
Esok harinya, ada kejutan yang membuat Cantika bahagia. Ada dua orang pemilik toko busana di kota besar datang ke rumah Cantika.
"Permisi, selamat pagi, assalamualaikum."
Cantika mendengar ada seseorang bertamu, dia segera keluar rumah.
"Walaikum sallam," jawab Cantika ramah.
"Maaf, apakah ini kediaman Nona Cantika?" tanya ibu tersebut.
"Oh benar sekali, Bu. Mari masuk dan silahkan duduk, biar kita ngobrolnya nyaman," ucap Cantika ramah.
Ibu tersebut masuk dan duduk di ruang tamu.
"Begini, Non Cantika. Saya tak sengaja sempat melihat beberapa produk buatan ibu di laman akun sosial media seseorang. Saya sangat tertarik untuk mengajak ibu bekerja sama. Perkenalkan, nama saya Bu Rosmini."
"Saya seorang pemilik toko busana yang ada di kota sebelah kota ini, Nona. Dan saya berminat mengajak anda bekerja sama dengan, saya."
"Saya butuh banyak sekali selimut dan daster untuk produk di toko saya. Kebetulan toko saya ini berdiri di salah satu mall terbesar."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Rosmini, hati Cantika senang. Tetapi ia juga sedih karena keterbatasan dananya.
”Subahanallah, saya senang sekali mendapatkan tawaran dari, Bu Rosmini.. Tetapi jujur saja, di sini saya terkendala dengan permasalahan dana dan juga alat. Saya cuma punya dua mesin jahit dan dan dananya tidak punya," ucap Cantika tertunduk malu.
"Nona Cantika, anda tak usah khawatir untuk mengenai fasilitas penunjang kinerjanya. Saya akan memberikan beberapa mesin jahit yang ada di toko saya yang saat ini tergeletak karena tidak ada pekerjanya."
"Nanti saya akan kirimkan kemari, dan saya juga akan memberikan DP awal untuk pesanan yang saya butuhkan."
"Di sini saya membutuhkan seribu selimut dewasa dan seratus selimut anak-anak. Serta seribu daster dewasa yang coraknya menarik dan usahakan ukurannya komplit dari S hingga XXL."
"Apakah, Nona Cantika bisa menyediakan semua itu hanya dalam waktu satu bulan? Nanti jika dalam waktu satu bulan semuanya laku keras, saya akan memesan kembali."
Cantika sangat terharu mendengarnya, ia pun menyanggupinya. Dan saat itu juga, Bu Rosmini memberikan amplop coklat besar yang berisi uang.
__ADS_1
'Nona Cantika, saya memberikan DP dulu seratus juta. Nanti anda rinci dulu perkiraan harga grosir selimut dari anda berapa, daster berapa. Sisa pembayarannya nanti saya transfer ke nomor rekening anda."
"Dan saat ini saya sudah memerintahkan orang untuk mengirimkan mesin jahit ke rumah, anda."
Saat itu juga Cantika dan Bu Rosmini mengadakan perjanjian hitam di atas putih untuk kerja sama mereka.
di saksikan oleh Siska dan salah satu anak buah Bu Rosmini.
Setelah cukup lama berada di rumah Cantika, Bu Rosmini segera pamit undur diri karena masih ada yang harus ia kerjakan.
Satu jam kemudian,
Datanglah enam mesin jahit ke rumah Cantika. Kiriman dari Bu Rosmini.
Selagi beberapa orang menurunkan mesin jahit, datang satu orang pria yang kembali mengadakan kerjasama dengan Cantika. Orang ini tertarik dengan pakaian anak yang pernah ia lihat di akun sosial media.
Cantika pun menjalin kerjasama dengan orang ini untuk nyetok pakaian anak ke toko dia. Orang ini juga memberikan DP untuk kerja samanya bersama Cantika.
"Siska, terima kasih ya. Kamu benar-benar penyelamat hidupku. Karena bantuanmu, hati ini aku sudah resmi bekerja sama dengan dua orang pengusaha besar," ucap Cantika tiba-tiba memeluk Siska.
