Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Inka Mulai Beraksi


__ADS_3

Berjalannya waktu cepat sekali, sudah satu bulan berlalu. Tetapi Cantika belum juga bisa menerima Ivan untuk menggantikan posisi Tian.


Tetapi Ivan sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, ia masih setia ada di samping Cantika untuk selalu menjaga ataupun mensupport dirinya.


"Cantika, kapan kamu akan luluh? aku sudah merindukan saat itu dimana kamu benar-benar menerima diriku untuk menjadi pendamping hidupmu. Supaya aku bisa dengan leluasa menjagamu dan juga Salsabila," batin Ivan.


Saat ini Cantika sedang asik dengan dunia barunya, yakni menjadi seorang pengusaha wanita. Menjadi seorang desainer, karena usahanya semakin bertambah maju.


Bahkan ia belum pergi ke rumah Tian, untuk mengambil surat cerai. Entah kenapa ia masih enggan untuk datang ke sana. Hingga suatu hari, kabar berita tentang suksesnya pengusaha wanita tersiar ke telinga Tian.


Dan ia ingin sekali mengajak bekerja sama pengusaha wanita tersebut. Ia memerintah kepada salah satu asisten pribadinya untuk mempertemukan dirinya dengan wanita tersebut.


"Ton, kamu bisa kan hubungi pengusaha wanita itu? supaya dia mau bekerja sama dengan garmen kita?" tanya Tian.


"Akan saya usahakan, Tuan. Karena wanita ini sangat sibuk, apa lagi usaha barunya yang di rintis ini banyak sekali peminatnya yang ingin bekerja sama dengan dirinya. Semua desain baju atau motif-motif selimut beda dari yang lain. Saya juga sudah mengecek langsung ke garmen miliknya," ucap asisten pribadi Tian tersebut.


Perkataannya justru membuat Tian semakin penasaran ingin bisa bertemu dengan pengusaha wanita tersebut. Ia benar-benar tak ingin kalah saing dengan pengusaha lain yang telah berhasil menjalin kerja sama dengan pengusaha wanita tersebut.


"Pokoknya aku nggak mau tahu ya, secepatnya kamu hubungi wanita itu dan pertemukan aku dengannya. Kalau bisa hari ini juga," ucap Tian sedikit memaksa.


Saat itu juga Toni asisten pribadi Tian menghubungi nomor telepon milik Cantika, akan tetapi ia tidak bisa di ajak bertemu hari ini karena sedang sibuk.


"Maaf, Tuan. Saya sudah menghubunginya, katanya kalau untuk hari ini ia belum bisa menemui kita. Bagaimana kalau besok katanya," ucap Toni.


"Hem, ya sudah kamu kirim chat pesan atau telpon lagi dan katakan besok bertemu. Tentukan sekalian jam pertemuannya supaya ia benar-benar menyempatkan waktu untuk bisa bertemu ," perintah Tian.


"Baiklah, Tuan."


Sejenak Toni mengirimkan chat pesan padanya untuk mengadakan janji di hari esok dengan pengusaha wanita tersebut.


"Tuan, ia bersedia bertemu besok tetapi minta jam sembilan pagi. Karena siang ia akan menemui rekan kerjanya yang lain," ucap Toni.

__ADS_1


"Hem, ya sudah ok."


Kembali lagi Toni mengirimkan chat pesan pada pengusaha wanita tersebut untuk menerima kesepakatan bertemu besok jam sembilan pagi.


Selagi Tian di sibukkan dengan urusan pekerjaan kantor, di rumah Inka mulai menjalankan aksinya. Ia mencari semua barang-barang penting milik Tian.


"Dimana Mas Tian menyimpan semua dokumen pentingnya ya? jika aku tak juga menemukannya akan menyita waktuku saja. Seperti ini aku harus tinggal lama di rumah ini, karena belum juga berhasil menemukan apa yang aku incar."


Terus saja Inka mencari-cari dokumen penting milik Tian, tetap saja tak ketemu. Hingga ia merasa lelah juga.


"Jika seperti ini aku harus segera menjalankan rencana B. Terpaksa dengan jalan kasar," batin Inka menyeringai licik.


