
Tian menemukan ponsel yang satunya di ruang kerjanya.
"Astaga, ternyata ponselku tertinggal di kantor. Kenapa aku jadi berantakan tak karuan seperti ini? baru kali ini aku seperti ini."
"Kehilangan klien penting yang sangat tersohor. Ini semua gara-gara ulah Cantika! awas saja kalau kamu pulang ya!"
Tian terus saja menggerutu menyalahkan kekacauan yang ia alami hari ini karena Cantika. Tak berapa lama, makanan pesanan datang. Ia makan dengan lahapnya karena memang sudah dari sore menahan rasa laparnya.
Berbeda situasi dengan Cantika. Yang saat ini mulai membina hidup yang baru tanpa adanya Tian. Ia hidup hanya dengan Salsabila dan bibi serta Siska.
Saat ini ia sedang berpikir untuk bekerja. Ia tidak ingin jika selamanya tidak membayar Siska dan bibi.
"Aku harus bekerja, tetapi aku akan bekerja apa ya?" sejenak Cantika berpikir, lantas ia ingat jika dirinya bisa menjahit.
"Oh iya, aku kan bisa menjahit, tapi sayangnya nggak ada mesin jahit. Aku akan membeli mesin jahit yang seken saja tetapi yang masih bagus dan bisa di pakai."
"Selain mesin jahit, aku juga akan mencari kain perca di tempat butik atau garmen. Dan akan aku buat berbagai kerajinan tangan juga dari kain perca."
"Kebetulan dulu aku pernah di ajari almarhumah ibu membuat beraneka macam kerajinan tangan dan pakaian atau selimut dari kain perca."
"Bismillah, aku yakin Allah pasti akan buka jalan untuk diriku bisa mendapatkan rezeki secara halal."
Pagi itu juga, Cantika berpamitan pada bibi, dan juga tak lupa ia menitipkan Salsabila pada Siska. Ia akan mencari kain perca dan juga membeli mesin jahit.
Seperginya Cantika, karena kebetulan Salsabila sedang tidur. Hingga Siska pun tidak begitu repot. Ia menyempatkan diri untuk menemui Bibi.
"Bi, bisa kita bicara sebentar saja," pinta Siska.
__ADS_1
"Bisa, ada apa Siska?" tanya bibi penasaran.
"Bibi jangan khawatir ya, bibi akan tetap dapat gaji walaupun bukan dari Non Cantika. Tapi aku minta bibi rahasiakan hal ini ya," ucap Siska lirih.
"Siska, bibi nggak mengerti apa yang kamu katakan," ucap Bibi memicing alisnya.
Hingga pada akhirnya, Siska menceritakan tentang misinya itu pada bibi. Jika ia sebenarnya di tugaskan menjadi seorang mata-mata oleh Ivan.
"Astaga, jadi sebenarnya kamu ini adalah seorang polwan yang sedang menyamar? aduh, bibi minta maaf ya Bu Polwan. Bibi sama sekali nggak tahu, jadi selama ini memanggilmu dengan nama saja." Bibi menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Bi, aku mengatakan kejujuran ini bukan berarti aku ingin bibi hormat dan segan padaku. Bibi bersikap biasa saja padaku. Jika tiba-tiba bibi berubah dalam bersikap, pasti nanti Non Cantika curiga."
"Kita harus merahasiakan ini, hingga waktunya nanti jika Tuan Ivan sudah kembali ke Indonesia barulah aku akan berkata jujur tentang jati diri aku yang sebenarnya."
"Jadi untuk saat ini bibi tetap bersikap yang wajar saja ya. Aku mengatakan hal ini karena di minta oleh Tuan Ivan, supaya memberi tahu bibi."
Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Siska panjang lebar, bibi pun telah mengerti dan ia tidak lagi khawatir tentang gaji.
"Siska, kamu tahu saja jika sebenarnya di dalam hati bibi merisaukan gaji. Walaupun bibi memang pernah mengatakan jika untuk sementara tidak digaji tidak apa-apa."
