
Seperginya Rani dan Mamah Bella, hati Tian sedikit lega.
"Sayang, maafkan aku ya. Aku begitu bodoh percaya saja dengan tipu muslihat dari Rani. Tapi kamu tak usah khawatir karena aku tak akan tinggal diam, sekarang juga aku akan urus lagi perceraian dengannya dan juga melaporkan kejahatannya pada pihak yang berwajib."
Tian merasa sangat bersalah pada Cantika, ia pun memeluk erat tubuhnya.
"Iya nggak apa-apa, mas. Tetapi aku harap tidak terulang lagi hal seperti ini. Apa lagi niat Rani itu sangat jahat, jujur tadi aku sangat ketakutan sekali pada saat Rani dan mamahnya memaksaku untuk minum susu yang telah di campur racun," ucap Cantika.
"Iya, sayang. Aku akan lebih waspada dan aku juga akan menyewa orang untuk selalu waspada di rumah kita ini supaya Rani atau Mamahnya tidak lagi datang dan menjahati dirimu."
"Besok pagi, aku akan urus semuanya. Karena jika sekarang itu tidaklah mungkin, waktu sudah sore."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Tian, sebenarnya Cantika kurang suka. Ia ingin saat itu juga Tian mengurus semuanya. Ia tak suka Tian menunda semuanya untuk esok hari.
"Kenapa perasaanku tidak enak ya, aku juga tak suka jika semua di lakukan esok hari. Aku ingin komplen pada Mas Tian, tapi aku nggak enak. Aku nggak ingin ia beranggapan aku terlalu banyak menuntut," batin Cantika.
"Sayang, kenapa kamu diam saja? apakah masih ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Tian pada saat melihat Cantika hanya diam saja.
"Iya, mas. Sebenarnya ada yang mengganggu pikiranku. Entah kenapa hati ini merasa tak tenang jika kamu tak melaporkan kejahatan Rani sekarang juga. Jika urusan perceraian besok pagi nggak apa-apa," ucap Cantika.
"Ya sudah, nanti aku akan ke kantor polisi. Tapi apakah kamu tak apa-apa jika aku tinggalkan sendiri di rumah ini?" tanya Tian ragu.
"Mas, aku tidak sendiri di rumah. Tetapi ada Bibi, jadi mas nggak usah khawatir," ucapnya meyakinkan Tian.
Hingga pada akhirnya, Tian pun pergi saat itu juga ke kantor polisi. Akan tetapi pada saat ia sudah ada di dalam mobil, hatinya juga tak menentu. Ia pun keluar dari mobil dan menemui Cantika.
"Loh mas, apa ada yang tertinggal?" tanya Cantika heran pada saat melihat suaminya kembali masuk ke dalam rumah.
"Aku benar-benar tak tenang meninggalkan dirimu sendiri, sebaiknya kamu ikut saja ya," pinta Tian menggenggam tangan Cantika.
__ADS_1
"Ya sudah, aku berganti pakaian dahulu."
Cantika masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya dan berganti pakaian.
Setelah itu ia bersama Tian melangkah pasti menuju ke pelataran dimana mobil Tian sudah terparkir. Terlebih dahulu mereka berpamitan pada bibi jika akan pergi keluar. Barulah Tian benar-benar melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi.
Seperginya Tian dan Cantika, ada beberapa pria berpakaian serba aneh datang. Mereka mengelilingi rumah itu dan menyirami bensin setelah itu membakar rumah Tian.
Sementara bibi tak tahu jika ada hal buruk yang sedang terjadi, karena kebetulan ia sedang mandi sore. Hingga beberapa menit kemudian, ia baru menyadari jika ada asap tebal di dalam rumah.
Untung saja ia masih bisa keluar rumah untuk menyelamatkan diri dan berteriak minta tolong pada para tetangga untuk memadamkan api yang kian lama kian membesar.