Entah apa yang sedang ia pikirkan dan akan ia lakukan pada Tian.


Hingga sore menjelang, Tian pulang dan di sambut hangat oleh Inka. Tian merasa ada yang aneh karena kini istrinya bersikap lembut tidak seperti biasanya cuek padanya.


"Mas Tian sayang, pasti kamu lelah sekali ya?" Inka menyalami suaminya dan ia pun bergelayut manja di lengannya serta satu tangan membawakan tas kerja miliknya.


"Mas, aku sudah siapkan air untuk mandi. Kamu mandi sekalian dan setelah itu kita makan bareng ya?" ucap Inka lembutnya.


Tian hanya tersenyum kecil, tetapi di dalam hatinya penuh dengan tanda tanya.


"Biasanya aku melakukan semua ini sendiri. Kenapa Inka berubah seperti ini? apa ia sudah mulai sadar untuk perannya menjadi seorang istri?" batin Tian.


"Jika aku tegur dan mengatakan akan hal ini, yang ada nanti Inka marah atau tersinggung. Biarlah dia seperti ini toh positif" batinnya lagi.


Setelah sejenak melakukan ritual mandi sorenya, kini badannya sudah terasa segar. Inka menghampirinya dan mengajaknya ke ruang makan.


Ia dengan cekatan mempersiapkan semuanya untuk Tian. Melayaninya dengan senyuman dan keramahan.


"Makanlah, mas. Ini masakanku loh, cobalah," pintanya lembut.

__ADS_1


Tian pun langsung mencicipi sedikit makanan itu.


"Hem, enak juga. Serius ini kamu yang masak?" tanya Tian tidak percaya.


"Astaga, mas. Jadi kamu tidak percaya? apa aku perlu memasak di hadapanmu sekarang juga?" rajuk Inka.


"Ya aku percaya, begitu saja kok sewot. Kenapa aku hanya makan sendiri, kenapa kamu nggak makan juga?" tanya Tian yang melihat Inka hanya menatap dirinya saja.


"Kebetulan aku belum lapar, mas. Gampang nanti aku makan. Yang terpenting suamiku dulu yang makan. Karena suamiku yang tampan ini kan bekerja dari pagi hingga sore bahkan kadang hingga malam untuk diriku," rayu Inka.


"Hem, tumben kamu seperti ini? apa kamu sedang merayuku, ingin membeli sesuatu?" tanya Tian terkekeh sambil menyantap makan tersebut.


"Nggak mas, aku sedang tidak ingin apa pun. Aku hanya ingin menjadi istri yang baik untuk dirimu saja. Memang aku salah ya, jika aku berubah menjadi seperti ini? apa sebaiknya aku kembali pada diriku yang dulu saja ya?" ucap Inka.


"Jangan dong, aku suka kamu yang manis dan lembut seperti ini. Membuat aku nyaman dan kerasan di rumah," ucap Tian.


"Hem, lambat laun juga kamu akan kerasan tinggal di rumah. Tetapi tergeletak saja di kasur jika efek racun itu sudah mulai bereaksi."


"Kamu tidak tahu, mas. Aku menaruh sedikit demi sedikit racun untuk melumpuhkan saraf otak dan tubuh di dalam makanan yang kamu makan."


"Aku memang sengaja ingin menuangnya sedikit demi sedikit saja. Supaya kamu itu seolah alami sakit biasa dan pada akhirnya lama-lama sakitmu parah."


"Jika aku tuang racun itu seluruhnya, aku bisa ketahuan. Dan rencanaku bisa gagal."


Di dalam hati Inka mulai tersenyum senang, karena melihat usahanya untuk meracuni Tian berhasil. Tian makan dengan lahapnya hingga tak bersisa.


Beberapa menit kemudian, Tian mulai merasakan kepalanya pening.


"Inka, aku ingin tidur cepat ya. Kepalaku sakit sekali nech. Aku bisa minta tolong ambilkan obat sakit kepala di kotak obat yang ada di ruang tengah," pinta Tian seraya memijit pelipisnya.


To be continued.....

__ADS_1


__ADS_2