Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Masih Bisa Bersyukur


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Tian juga masih belum bicara apa pun pada Cantika. Akan tetapi hal ini tidak di pusingkan oleh Cantika. Karena ia tak ingin pikirannya terganggu hingga kehamilannya juga tak sehat. Ia berusaha bersikap masa bodoh dengan sikap Tian.


"Silahkan saja, mas. Aku ingin tahu sampai kapan sikapmu ini, dan aku juga ingin tahu seberapa kuat aku bertahan denganmu. Intinya saat ini aku masih bisa bertahan," batin Cantika.


"Dulu aku berperang dengan Rani dan mamahnya. Kini aku justru berperang dengan suamiku sendiri. Aku masih bertahan hingga anak ini lahir saja," batin Cantika.


"Aku sudah tidak peduli lagi jika aku sudah tak punya siapa-siapa lagi dan hanya sebatang kara di dunia ini. Aku tidak akan peduli apapun lagi jika memang pada akhirnya nanti, aku ini tidak bisa lagi menahan sikap suamiku."


Terus saja Cantika saat ini sedang dilema karena sikap Tian yang tak menentu. Cantika sudah tidak bisa berkata-kata lagi, karena memang sudah tidak ada satu kata lagi yang bisa ia ucapkan.


Hingga pagi menjelang, barulah Tian mengatakan satu patah kata pada saat mereka sedang sarapan pagi.


"Aku minta maaf atas sikapku kemarin pada saat di dokter kandungan. Aku mencoba meyakini jika nanti anak yang lahir ini adalah laki-laki," ucap Tian.


"Minta maafmu itu tidaklah tulus karena aku bisa melihat dari raut wajahmu, mas. Masa iya minta maaf kok wajah tetap saja murung?" batin Cantika.


'Cantika, aku sedang bicara padamu tapi kenapa kamu diam saja sama sekali tak merespon apa yang barusan aku katakan. Sebenarnya apa sih mau kamu?" tanya Tian mulai ngegas.


"Mas, apa nggak capek setiap hari marah-marah terus? apa nggak takut cepat tua dan wajah menjadi keriput tak tampan lagi? kenapa bicara selalu saja ngegas pake otot," ucap Cantika.


"Mas, terima kasih atas pengertianmu.


Semoga saja Allah mengabulkan keinginan dirimu dengan memberikan anak laki-laki padamu," ucap Cantika.


"Nah, dari tadi kek kamu katakan hal seperti itu. Senang sekali sih kamu memancing emosi aku dulu?" ucapnya mulai reda amarahnya.


Cantika hanya diam saja, ia tak ingin lagi berkata karena tak ingin suaminya kembali ngegas. Sejak Cantika mengetahui jika suaminya yang sekarang mudah marah, ia pun hanya sedikit bicara. Karena tak ingin menyulut amarah suaminya semakin besar.

__ADS_1


Hari-hari Cantika di lalui dengan rasa sedikit bahagia. Tetapi ia mencoba selalu bersyukur di setiap kondisi rumah tangganya.


"Terima kasih ya Allah, yang paling membuat aku bahagia yakni Bila selalu sehat dan pertumbuhannya luar biasa. Juga janin di dalam kandunganku ini juga sehat. Ini sudah cukup bagiku. Kami tidak kekurangan suatu apapun, karena Mas Tian punya segalanya dan ia bukanlah suami yang pelit. Aku masih bisa bersyukur, walaupun sifat Mas Tian tak selembut dulu setidaknya ia setia," doa Cantika di dalam hatinya.


Kehidupan Cantika yang tak sebahagia dulu membuat hidup seseorang tak nyaman dan gelisah. Ya, kehidupan seorang pemuda lajang yang pernah menaruh hati pada Cantika, tetapi sudah keduluan oleh Tian.


"Kenapa aku merasa ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikiranku ya? kenapa aku merasa selalu saja teringat pada wanita yang aku suka tetapi sudah menjadi istri orang? seharusnya aku tidak boleh memikirkannya terus, karena saat ini ia telah bahagia dengan Tian."


