Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Mulai PDKT


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan oleh Tian, sebenarnya hati Ivan kesal. Tangannya mengepalkan tinju, akan tetapi kemudian ia longgarkan lagi dan berlalu pergi dari hadapan Tian. Akan tetapi pada saat Ivan akan pergi, Tian menahannya.


"Tunggu, jangan pergi dulu! Aku yakin kamu pasti akan mencari keberadaan Cantika bukan? aku ingin menitipkan sesuatu padamu untuk kamu berikan padanya jika kamu bertemu dengan dirinya," ucap Tian hingga Ivan pun menghentikan langkahnya tersebut dan menoleh ke arah Tian.


"Aku tahu apa yang akan kamu titipkan, tapi aku bukan kacungmu. Cari sendiri Cantika, dan kamu berikan sendiri kepadanya kalau kamu memang pria jentle!" Ivan kembali melangkah.


"Payah kamu, Ivan. Masa iya seorang komandan kepolisian kok tidak bisa mencari seseorang wanita yang statusnya masih lajang. Malah mengejar seseorang wanita yang sudah janda, kalah kamu sama aku. Hahahahaha ..." ejek Tian lantang tapi tidak membuat Ivan lantas tersulut emosi.


"Sombong kamu Tian, kamu pikir selamanya akan berjaya. Lihat saja kejatuhan mu ada di depan mata. Aku yakin istrimu yang sekarang ini bukanlah wanita yang baik. Di lihat dari penampilannya saja aku sudah bisa menebak. Aku yakin, ia yang akan menjadi kehancuran bagi dirimu,' batin Ivan.


"Cantika, aku sudah semakin yakin untuk menemui dirimu. Karena sekarang statusmu sudah resmi janda. Kali ini aku tidak akan melepaskan dirimu untuk pria mana pun. Karena tidak ada yang bisa membahagiakan dirimu selain ketulusan cintaku."


"Ya Allah, niat baikku ini semoga Engkau ijabah. Dan Cantika juga bisa menerima diriku untuk menggantikan posisi, Tian."


Sepanjang perjalanan pergi dari rumah Tian, Ivan terus saja mengerutu sendiri. Dan ia saat ini akan menemui Cantika untuk berkata jujur mengenai Siska. Ia tak ingin berlama-lama membiarkan Cantika terus berjuang sendirian menjalani kehidupannya.


Seperginya Ivan, Tian tersenyum sinis seraya merangkul istrinya yang masih belia itu.


"Inka, seharusnya kamu bangga menjadi istri seorang Tian yang kaya raya bergelimang harta ini. Dan kamu harusnya lekas hamil. Bukankah aku sudah mengabulkan keinginan diri mu untuk menikah denganku? lantas kapan kamu akan hamil?" tanya Tian lantang.


"Mas, memangnya orang hamil dan punya anak itu kaya orang beli gorengan? semua kan ada masanya dan ada yang mengaturnya? mintalah pada yang kuasa yang lebih hebat yang mengatur semuanya," ucap Inka ketus.


"Hem, sejak kapan kamu pintar membantahku?" tegur Tian.


"Sejak kamu terus saja memojokkan diriku untuk lekas hamil. Jika kamu seperti ini yang ada aku malah akan sulit hamil karena stres olehmu," ucap Inka.


Tian pun diam sejenak, ia memikirkan apa yang barusan di katakan oleh Inka. Memang selama ini ia terus saja bicara masalah kehamilan dan kehamilan pada Inka.

__ADS_1


"Inka, aku minta maaf ya. Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan mengatakan lagi tentang kehamilan. Supaya kamu tidak menjadi stres," ucap Tian lembut.


Inka tak menjawab, ia hanya diam saja dan berlalu pergi dari hadapan Tian. Ia terus saja menggerutu di dalam hatinya.


"Aku memang masih muda, Mas Tian. Tapi bukan berarti otakku polos dan mudah di bodohi olehmu. Di sini aku yang akan membodohi dirimu."


"Kamu sudah terjebak dengan permainan yang awalnya adalah permintaan dari Mba Rani. Tetapi kali ini aku akan bermain sendiri dan semua hasil kemenangan dari permainanku akan aku nikmati sendiri, tidak aku berikan pada Mba Rani."


"Enak saja, aku yang cape kok dia yang untung. Cukup sudah ya Mba Rani, aku bantu kamu. Sekarang aku akan beraksi sendiri, untuk bisa mendapatkan semua yang ada pada, Mas Tian."


