Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Akhirnya Pergi Juga


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, sikap Tian semakin bertambah parah dan tak bisa di tolerir. Ia malah jarang pulang karena asik dengan Inka. Tian sengaja melakukan hal itu supaya Inka lekas hamil.


"Sepertinya sekarang ini, Non Cantika sudah bisa mengambil keputusan. Karena sudah satu minggu berlalu dan bahkan suaminya malah semakin menjadi, dengan jarang pulang kerumah," batin Siska.


Apa yang saat ini sedang di pikirkan oleh Siska benar adanya. Tanpa sepengetahuan dirinya, saat ini Cantika sedang mengemasi semua pakaian dirinya dan juga pakaian milik Salsabila.


Beberapa menit kemudian , ia menemui Siska.


"Siska, aku akan pergi dari rumah ini. Aku minta maaf, sepertinya aku tak bisa mengajakmu serta. Karena aku tidak bisa membayar gajimu. Karena aku juga tak tahu akan pergi kemana."


"Aku tidak akan pergi kampung halamanku, karena aku tak ingin nantinya Mas Tian mencariku ke kampung."


"Aku benar-benar akan menghilang dari kehidupan Mas Tian selamanya."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Cantika, hati Siska ikut merasa iba. Karena ia tahu bagaimana derita yang telah di alemi olrh Cantika. Walaupun ia belum begitu lama bekerja bersama Cantika.


"Nona Cantika, jangan mengatakan hal seperti itu. Sudah berapa kali saya katakan, saya ikhlas tidak di bayar asal saya ikut kemanapun Nona pergi," ucap Siska.


"Saya juga, Nona. Saya nggak mau tinggal di sini sendirian, izinkan saya ikut juga ya?" tiba-tiba bibi nongol dari arah dapur dan menghampiri Cantika.


"Aduhh, bi. Saya saja melarang Siska ikut karena saya sadar belum tentu saya bisa bayar gajinya, apa lagi jika bibi ikut?"


Sebenarnya Cantika memang sudah cocok dengan kinerja bibi dan Siska. Tapi memang uang yang ia punya tidak begitu banyak.. Karena Tian juga memberinya sebatas untuk kebutuhan rumah dan lainnya.


Ini pun Cantika berusaha seirut mungkin supaya ia bisa menyisihkan sedikit uangnya. Karena sejak kehilangan anaknya yang kedua, sikap Tian memang sangat perhitungan sekali.


"Non Cantika, saya juga tak masalah jika untuk sementara waktu tidak di bayar. Saya yakin, pasti Allah akan buka jalan untuk Non Cantika," ucap bibi memaksa.


Hingga pada akhirnya Cantika mengizinkan bibi dan Siska ikut bersamanya. Malah Siska memberimu saran kemana Cantika harus pergi dan yang sekiranya tidak bisa di jangkau oleh Tian.

__ADS_1


Hal ini sudah di rencanakan olehnya dengan Ivan jika memang Cantika memutuskan untuk pergi.


"Non, bagaimana jika kita untuk sementara waktu tinggal di rumah peninggalan orang tua saya. Karena kebetulan rumah itu kosong dan letaknya juga jauh dari sini. Hingga Tuan Tian tidak akan bisa menjangkau Nona Cantika," saran Siska.


"Hem, apa nggak apa-apa Siska?" tanya Cantika ragu.


"Nggak apa-apa, karena aku anak semata wayang. Dan selama ini aku selalu merantau, hingga rumah menjadi kosong tak terawat," ucap Siska meyakinkan Cantika.


"Nona, cepatlah sedikit jika tak ingin ketahuan Tuan Tian. Jika nona terlalu lambat dan banyak berpikir yang ada nanti usaha nona gagal," ucap Siska.


"Untuk sementara waktu terima saja dulu saran dari saya. Gampang nanti jika nona tidak betah tinggal di rumah peninggalan saya, kita bisa mencari rumah yang lain," ucap Siska pada saat melihat Cantika bengong saja.


"Heee... maaf ya Siska. Ya sudah aku terima saranmu."


