
Setelah beberapa kali melihat bukti rekaman video CCTV yang di tunjukkan oleh Cantika padanya. Kini Tian melangkah keluar kamar untuk menemui Rani yang sedang berpura-pura sakit di dalam kamarnya.
"Rani, kok suamimu tak juga datang kemari ya? padahal kan tadi mamah sempat mendengar suara mobil yang masuk ke pelataran rumah?" tanya Mamah Bella.
"Biasalah mah, sedang asyik di kamar si pelakor. Paling nanti sebentar lagi Mas Tian kemari. Saran mamah ini kurang tepat dengan memintaku untuk berpura-pura sakit keras. Mas Tian tetap acuh padaku, mah. Dan ia sama sekali tetap tak peduli padaku, aku cape juga berpura-pura sakit seperti ini sementara tak membuahkan hasil yang bagus untuk ku," ucap Rani tak sadar jika di balik pintu Tian telah mendengar percakapan antara dirinya dan mamahnya.
"Prok prok prok prok"
"Bagus sekali aktingmu, Rani. Berpura-pura sakit keras supaya tak di cerai olehku dan juga supaya kamu bisa menyingkirkan Cantika serta bayinya."
Ucap Tian muncul dari balik pintu seraya bertepuk tangan dan tersenyum sinis. Rani dan Mamah Bella gelagapan mati kutu tak bisa berkutik sama sekali.
"Kenapa kamu diam, Rani? ataukah sedang mencari satu alasan lagi? sedang mencari kebohongan lagi untuk menutupi kebohonganmu yang lain?"
Tian sengaja memojokkan Rani bahkan ia tak sungkan mengatakan hal itu di depan mamah mertuanya.
"Mas, ini tak seperti yang kamu dengar dan pikirkan," ucap Rani gelagapan.
"Rani, telingaku ini masih waras untuk mendengarkan segala yang kamu katakan barusan bersama mamahmu ini. Jadi kamu tak usah lagi mengelak, aku sudah tak percaya lagi padamu," Tian menahan geram.
"Dan anda, kenapa sebagai seorang ibu bukannya memberikan saran yang baik tetapi malah mengajarkan kebohongan pada anak anda?" tegurnya pada mamah mertuanya.
"Kamu masih bisa bertanya kenapa padaku, Tian? aku memang yang menyarankan hal itu pada Rani, karena demi bisa mempertahankan rumah tangganya bersamamu yang akan hancur oleh pelakor itu!" tunjuknya kasar seraya menatap tajam ke arah Cantika.
__ADS_1
"Asal anda tahu, Cantika ini bukan pelakor. Justru anak anda yang tak becus menjadi istri hingga rumah tangga kami di ambang kehancuran. Cantika justru datang di saat yang tepat menjadi pengobat luka di hatiku karena tingkah anak anda!"
"Rani, apa kamu lupa dengan apa yang pernah aku katakan saat terakhir kali mencegah kepergianmu ke luar negri?"
"Jika kamu tetap pergi, aku akan bertindak sesuka hatiku. Dan ancamanku tak kamu hiraukan bukan? kamu malah tetap memutuskan pergi dan bahkan sama sekali tak memberi kabar padaku untuk beberapa bulan lamanya."
"Aku ini seorang suami, tetapi selama ini kamu tak pernah anggap aku ini suamimu. Kamu bersikap acuh padaku dan tak pernah memikirkan segala kebutuhanku yang seharusnya di lakukan dan di jalankan olehmu sebagai seorang istri.'
"Kamu selalu anggap aku ini tak ada bagimu. Dan sedikitpun tak pernah menghiraukanku."
"Jadi untuk apa aku bertahan dengan pernikahan yang tak sehat. Bahkan dikala aku ingin seorang anak, kamu selalu saja tak mau untuk kita punya anak bukan?"
"Cantika ini tidak salah, akulah yang salah karena waktu itu aku tak mengatakan jika diriku sudah beristri."
