Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Jenguk Ivan


__ADS_3

Sementara Lika sangat kesal pada anak buahnya yang telah gagal mengemban tugas darinya. Ia juga merasa iba mendengar Ivan yang terkena imbasnya.


"Astaga, bodohnya kalian! mengurus satu wanita saja tak becus! seharusnya kalau tahu di pria yang nyelonong. Seharusnya kamu injak rem atau bagsimt caranya supaya tidak sampai menabrak dirinya! ingat ya jika terjadi apa-apa padanya, aku tidak akan segan-segan menghukum kalian!" bentak Alika kepada dua anak buahnya.


Sementara anak buahnya tak bisa berkata-kata, mereka hanya bisa tertunduk lesu tanpa berani membantah sama sekali.


Mereka sangat takut dengan ancaman Lika, walaupun mereka sama sekali tidak tahu seperti apa wajah Lika, karena selalu tertutup oleh masker.


Lika terus saja memikirkan bagaimana caranya supaya dirimu bisa menjenguk Ivan.


"Ya ampun, Mas Ivan. Aku jadi merasa bersalah dengan kejadian hal ini. Bagaimana kondisi dirimu ya? semoga kamu tidak apa-apa, jika terjadi hal yang tak di inginkan aku tidak akan mengampuni anak buahku. Aku juga akan menghukum mereka dengan hal yang serupa," batin Alika.


Dia pun berpikir dan terus berpikir bagaimana caranya supaya bisa mengetahui kabar, Ivan. Jika ia bertanya pada Siska, tentu saja pasti Siska tidak tahu karena saat ini Siska sudah kembali tugas menjadi polwan.


Pikirannya mulai resah dan gelisah, ia begitu khawatir setelah mengetahui jika anak buahnya salah sasaran. Membuat kerjanya tak tenang karena kepikiran akan kondisi, Ivan.


Selagi di kantin bengong, tiba-tiba bahunya di tepuk oleh Siska yang membuat dirinya terhenyak kaget.


"Woi, bengong saja? apa kamu masih terus memikirkan, Komandan Ivan? move on lah darinya supaya kamu tenang dalam bekerja. Dan cepat cari gantinya," saran Siska.


Alika alias Lika hanya melirik sinis pada Siska, ia sama sekali tak berucap apa pun. Pada saat Siska akan duduk di samping, Alika. Tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata telpon dari Cantika. Sejenak Siska pun mengangkat telepon tersebut tanpa dirinya menjauh dari, Alika.


"Ya, Non Cantika. Ada apa ya?'


"Cuma ingi tanya kabarmu saja, Siska. Karena sudah lama nggak ada kabar darimu."


"Kabar aku baik, nona. Maaf ya, jarang berkomunikasi karena aktifitas yang terlalu padat. Oh ya bagaimana kabar Nona dan Komandan Ivan?"

__ADS_1


Sejenak Cantika menceritakan apa yang telah terjadi apa Ivan kepada Siska di dalam panggilan telepon. Tanpa Siska sadari, Alika terus saja menguping pembicaraan Siska dan Cantika lewat ponsel.


"Astaga, Mas Ivan alami kelumpuhan karena kecelakaan itu? ya ampun kasihan sekali, aku kok jadi ingin menjenguknya," batin Alika.


Sementara Siska baru saja selesai telponannya. Dan ia pun mematikan panggilan telepon dari Cantika begitu pula dengan Cantika.


"Kamu kenapa semakin murung? pasti tadi kamu dengar pembicaraanku dengan Non Cantika di telpon ya?" tanya Siska menyelidik.


"Hem, keras begitu ya aku jelas dengarlah. Apa lagi telingaku kan masih Waras pendebgrannya," ucap Alika ketus tanpa menatap ke arah Siska sama sekali.


Dia terus sajarntao ke arah lalu lalang jalan. Dan sejenak ia pun teringat sesuatu hingga tiba-tiba menghadap ke arah, Siska.


"Siska, apa kamu tak ada niat untuk menjenguk Komandan Ivan?" tanya Alika seraya menai turunkan alisnya.