"Karena bibi juga tidak tega melihat kondisi Non Cantika saat ini. Bibi tidak munafik, butuh uang untuk kirim di kampung untuk biaya sekolah dua anak bibi."
"Aku pasti tahulah bi, kan aku ini seorang cenayang yang sedang menyamar," canda Siska terkekeh.
"Janji ya, bi. Jangan mengatakan rahasia ini pada, Non Cantika. Nanti yang ada rencana Tuan Ivan berantakan. Dan aku bisa di usir dari rumah ini," ucap Siska.
"Bibi tidak akan mengatakan apapun pada Non Cantika. Nanti efeknya juga ke bibi. Bibi bisa nggak dapat gaji dari Tuan Ivan dong," ucap bibi sumringah.
__ADS_1
Setelah itu mereka melakukan aktivitasnya lagi. Bibi melanjutkan di dapur.
"Ya Allah, aku sama sekali tidak menyangka orang yang selama ini aku hormati dan aku kagumi kebaikannya bisa berubah drastis pada Non Cantika hanya karena ia menginginkan keturunan lelaki," gumam bibi di dapur seraya menggelengkan kepalanya.
"Dulu aku selalu membelanya pada saat Non Rani bersikap tak baik padanya. Seharusnya Tuan Tian bersyukur telah diberi istri yang Solehah dan sangat penurut padanya. Bukan malah seperti ini. Aku yakin sebentar lagi pasti Tian Tian menyesali tindakannya yang salah selama ini pada Non Cantika."
"Dan pada saat Tuan Tian menyesali semuanya. Saat itu Non Cantika sudah menjadi milik Tuan Ivan."
Terus saja bibi menggerutu sendiri di sela aktifitasnya. Sedangkan saat ini Siska mengirimkan chat pesan pada Ivan.
[Tuan Ivan, saat ini Non Cantika sedang pergi keluar. Dia berpamitan ingin membeli mesin jahit yang seken dan juga mencari kain perca untuk membuat aneka ragam kerajinan tangan.]
Drt drt drt drt drt drt drt
Satu notifikasi chat pesan telah masuk ke dalam nomor ponsel milik Ivan. Ia segera membuka dan membacanya perlahan, dan ia pun membalasnya.
[Aku akan mengirimkan mesin jahit yang baru tapi bukan cuma satu melainkan dua. Yang satu untuk menjahit bisa yang satu untuk obras. Aku juga akan meminta salah satu garmen untuk mengirimkan kain perca ke rumah Cantika. Intinya kamu terus saja beri tahu aku segala apa yang saat ini di butuhkan oleh Cantika. Karena aku tak mau ia bersusah payah mencarinya sendiri.]
Chat balasan pesan masuk ke dalam nomor ponsel milik Siska. Ia membacanya dengan seksama.
Setelah mendapatkan informasi penting dari Siska. Tanpa menunggu waktu lama, Ivan memesan dua mesin jahit dan dikirimkan ke alamat rumah Cantika saat ini juga. Ia juga tak lupa minta salah satu garmen terbesar di kota dimana saat ini Cantika tinggal, untuk mengirimkan kain perca ke alamat rumah Cantika.
Karena kebetulan Ivan kenal baik dengan pemikiran garmen tersebut. Ia tak susah payah untuk mencarikan kain perca bagi Cantika. Bahkan pemilik garmen siap menerima Cantika jika ia berniat kerja di garmennya.
"Semoga saja semua pesanan aku lekas sampai di rumah Cantika," batin Ivan lega dan ia pun melanjutkan aktifitasnya lagi.
Sementara setelah beberapa jam lamanya Cantika mencari mesin jahit seken dan kain perca. Ia pulang dengan tangan hampa.
__ADS_1
"Aku tidak berhasil, tapi tidak apa-apa. Besok aku akan usaha lagi berkeliling mencari toko yang menjual mesin jahit seken dan garmen yang bersedi memberikan kain perca dengan cuma-cuma. Karena uangku tak cukup jika untuk bayar kain perca."