Saat itu juga Siska memesan taxi on line dan ia bersama bibi serta Cantika pergi dari rumah mewah milik Tian.


"Hem.. baiklah nanti setelah sampai ke rumahmu aku akan membi nomor ponsel baru," ucap Cantika.


"Pakai ini, kebetulan saya punya nomor ponsel baru yang tadinya ingin saya pakai tetapi tak jadi."


Siska memberikan satu nomor ponsel yang masih baru untuk Cantika.


"Itu sudah terdaftar, nona tinggal pakai saja. Dan ini untuk bibi, supaya Tuan Tian juga tidak bisa menghubungi bibi. Saya juga sudah ganti nomor ponsel, karena tak ingin Tuan Tian juga menghubungi saya."


Sebenarnya Siska telah mempersiapkan dari awal. ia sengaja tak mengatakan hal itu pada Cantika dan Bibi. Ini menjadi rahasia dirinya bersama dengan Ivan.


Setelah menempuh perjalanan tiga jam lamanya, akhirnya sampai juga di sebuah rumah minimalis. Rumah yang indah dengan pemandangan tanaman di depan rumah yang tertata apik.


"Siska, apa ini rumah mendiang orang tuamu? katanya tak terawat, tapi ini kok bersih?" tanya Cantika heran.

__ADS_1


Karena pada saat ia masuk pelataran rumah tersebut sudah terlihat jelas dari depan rumah saja kondisi terawat bersih. Pepohonan juga banyak menambah kesan teduh di rumah itu.


"Hheee.. sebenarnya sesekali saya datang kemari nona. Untuk sekedar membersihkan rumah ini," ucap Siska bohong.


"Sesekali kamu datang kemari? tapi selama kamu bekerja dengan saya, kamu tak pernah aku lihat ke luar rumah?" Cantika merasa curiga.


"Nona Cantika, jika saya pergi itu di malam hari. Di saat Nona sedang tidur, dan saya sengi tidak pamit," ucap Siska berbohong.


Karena sebenarnya rumah itu salah satu rumah milik Ivan. Buksn rumah peninggalan mendiwng orang tua Siska.


"Nona, sudahlah sebaiknya kita masuk saja. Dan nanti nona langsung istirahat saja ya. Pasti nona kan cape, lagi pula Bila juga tidur pulas," Siska mencoba mengalihkan pembicaraan.


Ia segera membuka pintu rumah tersebut dan mengajak masuk Cantika serta bibi.


"Aneh, rumahnya kok rapi sekaki dan terlihat sangat terawat. Bagaimana mungkin Siska berani keluar malam dan kemari hanya untuk membersihkan rumah ini. Masa iya malam-malam membersihkan rumah seorang diri. Ah sudahlah, yang terpenting aku dan anakku tidak kepanasan dan tidak kehujanan."


"Biarlah untuk sementara waktu aku dan Bila tinggal di sini. Sekaligus aku mencari cara supaya bisa bertahan hidup di sini."


"Aku tidak bolrh tinggal diam begitu saja, aku harus bekerja. Dan aku harus bekerja extra karena untuk membayar bibi dan Siska. Tak mungkin juga aku tak memberikan gaji untuk mereka."


"Ya Allah, semoga memberikanku jalan terang. Supaya aku lekas mendapatkan usaha yang tepat dan menghasilkan."


Setelah sejenak merenung, Cantika pun menata semua pakaiannya dan pakaian Bila juga. Setelah itu ia pun istirahat karena merasa lelah.


Selagi Cantika tidur, Siska mengirimkan chat pesan pada Ivan.


[Tuan Ivan, rencana berhasil dan saat ini kita tinggal di rumah yang sudah Tuan siapkan. Hanya saja bibi ikut serta dengan kita karena ia tak mau ditinggal. Semua nomor ponsel sudah di ganti, dari nomor ponsel bibi dan Non Cantika.]


Pesan chat tersebut langsung masuk kedalam nomor ponsel milik Ivan. Ia langsung membacanya seraya tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2