"Untung saja pacarku yang masih muda dan tampan itu telah mengajariku banyak hal. Aku tidak akan hamil anakmu, Mas Tian. Karena aku memakai alat kontrasepsi."


"Lihat saja kehancuran dirimu, pria sombong yang selalu membanggakan segala kekayaanmu. Justru kekayaanmu ini yang akan menghancurkan dirimu."


"Hem, aku akan bergerak cepat supaya aku juga bisa pergi dari kehidupan Mas Tian secepatnya. Dengan membawa semua harta miliknya."


Tian sama sekali tidak tahu apa yang terselubung di pikirkan Inka. Yang ia banggakan hanya karena ia bisa menikahi wanita yang masih muda belia.


Esok harinya, Ivan sudah ada di pelataran rumah Cantika. Rumah yang ia berikan secara cuma-cuma untuk Cantika.


"Astaga, itu bukannya teman Mas Tian? apakah ia kemari atas perintah Mas Tian? gawat jika seperti ini."


Cantika yang akan keluar dari rumah, mengurung niatnya dan ia malah masuk lagi dengan hati yang sangat berdebar-debar melihat kedatangan Ivan.


'Non Cantika, kenapa ketakutan seperti itu?" tegur Siska menepuk bahu Cantika yang sedang mundur-mundur akan pergi dari ruang tamu.


"Astaghfirullah aladzim, Siska. Kamu membuatku kaget saja! itu ada teman dari Mas Tian, bagaimana ia tahu aku ada di sini ya? pasti ia datang karena perintah dari Mas Tian," ucap Cantika polosnya seraya menunjuk ke arah Ivan yang sedang berdiri di pelataran rumah seraya celingukan.

__ADS_1


"Non Cantika, Tuan Ivan itu tidak jahat. Kedatangan ia kemari tidak ada sangkut pautnya dengan, Tuan Tian," ucap Siska.


"Loh, kok kamu tahu namanya? apakah kamu kenal juga?" tanya Cantika memicingkan alisnya.


"Sangat kenal, Nona. Sebaiknya kita temui Tuan Ivan. Nanti kita bicara lagi, bagaimana saya kenal dengannya." Ajak Siska seraya menggandeng tangan Cantika melangkah keluar rumah menemui Ivan.


"Hormat, Komandan. Selamat datang."


Siska memberikan tanda penghormatan kepada Ivan hal ini kembali membuat Cantika bingung.


"Cantika, dari tadi aku mencarimu. Bagaimana kabarmu dan Salsabila?" sapa Ivan menyunggingkan senyuman.


"Alhamdulillah baik, mas. Mari silahkan masuk," ucap Cantika.


Saat itu juga Ivan dan Siska serta Cantika melangkah masuk dan mereka duduk di ruang tamu.


"Cantika, kamu pasti heran kan, kenapa Siska kenal aku? karena Siska ini adalah seorang polwan, dan aku yang meminta ia untuk ada di sampingmu. Aku ingin kamu selalu aman," ucap Ivan.


Cantika sempat terperangah mendengar apa yang barusan di katakan oleh Ivan.


"Hah, jadi kamu ini seorang polwan? kenapa aku sama sekali tidak curiga padamu ya? lantas apa maksud anda melakukan hal ini pada saya, Tuan Ivan?" tanya Cantika penasaran.


"Cantika, tolong jangan panggil saya Tuan. Bukannya dulu pada saat aku masih menjadi teman Tian, kamu juga panggil aku, Mas?" tegur Ivan


"Maafkan saya, mas."


"Nah, begitu kan enak di dengar. Cantika apa kamu benar-benar lupa denganku? padahal aku selalu ingat wajahmu dan kebaikanmu. Ingatlah beberapa tahun yang lalu pada saat ada beberapa anggota kepolisian yang di pimpin olehku ada di desamu. Untuk menolong korban gempa, dan pada saat itu kamu menjadi salah satu relawan yang menolong para korban," ucap Ivan.

__ADS_1


Cantika berusaha mengingat kejadian yang sudah lumayan lama. Dan ia tiba-tiba menyunggingkan senyumnya.


"Heee...kenapa aku bisa lupa ya, mas. Maafkan aku ya, mas. Aku sudah ingat kok," ucapnya tersipu malu.


__ADS_2