Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Kelicikan Rani & Mamahnya


__ADS_3

Tak berapa lama, Rani telah sampai di rumah orang tuanya. Ia langsung mencari keberadaan mamahnya.


"Mah, lagi sibuk nggak? ada yang ingin aku bicarakan dengan mamah sekarang juga, bisa kan?" pinta Rani menatap sendu Mamah Bella.


Mamah Bella yang sedang menonton acara televisi kesukaannya, mengecilkan volume suaranya.


"Ada apa sih, Rani. Kamu ganggu mamah saja, padahal lagi seru nech sinetronnya?" tanya Mamah Bella tak suka di ganggu.


"Maaf dech, mah. Tapi ini serius penting banget kok, memang acara televisinya baru mulai atau bagaimana?" tanya Rani.


"Lagi seru, sebentar lagi mau the end," ucap Mamah Bella seraya terus menatap ke arah televisi dan kembali menambah volume suaranya.


"Ya sudah, selesaikan dulu acara televisinya. Biar kita bicara nanti saja dari pada nggak fokus. Aku mau minta tolong si mbok untuk memijitku karena pinggang sakit akibat terjatuh."


Namun pada saat Rani akan beranjak pergi, Mamah Bella mematikan televisinya.


"Rani, apa yang barusan kamu katakan? terjatuh, memangnya kamu jatuh dimana sih? selama ini kamu nggak pernah jatuh loh," tanya Mamah Bella penasaran.


Rani menceritakan apa yang telah terjadi padanya di rumah Tian. Mendengar pengaduan dari Rani, Mamah Bella menjadi sangat kesal.


"Ini tidak bisa di biarkan begitu saja, Rani. Kita harus bisa bertindak tegas, supaya pelakor itu tidak semakin merajalela di rumah Tian," ucap Mamah Bella kesal.


"Hem, dari tadi juga aku kesini karena ingin minta saran ide dari mamah. Karena saran mamah yang ini nggak berpengaruh sama sekali pada Mas Tian. Ia tetap tak peduli padaku walaupun aku telah mengatakan jika aku ini sakit parah. Percuma saja kan jika seperti ini," ucap Rani.


"Kamu nggak usah khawatir, mamah pasti akan bantu kamu. Tapi di rumah Tian ada CCTV nggak?" tanya Mamah Bella.

__ADS_1


"Nggak ada, mah."


"Memangnya kamu susah cek sendiri kalau memang tidak ada?" tanya Mamah Bella untuk memastikan.


"Tahulah, aku dengar sendiri tadi Mas Tian yang mengatakannya. Memang rencana mamah, apa?" tanyanya mulai penasaran.


Mamah Bella membisikkan sesuatu di telinga Rani. Setelah itu keduanya sama-sama tersenyum seolah mereka yakin jika usahanya akan berhasil.


"Sekarang juga apa, mah? kita ke rumah Mas Tian, atau kapan?" tanya Rani untuk memastikan.


"Sekaranglah, masa tahun depan. Lebih cepat lebih baik. Mamah yakin kali ini usaha kita akan berhasil. Dan kamu akan menjadi istri satu-satunya, Tian."


Keduanya langsung berlalu pergi dan segera menyambangi rumah Tian dengan membawa sebuah rencana yang baru. Perjalanan ke rumah Tian yang baru, tidak membutuhkan waktu lama hingga hanya beberapa menit saja telah sampai di pelataran rumah Tian yang baru.


Mamah Bella terlebih dahulu turun dari mobil, sementara Rani melajukan kembali mobilnya menuju ke parkiran mobil.


Cantika bisa mendengar jelas suara deru mobil, ia pikir suaminya pulang kembali karena ada sesuatu yang tertinggal hingga ia keluar untuk mengeceknya.


"Siapa wanita paruh baya ini ya?" batin Cantika pada saat melihat Mamah Bella.


"Hey, pasti kamu yang bernama Cantika kan? saya Mamah Bella, mamahnya Rani." Tanpa ada rasa sungkan ia mengulurkan tangannya, Cantika membalas uluran tangannya seraya tersenyum kecut.