Siska memicingkan alisnya pada saat mendapatkan perlakuan itu dari Cantika.
"Nona Cantika, tapi saya tidak melakukan apapun. Mungkin saja ada seseorang langganan Nona yang menginformasikan hal ini pada mereka," ucap Siska.
Karena memang Siska tidak melakukan apa yang telah di pikirkan Cantika barusan. Dia hanya foto semua itu untuk di kirim kepada Ivan. Sebenarnya Siska tahu jika dia orang yang datang adalah kenalan Ivan, hanya saja ia sengaja tak memberi tahu pada Cantika, karena memang bel waktunya.
Dua bulan berlalu...
Kini usaha Cantika benar-benar berkembang besar. Ia bahkan saat ini bisa di bilang susah menjadi seorang desain baju.
Karena ia sudah mempunyai sepuluh karyawan di bidangnya. Untuk membantu usahanya ini. Ia hanya memberikan amanat atau perintah kepada para karyawannya tersebut tanpa harus cape menjahit sendiri.
Alhamdulillah, satu bulan sudah aku mengadakan kerjasama dengan dua orang. Tetapi usahaku ini berjalan lancar.
__ADS_1
Mereka cocok dengan hasil kerjaku sehingga melanjutkan kerjasama denganku.
Semoga selamanya lancar, dan diberikan kesehatan bagi semuanya. Sspaya memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.
Kabar berkembangnya usaha Cantika terdengar hingga telinga Ivan. Di sana ia sangat senang. Apa lagi tugasnya di LA juga sudah selesai. Saat ini ia sedang bersiap-siap untuk kembali ke tanah air.
"Aku ingin cek kondisi di rumah Tian seperti apa?"
Ivan sengaja tak memberi tahu pada Tian tentang kedatangannya. Ia sengaja ingin datang secara tiba-tiba. Dan pada saat ia datang di rumah Tian, ia kaget karena di rumah Tian sudah ada seorang wanita muda.
"Maaf Mas siapa ya?" tanyanya pada Ivan.
"Seharusnya saya yang bertanya, anda ini siapa ada di rumah Tian?" tanya Ivan tak suka.
"Dia istriku, Ivan. Kamu datang kenapa tidak memberitahu aku, tidak seperti biasanya?" tanya Tian dari balik amban pintu.
"Kamu bilang dia ini istrimu, lantas kamu kemanakan Cantika?" tanya Ivan pura-pura tak tahu.
"Dia sudah minggat beberapa bulan yang lalu, bahkan hingga saat ini tidak memberikan kabar. Hingga terpaksa aku yang menggugat cerai, tetapi surat cerai masih aku simpan. Hingga ia datang lagi akan aku berikan," ucap Tian enteng.
"Aku juga heran kenapa kamu begitu perhatian dengan Cantika. Jangan katakan jika kamu suka padanya," ucap Tian mulai curiga.
"Apa yang kamu katakan memang benar adanya. Aku sudah tidak akan menutupinya lagi. Aku menyukai Cantika sebelum dirimu kenal dengannya. Aku yang terlebih dahulu kenal pada saat aku tugas di desanya waktu lalu."
"Tetapi karena kesibukan aku hingga belum sempat aku mengatakan isi hatiku padanya. Dan aku sudah harus kembali ke LA."
"Dan pada saat aku akan mengatakan semuanya padanya. Dia sudah menjadi istri siri mu."
"Aku sudah merelakan dia untukmu tetapi malah kamu menyakitinya dan menyia-nyiakannya. Aku datang lagi untuk membawanya sertaku."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan, Tian hanya tersenyum sinis.
"Ambil saja bekasku, aku sudah tidak butuh wanita yang tak bisa memberikan aku seorang anak lelaki. Tetapi aku tak tahu sekarang ini ia ada dimana. Pergi dan cari saja, jika bertemu katakan saja aku telah urus surat cerainya," ucap Tian lantang tidak ada rasa bersalah sama sekali.
__ADS_1