkah ia meras iba dan kasihan padaku? seharusnya ia menghiburku bukan malah menuduhku seperti ini."


"Ya Allah, cobaan apa lagi ini? aku pikir setelah aku hamil dan beberapa bulan lagi akan melahirkan. Aku akan terbebas dari derita sikap suamiku yang dingin."


"Ini malah bertambah permasalahan baru yang membuat suamiku semakin membenci diriku. Apa aku kuat menghadapi dirinya?"


Cantika terus saja menangis dan menangis, ia terus saja menggerutu di dalam hatinya. Sedihnya tak berujung sana sekali.


Ivan yang melihat kesedihan di raut wajah cantik Cantika menjadi teramat iba. Perlahan ia ambil tissue dan mengusap air matanya.


"Cantika, jangan terlalu di pikirkan apa yang tadi di katakan oleh Tian. Mungkin saja itu hanya sebuah emosi sesaat, karena anaknya meninggal. Nanti juga ia akan kembali baik padamu," ucap Ivan mencoba menghibur Cantika.


"Baik apa, mas? jika aku mampu bercerita semuanya padamu, tentang sifat asli teman baikmu itu. Pasti kamu tidak akan percaya dan bahkan bisa kaget. Karena hanya di depan orang saja, Mas Tian baik padaku," batin Cantika.

__ADS_1


"Apa yang akan terjadi kelak di dalam hidupku ini ya Allah. Apa akan kembali menghadapi suami dingin kembali?"


Ivan merasa serba salah, karena ia tak bisa menghibur kesedihan Cantika. Karena air matanya terus saja tertumpah.


**********


Beberapa hari kemudian, Cantika sudah di nyatakan boleh pulang dengan catatan ia belum di izinkan bekerja yang berat-berat karena ia habis operasi Caesar.


Pada saat Cantika pulang dari rumah sakit pun, Tian tidak datang untuk menjemput. Apa lagi selama di rumah sakit, selalu Ivan yang setia menjaganya.


"Mas Ivan, Mas Tian mana?kenapa ia nggak menjemputku, juga pada saat aku ada di sini beberapa hari. Ia juga sana sekali tidak datang."


"Masa iya, ia masih saja marah padaku dengan apa yang menimpa bayiku?"


"Sudahlah, Cantika. Tak usah memikirkan hal yang tak penting. Sekarang kita pulang, dan kamu fokus pikirkan kesembuhanmu. Kamu belum di izinkan untuk bekerja berat apa lagi angkat beban berat. Nanti aku saja yang mengurus Salsabila ya," ucap Ivan.


"Seharusnya yang mengatakan hal itu adalah suamiku, bukan Mas Ivan," protes Cantika.


Ivan tak menjawab, ia hanya diam saja. Ia menuntun Cantika keluar dari ruang rawat tersebut. Dan sangat lembut mengajaknya melangkah ke luar halaman di mana sudah menunggu mobilnya. Ivan sengaja terlebih dahulu mengambil mobilnya dan sudah izin pada security untuk sejenak parkir di tepian pelataran rumah sakit.


Beberapa menit telah sampai di rumah. Tian sedang duduk memainkan ponselnya di teras halaman. Melihat Cantika sudah pulang, ia hanya melirik sinis saja.


"Mas, kenapa kamu tak datang untuk menjemput aku pulang?" tanya Cantika pada saat dirinya sudah sampai di hadapan Tian.


"Untuk apa aku jemput seorang pembunuh? kamu tahu, rasa kecewaku ini berurat berakar! kamu bukan hanya telah membunuh anakku tapi kamu jug telah membunuh kebahagiaanku, impianku untuk memiliki anak laki-laki."


Ucapan Tian membuat mata Cantika membola. Karena ia baru tahu jika bayinya yang telah meninggal adalah seorang lelaki.


Ia pikir seorang wanita karena pada saat terakhir USG, di prediksi seorang wanita.


"Tian, sebaiknya kamu bawa masuk Cantika dan biarkan ia istirahat," pinta Ivan.


"Biar saja dia masuk sendiri, toh punya kaki kan untuk jalan," ucap kasar Tian.

__ADS_1


Dengan langkah tertatih, Cantika masuk sendiri ke dalam rumah. Sebenarnya Ivan ingin menolong tapi ia tak enak hati di depan Tian.


__ADS_2