Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Malu Sendiri


__ADS_3

Tian terus saja berpikir tentang Pak Budi, ia ingin tahu dimana saat ini Pak Budi bekerja. Hingga Tian memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengecek keberadaan, Pak Budi.


Beberapa jam kemudian, Tian sudah tahu tentang kabar dari Pak Budi. Ia begitu marah besar pada saat tahu jika Pak Budi kini bekerja di garmen milik Cantika, apa lagi menjadi asisten pribadi Cantika.


"Kurang ajar, Cantika. Ini tidak bisa di biarkan saja, terang-terangan ia mengajak berperang denganku. Siapa takut, Cantika. Aku sudah malang melintang merambah dunia bisnis. Sedangkan kamu hanya pembisnis baru. Dengan mudahnya aku bisa menjatuhkan dirimu. Dan aku juga akan mempermalukanmu di depan para karyawan garmenmu, karena kamu telah merebut salah satu pekerjaku!"


Saat itu juga, Tian menyambangi garmen milik Cantika untuk melabraknya. Ia tak rela jika Pak Budi bekerja di garmen Cantika. Karena Tian tahu, Pak Budi otaknya cerdas dan hanya dengan satu tepukan saja, Pak Budi mampu menggaet beberapa klien.


"Aku akan meminta Pak Budi untuk bekerja denganku lagi. Walaupun ia baru satu bulan bekerja denganku, tetapi sejak ada dia omset penjualan di garmenku meraup keuntungan dua kali lipat. Bahkan ia jenius mampu menarik beberapa klien untuk melakukan kerja sama di perusahaanku!" batinnya kesal.


Dan pada saat ia sampai di pelataran garmen dengan membawa beberapa anak buahnya, ia sempat kaget pada saat melihat adanya Ivan dan beberapa anak buahnya ada di garmen milik Cantika.


Tetapi ia tak gentar, ia tetap akan melabrak Cantika meskipun ada Ivan dan beberapa anak buahnya.


"Cantika, keluarlah! aku ingin bicara denganmu!" teriaknya lantang tanpa ada rasa malu sedikitpun.


Ivan sempat menoleh ke sumber suara yang ada di belakangnya.


"Heh, Tian. Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Ivan memicingkan alisnya.


"Diam kamu! aku kemari bukan ingin bertemu denganmu, tetapi aku ingin bertemu dengan, Cantika," jawab Tian ketus.


Setelah menunggu beberapa detik, Cantika keluar bersama dengan Pak Budi.


"Ada apa sih, teriak-teriak seperti orang tak waras saja?" ejek Cantika kesal.


"Heh, apa katamu? bagaimana pun aku ini mantan suamimu loh, yang pernah mengangkat derajat dirimu dari orang miskin hingga kamu sempat hidup enak denganku," ucapnya sombong, bahkan Tian sengaja berbicara lantang hingga para pekerja di garmen dan semua orang melihat ke arah mereka.

__ADS_1


"Tian, jaga bicaramu ya? apa kamu tidak malu di lihat banyak orang?" tegur Ivan.


"Malu? kenapa aku mesti malu? yang seharusnya malu itu, dia! yang sudah tidak tahu diri dengan merebut asisten pribadiku!" tunjuk kasar Tian pada Cantika.


"Astaghfirullah aladzim, jadi ini permasalahannya? Apa kamu lupa, Mas Tian? jika kamu sendiri yang telah memecat secara tidak terhormat, Pak Budi? Pak Budi saja pasti ingat akan hal itu, ya kan pak?" Cantika tersenyum sinis pada Tian.


"Iya, Non Cantika. Ia sendiri yang telah memecat saya, dan ia juga sempat telpon saya dan berdalih katanya ia hanya bercanda. Tidak memecat saya beneran. Tetapi maaf saja, saya sudah tidak berminat bekerja lagi dengan orang sombong macam, dia."


Mendengar apa yang di katakan oleh Pak Budi, membuat Tian agak malu. Apa lagi semua orang berbisik-bisik sambil menatap sinis padanya.