"Tante, mencari Mba Rani? barusan ia pergi kok, Tante," ucap Cantika berusaha ramah walaupun di dalam hatinya mulai ada rasa curiga.


"Iya, nak. Tante kemari juga bersama Rani, mungkin ia sedang ada di kamarnya. Oh ya, Tante minta maaf ya atas sikap Rani. Barusan ia cerita macam-macam pada, Tante. Tapi Tante sih nggak percaya, karena Tante itu sudah paham dengan sifat Rani yang terlalu berlebih-lebihan dan manja. Maklum lah ia kan anak semata wayang, jadi sudah terbiasa kami manjakan jadi bertumbuh seperti itu," ucap Mamah Bella.

__ADS_1


"Iya, Tante nggak apa-apa. Silahkan ya Tante, karena saya masih ada urusan yang lain."


Akan tetapi pada saat Cantika akan berlalu pergi, Mamah Bella melarangnya.


"Nak Cantika, tunggu dulu. Duduklah sebentar dan temani Tante ngobrol." Pintanya seraya mencekal lengan Cantika menahannya untuk tidak pergi.


Hingga pada akhirnya Cantika duduk di sofa di hadapan Mamah Bella. Tak berapa lama keluarlah Rani, ia sudah siap dengan aktingnya.


"Cantika, aku minta maaf ya atas kelakuanku tadi pada saat ada Mas Tian. Aku lakukan itu karena aku teramat cinta pada Mas Tian, dan aku sangat cemburu melihat kebersamaannya denganmu." Rani pura-pura menyesal dengan apa yang telah ia lakukan, seraya menggenggam jemari tangan Cantika.


"Hem, kamu pikir aku tak tahu apa yang ada di otakmu itu Rani. Aku yakin ini cuma trik saja, kamu itu pura-pura menyesal tetapi sebenarnya sedang merencanakan sesuatu yang baru untuk mencelakai aku dan bayiku. Baiklah Rani, aku akan ikuti permainanmu dan mamahmu itu," batin Cantika.


"Hem, ya nggak apa-apa Rani. Aku sudah paham kok. Wanita mana juga yang takkan cemburu jika suaminya menikah lagi. Aku yang minta maaf ya, sudah hadir diantara kalian berdua. Jika aku tak hamil pasti aku akan mengalah dan pergi dari Mas Tian. Tapi karena ada anak ini jadi aku tak bisa pergi begitu saja," ucap Cantika seraya menepiskan genggaman tangan Rani dan mengusap perut sendiri.


"Hem, makanya dari itu aku akan membuatmu kehilangan janinmu sekarang juga," batin Rani sinis.


"Rani, mamah mendadak haus. Kamu ke dapur sana buatkan minuman untuk mamah, sekalian juga buatmu dan Cantika. Mamah ingin ngobrol dengan kalian berdua di sini," pinta Mamah Bella sengaja menyela pembicaraan antara Rani dan Cantika.


"Baiklah, mah. Sebentar ya, Cantika. Kamu di sini saja dulu ya, temani mamahku."


Rani beranjak bangun dari duduknya dan ia melangkah masuk menuju ke arah dapur. Untung saja celana yang saat ini Cantika kenakan ada sakunya hingga ia selalu mengantongi ponselnya.


Ia pun meraih ponselnya untuk melihat rekaman video CCTV dari ponselnya. Ia ingin tahu apa yang akan Rani lakukan padanya. Sementara Mamah Bella juga asik memainkan ponselnya, ia sedang mengajarkan Rani menuang serbuk racun untuk minuman yang akan di sajikan untuk Cantika.


"Hem, jadi ini rencana ibu dan anak untukku? ingin meracuni diriku supaya terjadi hal buruk pada janinku," batin Cantika.

__ADS_1


Iapun memasukkan ponselnya kembali kedalam kantung celananya pada saat Rani datang dengan ketiga minumannya.


"Cantika, ini aku buatkan susu ibu hamil supaya bayimu bertambah sehat dan ibunya juga kuat." Rani meletakkan susu di hadapan Cantika.


__ADS_2