Belum juga Tian dan Cantika sampai di kantor polisi. Bibi sudah menelpon terlebih dahulu.
Kring kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke dalam nomor ponsel Tian, ia pu sejenak menghentikan laju mobilnya untuk melihat siapa yang dari tadi menelpon.
"Angkatlah, mas. Siapa tahu saja ada hal yang penting," saran Cantika.
Tian pun menuruti saran istrinya, ia pun mengangkat telpon tersebut.
"Bi, ada apa?"
"Den Tian, bisa pulang dulu nggak? rumah Aden kebakaran."
"Hah, kok bisa?"
"Bibi juga nggak tahu, den. Selepas adem pergi, bibi langsung mandi. Tapi tahu-tahu bau asal tebal hingga akhirnya bibi mengecek sumber asap. Api den, apinya besar sekali, untung bibi bisa lekas keluar dari rumah. Kalau tidak mungkin bibi sudah hangus terbakar."
__ADS_1
"Ya sudah, aku akan langsung pulang sekarang juga ya bi."
Tian mematikan telponnya sejenak ia menatap kearah Cantika.
"Kenapa wajahmu tegang seperti itu, mas? setelah mendapatkan telpon dari bibi?" tanya Cantika penasaran.
"Bagaimana aku nggak tegang. Kita baru keluar beberapa menit yang lalu, barusan bibi menelpon jika rumah kebakaran."
"Ya sudah, kita batalkan dulu untuk ke kantor polisi. Kita cek dulu kebenaran dari ucapan bibi. Semoga saja kebakaran yang terjadi tidak besar hingga tidak rusak parah," ucap Cantika ikut panik.
Saat itu juga Tian memutar balik arah, mengurung kan niat ya untuk ke kantor polisi. Ia melajukan mobilnya arah pulang dengan sedikit kencang supaya lekas sampai.
Dan pada saat mobil Tian sudah sampai. Ia dan Cantika terhenyak kaget pada saat melihat api begitu besarnya membakar rumah mereka. Dan lara tetangga sibuk memadamkan api tapi tak juga padam.
Hingga akhirnya Tian menelpon petugas pemadam kebakaran supaya lekas datang. Akan tetapi petugas pemadam kebakaran datang terlambat karena aku sudah cepat menjalar ke seluruh bagian rumah.
"Habis sudah rumah ini, padahal banyak barang dan berkas penting yang ada di dalam rumah itu." Seketika tubuh Tian jatuh terduduk di tanah, ia lemas tak berdaya.
Bukan meratapi api yang membakar rumah, tapi api itu telah membakar semua berkas penting kantor yang ia simpan di dalam rumah itu.
"Mas, kamu yang sabar ya, kita ambil hikmahnya saja yakni kita tak ikut terbakar di dalamnya. Yakinlah pada Allah jika Ia pasti kelak akan mengganti yang lebih indah. Dan mengenai semua berkas yang penting pasti bisa terselesaikan juga," ucap Cantika merasa iba, ia pun ikut bersimpuh dan mengusap punggung suaminya.
Setelah beberapa menit barulah api bisa di padamkan, Tian langsung berlari masuk ke dalam rumah yang sudah tinggal puing-puing tersebut.
Niat hati Tian ingin mengecek apakah masih ada sesuatu yang bisa di selamatkan. Ternyata tidak ada sama sekali, semuanya telah hangus terbakar.
"Astagfirullah alazdim, ulah siapa ini? kenapa begitu kejam seperti ini?" batinnya seraya diam sejenak.
"Apakah ini ulah Rani dan mamahnya? tapi aku rasa itu tidak mungkin karena mereka pergi dari rumah ini belum lama. Masa iya langsung bisa melakukan hal keji ini?"
__ADS_1
"Tapi aku rasa itu bisa saja terjadi, mereka memerintah orang untuk melakukan hal ini."
'Tapi aku tak punya bukti kuat untuk menuduh Rani dan mamahnya."