"Hem, aku sudah tahu kok apa maksudmu? kamu ingin melihat langsung kondisi, Komandan Ivan bukan? baiklah, kali ini aku berbaik hati akan mengajakmu menjenguknya. Nanti sore sepulang kita kerja ya, kita langsung ke rumahnya," ucap Siska.


Hingga tak terasa sore menjelang, waktu yang sedari tadi di tunggu oleh Alika untuk lekas bisa menjenguk, Ivan.


Saat itu juga Siska mengajak Alika kerumah Ivan dengan masing-masing mengendarai motor gedenya. Dan hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai di rumah Ivan.


"Baguslah, Siska. Dengan begini aku jadi tahu rumah Mas Ivan," batin Alika.


Kebetulan Cantika sedang bersabtsi di pelataran rumah bermain-main dengan Salsabila dan Ivan pun sedang duduk di kursi rodanya menatap tingkah lucu Salsabila dan Cantika yang membuatnya sesekali tertawa.


"Ya ampun Mas Ivan, di saat kondisimu ada di kursi roda. Tetapi kamu masih bisa tertawa hanya dengan melihat istri dan anak tirimu bercanda ria," batin Alika yang sempat melihat dari jauh keceriaan keluarga kecil ini.


Siska meraih tangan Alika dan menuntunnya mendekat ke arah Ivan dan Cantika. Setelah itu mereka tak lupa bersalaman dengan Ivan dan Cantika.

__ADS_1


Sejenak mereka berempat bercengkrama, dan Salsabila di berikan kepada baby sitternya.


Mata Alika terus saja tertuju kepada Ivan. Dan sesekali ia juga menatap ke arah kaki, Ivan. Tanpa ia sadari, Cantika juga tak sengaja menatap kearahnya. Cantika mulai ada rasa curiga melihat cara Alika memandang ke Arab suaminya.


"Kenapa teman Siska menatap ke arah Mas Ivan begitu banget ya? apa ia ada rasa cinta pada Mas Ivan? aku bisa merasakan dan tahu, cara pandang seseorang itu," batin Cantika.


Tetapi Cantika langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena ia tak ingin kepergok oleh, Alika sedang menatap dirinya.


Setelah cukup lebih berada di rumah Ivan, Siska pun mengajak Alika pulang. Walaupun di dalam hati Alika, ia masih sangat kerasan dan bahkan ingin menginap di rumah Ivan.


"Ah, kenapa hanya sekejap mata sih! ketemu dengan Mas Ivan. Kasihan juga ia menjadi lumpuh karena kecelakaan itu. Semoga saja kelumpuhannya hanya sementara saja. Jika lumpuh selamanya, aku semakin tidak bisa mengampuni diriku sendiri dan juga anak buahku. Seharusnya yang di posisi Mas Ivan, wanita nyebelin itu. Padahal menurut diriku, paras wajahnya bisa saja. Tetapi kenapa Mas Ivan terlihat sangat mencintainya?"


Terus saja Alika menggerutu sepanjang perjalanan pulang. Ia tetap saja teringat wajah tampannya.


Berbeda situsi di rumah Ivan, Cantika pun mengutarakan kecurigaannya tentang Alika pada, Ivan.


"Mas Ivan, kamu tadi sadar nggak?" tanya Cantika.


"Kamu ini ngomong apa sih, sayang? dari tadi ya aku sadar, nggak lagi pingsan," jawab Ivan terkekeh.


"Hem, berarti Mas Ivan nggak sadar kalau begitu. Teman Siska itu loh, terus saja menatap ke arah Mas Ivan. Tatapan itu beda dengan tatapan orang biasa. Sepertinya ia suka sama kamu, mas."


Ivan malah semakin terkekeh mendengar apa yang barusan di katakan oleh, Cantika. Hal ini jelas saja membuat Cantika merasa heran.


"Mas, memangnya bapa yang aku katakan lucu ya?"


"Nggak sayang, jelas sekali kalau kamu itu cemburu pada Alika. Heee...tentu saja aku suka denganmu yang cemburu, berarti rasa cintamu padaku sekarang ini sudah besar tidak seperti pada saat kita pertama kenal, kamu malah cuek dan dingin," goda Ivan terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2