Mendengar apa yang di katakan oleh Tian, tak lantas membuat Rani sadar akan kesalahannya dan meminta maaf. Ia malah semakin marah dan tak suka pada Cantika.
"Mas, kamu telah di butakan dengan guna-guna yang di berikan oleh pelakor itu. Lagi pula apa kamu yakin jika anak yang sedang di kandungnya itu murni anakmu?" ejek Rani tersenyum sinis.
"Jaga bicaramu, Rani! aku yakin sekali yang ada di kandung Cantika adalah anakku. Selain aku akan melanjutkan gugatan ceraiku padamu, aku juga akan menuntutmu dan mamahmu ini. Aku akan melaporkan tindakan kriminal kalian berdua yang akan meracuni Cantika!" bentak Tian sudah hilang kendali.
"Mas, kamu yang sabar. Tak boleh seperti ini," ucap Cantika seraya mengusap dada suaminya.
"Maafkan aku sayang, aku berbuat seperti ini karena aku tak rela mereka mencoba membunuh anak kita bahkan dengan cara paksa," Tian pun meredam emosinya, nada bicaranya tak lagi meninggi.
__ADS_1
'Tian, apa kamu tak takut jika saya akan balik menuntut kamu dengan tuduhan pencemaran nama baik?" Mamah Bella balik mengancam Tian.
"Oh jadi anda akan balik melaporkan saya? silahkan saja, toh bukti yang kami punya ini sangat akurat dan kuat. Apa lagi ada juga saksi yang sempat melihat kejahatan anak anda dan anda," ucap Tian tak gentar dengan ancaman mamah mertuanya.
"Memangnya bukti apa yang kamu punya hah? coba kamu tunjukkan pada kami, saya yakin kamu hanya gertak sambal doang. Tak punya bukti apapun," ejek Mamah Bella.
"Hem baiklah, jika begitu kita bertemu di kantor polisi. Karena bukti yang aku punya tidak akan aku perlihatkan pada kalian berdua di sini, tapi nanti jika aku sudah ada di kantor polisi," ucap Tian.
"Hallah, Tian-Tian. Kamu pikir saya takut, tidak sama sekali. Saya akan tunggu kamu di kantor polisi," tantang Mamah Bella.
"Mah, jangan menantang Mas Tian seperti itu. Dia kan sudah tahu kalau aku ini bohong dan main-main dengan berkata sakit parah," bisik Rani mulai ketakutan.
"Rani, bodoh banget sih kamu. Dia tahu kamu bohong, tapi kan cuma sebatas karena kamu ngomong dan ia mendengar. Tapi kan dia sama sekali tidak punya bukti apa-apa? jadi kita akan tetap aman, nanti di kantor polisi kita justru bisa gunakan surat keterangan cek kesehatan kamu itu. Malah Tian yang bisa kita tuntut," bisik Mamah Bella.
"Heh, sudah cukup ya diskusi kalian. Silahkan kalian berpikir dan berdiskusi di rumah kalian, jangan di sini," ucap Tian mengusir Rani dan mamahnya.
"Mas, kamu mengusir kami?" tanya Rani memastikan.
"Ya, pergilah kamu bersama mamahmu dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini atau rumahku yang pernah di tempati oleh kita," ucap Tian ketus.
"Aku nggak mau, mas. Ini juga rumahku karena aku masih istri sahmu jadi aku takkan angkat kaki dari rumah ini," ucap Rani.
"Seenaknya saja kamu bicara, aku punya rumah ini sebelum aku menikah denganmu. Bahkan pada saat kamu menikah denganku, semuanya sudah ada dan kamu tak bawa apapun. Semua murni milikku," ucap Tian.
__ADS_1
"Rani, ayok kita pergi dari sini. Mamah yakin kok, suatu saat nanti Tian akan menyesali perbuatannya ini pada kita," ucap Mamah Bella.