"Hem, aku akan ke Indonesia saja untuk melihat kondisi dirinya dan mungkin saat ini anaknya sudah besar, karena pada waktu itu ia sedang hamil."


Karena rasa resah gelisahnya yang tak terbendung, Ivan memutuskan untuk ke Indonesia. Ia meninggalkan pekerjaannya di LA untuk sejenak.


Ivan sengaja ingin menginap beberapa hari di rumah Tian, supaya ia tahu bagaimana kondisi rumah tangga sahabatnya itu.


Ivan pun menghubungi nomor ponsel Tian.


Kring kring kring kring kring


"Hay Ivan, bagaimana kabarmu di LA?"


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana Tian?"


"Aku juga baik, Ivan. Btw ada apa nech tumben telpon?"


"Tahu saja kalau aku telpon pasti ada sesuatu?"


"Jelas aku tahulah, memangnya kita berteman baru kemarin? kan sudah cukup lama, jadi aku hapal sifatmu itu."

__ADS_1


Di dalam panggilan telepon, Ivan mengungkapkan bahwa dirinya akan pulang beberapa hari ke Indonesia. Tapi ia ingin menginap di rumah Tian. Tanpa ada rasa curiga, Tian mengizinkan. Dia bahkan sangat senang jika Ivan bersedia menginap beberapa hari di rumahnya.


"Wah...suatu kehormatan jika seorang Komandan kepolisian mau singgah di rumah seorang Tian. Ya sudah kamu kasih tahu saja jadwal penerbangan pesawatmu dari LA, nanti aku perintah salah satu anak buahku untuk menjemputmu di bandara.'


"Siap, bos."


Setelah cukup lama, telponan. Keduanya mematikan panggilan telepon tersebut. Dan mereka masing-masing melanjutkan aktifitasnya. Ivan segera memesan tiket pesawat, sedangkan Tian melanjutkan urusan kantornya.


Setelah Ivan mendapatkan tiket pesawat, ia pun memberi tahu pada Tian untuk jam penerbangan dan nama pesawat terbang yang akan ia tumpangi.


""""""""


Saat ini Ivan sudah ada di depan rumah Tian, dan kebetulan Tian masih sibuk di kantor. Ia sudah memerintahkan Cantik untuk menyiapkan kamar tamu untuk Ivan.


"Maaf ya Cantika, aku jadi merepotkanmu padahal kamu sedang hamil besar seperti ini," ucap Ivan lembut.


'Hem... nggak kok Mas Ivan. Ini sudah menjadi rutinitasku setiap harinya," jawab Cantika menyunggingkan senyuman.


"Kenapa aku rasa senyumannya ini adalah keterpaksaan? apakah ada sesuatu yang terjadi pada rumah tangganya bersama Tian? ya Allah, kenapa aku sejauh ini ingin mencampuri urusan rumah tangga Cantika? maafkan aku ya Allah, entah kenapa hari ini takkan rela jika misalnya aku tahu Cantika tak bahagia," batin Ivan.


Cantika berlalu pergi tanpa di sadari oleh Ivan yang sedari tadi melamun. Ia pun mengemasi semua pakaian yang ada di koper dan di letakkan di almari yang telah tersedia di kamar tamu tersebut. Setelah semua rapi, ia pun merebahkan tubuhnya di pembaringan dan tak terasa matanya terpejam.


Ia terbangun pada saat Tian pulang dari kantor. Dan membangunkan dirinya.


"Hey, tidur mulu. Memangnya di pesawat kamu nggak tidur. Sudah sore, ayok kita makan bareng."


Tian menepuk-nepuk bahu Ivan hingga matanya terbuka.

__ADS_1


"Hem, gangguin saja. Padahal aku sedang mimpi sangat indah loh," ucap Ivan seraya mengerjapkan matanya lantas ia lekas bangkit dari kasur dan melangkah ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.


ia sejenak mencuci wajahnya supaya terlihat segar dan tak mengantuk lagi. Setelah itu ia melangkah keluar kamar mengikuti langkah kaki Tian menuju ke meja makan.


__ADS_2