"Heh Pak Budi, kamu memang orang tak tahu balas budi ya! seharusnya kamu itu bersyukur karena pernah bekerja di perusahaan megah dan besar milikku! bukan malah menjadi pengkhianat seperti ini!" bentak Tian lantang.


Ivan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tian yang menurut dirinya seperti anak kecil yang tak punya rasa malu. Padahal Tian seorang pengusaha besar tetapi tidak punya etika dan sopan santun dalam bertutur kata.


"Pak Budi, sebaiknya kita lanjutkan pekerjaan kita saja. Karena tak ada gunanya meladeni orang sinting seperti dia!" perintah Cantika.


Namun pada saat Cantika akan melangkah, tiba-tiba lengannya di cekal oleh Tian secara kasar. Hal ini membuat Ivan marah besar dan ia pun menghampiri Tian mendorong keras tubuhnya menjauh dari Cantika.


"Heh Tian, yang sopan ya dengan wanita! apa kamu mau aku kasuskan dan kamu di penjara!" ancam Ivan melotot ke arah Tian.


"Haaaaa...inilah pria yang tak bisa mencari seorang wanita lajang untuk di cintai. Ia malah mencintai wanita bekasku," ejek Tian terkekeh.


"Dasar kurang.....


"Mas Ivan, tahan emosimu. Ingat mas, kamu ini aparat hukum. Jika kamu terbawa emosi, tak ubahnya kamu juga sama seperti dia."


Cantika menahan tangan Ivan yang akan memukul Tian.

__ADS_1


"Dia sudah keterlaluan, Cantika. Mulutnya perlu di hajar!"


Cantika menarik tangan Ivan menjauh dari Tian. Dan ia berusaha meredam emosi Ivan.


"Mas Ivan, jika mas memukulinya. Dan ia melawan dengan cara melaporkan mas dengan tindak kekerasan. Itu bukannya nanti akan berdampak buruk pada reputasi kerja mas dan jabatan mas di kantor polisi. Aku nggak ingin jabatan mas di turunkan atau bahkan sampai mas di keluarkan dari pekerjaan. Sudah ya, nggak usah marah lagi. Jika mas kena kasus dan di penjara, lantas siapa yang akan menjaga aku dan Salsabila?"


Mendengar kata-kata dari Cantika membuat adem hati, Ivan. Ia pun bisa meredam amarahnya terhadap Tian.


"Terima kasih ya, Cantika. Untung saja kamu mengingatkan aku, jika tidak aku pasti sudah lepas kontrol."


Ivan berbunga-bunga hatinya mendengar kata-kata, terakhir dari Cantika. Dan ia pun mulai yakin jika Cantika sudah mulai bisa membuka hatinya.


'Istt.... lantas siapa yang kan menjagaku dan Salsabila? oh My God, hanya sepenggal kata seperti itu saja hati ini sangat bahagia," batin Ivan hingga tak sadar ia tersenyum sendiri bahkan wajahnya terlihat jelas merona merah.


"Mas Ivan, apa kamu baik-baik saja?" tegur Cantika mengagetkan lamunan Ivan.


"Hhee ..iya Cantika. Aku baik-baik saja," ucapnya menutupi rasa gugupnya.


Sementara Tian sedikit kesal pada saat melihat Cantika begitu dekat dengan Ivan. Tiba-tiba tangannya mengepalkan tinju.


"Aaaarrhhhhh... ayok kita pergi dari sini!" perintah Tian pada anak buahnya.


Mereka segera meninggalkan garmen Cantika tanpa membawa hasil yang di inginkan.


"Sialan, aku tidak berhasil mengajak kembali, Pak Budi. Tetapi aku malah harus melihat pemandangan menjijikan! kenapa sih Cantika! kamu malah nongol lagi di depan mataku, bahkan terang-terangan kini menjadi musuhku!"


"Iihhhh..... Cantika...kenapa aku menjadi kesal seperti ini pada saat melihat Cantika berkata lembut pada Ivan!"

__ADS_1


Terus saja Tian menggerutu di dalam hatinya. Ia gundah gulana tak menentu rasanya. Berbeda dengan Ivan yang saat ini terus saja sumringah, kerjanya lebih bersemangat setelah kata-kata terakhir dari Cantika.


__ADS_2