Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Membereskan Kekacauan


__ADS_3

Tian terus saja menggerutu sendiri, setelah itu ia keluar rumah yang tinggal puing itu dan menghampiri Cantika yang sedang bersama dengan bibi.


"Kalian ikut aku kerumah yang lama untuk sementara waktu. Bi, nggak usah khawatir ya. Nanti pasti aku ganti semua barang bibi yang ikut terbakar," ucap Tian.


"Ya, den. Nggak usah begitu di pikirkan dulu. Bibi sudah selamat saja itu sudah untung kok," ucapnya.


Kini Tian malah terus memikirkan tentang rumahnya yang terbakar. Hingga ia lupa dengan tujuan utamanya untuk ke kantor polisi. Cantika juga tak bisa berkata-kata, ia juga tak ingin membuat suaminya bertambah sedih.


Saat itu juga Tian mengajak bibi dan Cantika ke rumah lamanya. Ia berusaha untuk merelakan kejadian itu yang membuatnya rugi besar.


"Mas Tian, kamu yang sabar ya. Pasti Allah akan mengganti dengan yang lebih baik," ucap Cantika mencoba menghibur suaminya.


Namun pikiran Tian sedang tidak fokus, hingga ia sama sekali tak menanggapi apa yang di katakan oleh Cantika. Hingga tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah lama.


Sementara di rumah Mamah Bella, saat ini Ia dan Rani sedang tertawa bahagia di kamar Rani.


"Hhhaaa, mamah bilang apa? usaha kita berhasil bukan? kini rumah Tian sudah terbakar habis, dan mamah yakin saat ini Tian dan pelakor itu sudah mati di dalam kebakaran itu," ucap Mamah Bella senang.


"Kenapa Mamah seyakin itu sih? belum tentu juga mereka mati di dalam kebakaran yang mamah rekayasa itu,' ucap Rani lantang hingga tak sadar ada sepasang telinga yang mendengar akan hal itu.


"Apa yang kalian lakukan? kejahatan apa dan rumah siapa yang kalian bakar? mah, jawab?" tiba-tiba datang Papah Willy.


"Papah ini ngomong apa sih? datang-datang kok aneh seperti ini? kami kan sedang menceritakan acara televisi, sinetron favorit kami," elak Mamah Bella.


"Oh, aku pikir mamah dan Rani telah melakukan kejahatan yang sangat fatal. Ya sudah kalau begitu," ucap Papah Willy seraya berlalu pergi dari kamar Rani.


Ia benar-benar tak curiga sama sekali dengan alasan yang di berikan oleh istrinya, karena memang kebetulan televisi di kamar Rani juga sedang menyala dan acaranya sinteron.

__ADS_1


"Mamah pintar sekali berakting hingga papah percaya saja dengan apa yang barusan mamah katakan," bisik Rani.


"Mah, lantas langkah selanjutnya apa ya?" tanya Rani bingung.


"Kita tunggu dulu kabar selanjutnya dari salah satu tetangga di mana Tian tinggal. Semoga saja Tian dan pelakor itu benar-benar terluka parah dan meninggal supaya semua harta Tian jatuh ke tanganmu sebagai istri sahnya," bisik Mamah Bella.


"Hem, hebat sekali rencana mamah ini."


Rani memuji kelicikan mamahnya seraya mengacungkak kedua ibu jarinya.


*******


Pagi menjelang, terpaksa Tian tidak bekerja karena ia ingin mengurus kekacauan yang telah terjadi akibat kebakaran sore hari. Ia hanya datang sebentar ke kantor untuk mengecek apakah ada fotokopian dari semua berkas yang ia simpan di rumah yang terbakar itu.


"Sayang, aku sudah memerintah beberapa anak buah ku untuk menjaga rumah ini. Kamu harus selalu waspada ya, dan jangan pergi kemana-mana sebelum aku kembali."


"Aku hanya pergi sebentar ke kantor untuk mengecek apakah ada fotokopian dari semua berkas yang sempat terbakar di rumah itu. Atau mungkin aku menyimpan filenya di laptop yang ada di ruang kerjaku di kantor."


"Bi, aku titip istriku ya. Jika ada apa-apa tolong berkanar lewat ponsel."


Setelah sejenak berpamitan pada istri dan asisten rumah tangganya Tian pun langsung melajukan mobilnya menuju ke kantornya. Hatinya saat ini sedang tidak karuan karena memikirkan permasalahan yang sedang terjadi.


Tak berapa lama Tian telah sampai di kantornya. Ia pun lekas menuju ke ruang kerjanya. Situasi di kantor pada saat itu sudahlah sepi karena semua karyawan dan karyawati telah pulang, hanya tinggal dua security yang sedang bertugas berjaga di kantor Tian.


Dengan sangat teliti Tian mengecek ruangan kantornya dari laci dari almari semuanya di cek.


"Alhamdulillah ternyata aku menyimpan semua fotokopian yang berkas-berkas penting yang aku simpan di rumah yang terbakar itu. Terima kasih ya Allah aku ternyata juga memiliki filenya jadi aku tidak bingung lagi."

__ADS_1


Setelah ia menemukan apa yang dicarinya, ia pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah.


"Astaga aku jadi terlupa akan melaporkan semua kejahatan Rani ke kantor polisi gara-gara memikirkan rumah aku yang sempat terbakar."


"Sebaiknya saat ini juga aku ke kantor polisi untuk melaporkan segala kejahatan yang telah dilakukan oleh Rani, karena aku tak ingin Rani melakukan kejahatan yang lain yang akan mencelakai istri dan calon anakku."


Akhirnya saat itu juga Tian melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi terdekat untuk melaporkan tindak kriminal yang dilakukan oleh Rani dan mamahnya.


Untung saja Tian masih menyimpan rekaman video CCTV yang ada di dalam ponselnya sehingga ia tidak bingung untuk membuktikan segala kejahatan yang telah dilakukan oleh Rani dan mamahnya kepada pihak yang berwajib.


Pada saat Tian baru turun dari mobil dan akan melangkah masuk ke dalam kantor polisi, seorang pemuda seumuran dirinya menepuk bahunya.


"Tian, bukannya kamu Tian kan ya?" sapa seseorang yang memakai seragam polisi dengan menepuk bahunya, karena pria ini hanya bisa melihat Tian dari arah samping saja.


Tian menoleh ke arah sumber suara yang telah menyapa dirinya.


"Ivan, bagaimana kabarmu? aku pikir kamu masih berada di LA. Apakah sekarang kamu tugas di sini?" tanya Tian seraya menyalami pemuda yang ternyata adalah sahabat masa kuliah dulu.


"Aku baru satu bulan di Indonesia ini, dan kebetulan aku di tugaskan di kantor ini. Apakah kamu ada masalah kok sampai datang ke kantor polisi?" tanya Ivan penasaran.


"Hem, iya aku ingin melaporkan kejahatan Rani," ucap Tian sekenanya.


"Hah, Rani kan istrimu? kenapa juga kamu ingin melaporkannya?" tanya Ivantak percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh Tian.


"Apakah kamu mau bantu aku, Ivan? panjang jika di ceritakan," ucap Tian seraya menghela napas panjang.


"Sepanjang apa, memangnya bisa sampai berapa hari jika kamu ceritakan padaku? biar aku tahu awal mula sebab akibst dari permasalahan yang sedang kami hadapi," ucap Ivan semakin penasaran.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya padamu."


Saat itu juga Ivan menceritakan semuanya pada Ivan. Bahkan ia juga memperlihatkan bukti rekaman video CCTV pada Ivan. Sejenak ia menatap wajah Cantika. Dan sejenak ia teringat dengan seorang gadis yang beberapa tahun lalu pernah ia lihat di sebuah desa pada saat sebelum ia berangkat ke LA.


__ADS_2