
Satu bulan kemudian, Tian benar-benar sudah tidak bisa berkutik lagi. Karena ia sudah benar-benar terbujur kaku di pembaringan.
Tian sama sekali tak bisa mengatakan apapun, padahal di dalam hatinya ingin sekali meminta tolong pada Inka untuk membawanya ke dokter. Tetapi lidahnya kelu.
"Kenapa kondisiku semakin hari semakin parah seperti ini? dan kenapa pula Inka tak berinisiatif membawaku ke dokter supaya aku sembuh?" batin Tian.
Dia masih saja belum sadar jika apa yang telah terjadi padanya adalah karena ulah, Inka. Kini hidupnya bagai mayat hidup, ia begitu tergantung dengan Inka. Tetapi jika Inka sedang tidak ingin mengurus Tian, ia biarkan saja.
"Repot juga jika aku tidak menyewa perawat untuk merawat Tian. Tetapi jika menyewa perawat sama saja aku harus mengeluarkan uang. Hem.. kenapa Tian tidak mati-mati sih?" batin Inka yang mengharapkan kematian Tian, tetapi tidak kunjung mati.
Inka melangkah masuk ke dalam kamar seraya membawa berkas untuk di tanda tangani oleh, Tian.
"Mas Tian, ini ada berkas dari kantor dan harus di tanda tangani dengan segera olehmu," ucap Inka.
Tian hanya tersenyum kemudian Inka menuntun tangan kanan Tian untuk menandatangani berkas tersebut. Inka merasa sangat senang pada saat berhasil mendapatkan tanda tangan dari Tian.
"Bagus, Tian. Kamu tidak tahu jika yang kamu tanda tangani adalah surat peralihan warisan. Setelah ini aku akan membawamu ke rumah sakit, dengan dalih tidak ada yang merawatmu di rumah. Setelah itu aku akan menjual semua peninggalanmu dan aku akan pergi sejauh mungkin," batin Inka senang.
Setelah mendapatkan tanda tangan dari, Tian. Saat itu juga Inka mengadakan transaksi jual beli dengan seseorang. Ia benar-benar menjual semua yang Tian miliki.
Pagi menjelang, Inka meminta tolong pada beberapa orang yang ada di rumah untuk mengangkat tubuh Tian ke dalam mobil. Karena Inka akan membawanya ke rumah sakit.
"Mas Tian, aku iba dengan kondisimu makanya aku akan segera membawamu ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan," ucap Inka.
__ADS_1
Tian sangat senang, ia pun menyunggingkan senyuman. Di dalam hatinya ia sangat bersyukur karena pada akhirnya Inka mengerti juga dengan apa yang sedang ia pikirkan di dalam hatinya.
"Aku tidak salah dalam memilih istri, karena Ia bisa tahu isi hatiku. Dimana aku berharap ia akan membawaku ke rumah sakit," batin Tian.
Perjalanan ke rumah sakit tidak membutuhkan waktu lama, hanya beberapa hari saja telsh sampai. Dan Tian langsung mendapatkan perawatan medis. Inka pun mengatakan pada pihak rumah sakit, ia akan pulang sejenak untuk mengurus kebutuhan Tian.
Bahkan pada saat pihak rumah sakit meminta Inka untuk mengisi formulir terlebih dahulu, untuk rawat inap Tian. Inka pintar berkilah, dengan mengatakan ia akan mengisi formulir jika datang lagi ke rumah sakit dengan membawa semua kebutuhan Tian.
Hingga pada akhirnya bagian resepsionis percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Inka. Saat itu juga Inka pulang hanya untuk berkemas-kemas. Bahkan pacarnya sudah menunggu di depan pintu gerbang rumah Tian.
Secepat kilat Inka mengemasi semua pakaiannya, setelah itu ia pergi begitu saja dengan pacarnya. Inka dan pacarnya memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Bahkan mereka memiliki dua kartu identitas. Yang asli untuk digunakan di Indonesia, yang palsu di bawa ke luar negeri.
"Sayang, semua rencana kita berhasil. Kamu memang pintar. Kini kita sudah tidak bingung lagi, kita bisa bersenang-senang hidup di luar negeri," ucap pacar Inka.
Sementara di rumah sakit, pihak rumah sakit sedang menantikan kedatangan Inka. Tetapi justru asisten rumah tangga Tian yang datang. Bahkan pada saat asisten rumah tangga Tian datang dan bertanya dimana ruang rawat Tian, ia justru bertanya tentang Inka.
"Maaf mba, saya mau tanya. Dimana ruang rawat, Tuan Tian ya? yang beberapa menit lalu datang kemari bersama istrinya," tanyanya.
"Anda siapanya Tuan Tian? oh iya, man istrinya ya? katanya tadi akan datang lagi dengan, karena ia pulang untuk mengambil pakaian suaminya?" tanya resepsionis.
"Waduh, saya kurang tahu mbak. Saya hanya di minta antar pakaian oleh, Nyonya Inka. Katanya ia sedang keluar sebentar, tapi nggak bilang mau kemana?" ucap si bibi.
Hal ini membuat resepsionis kebingungan karena tidak punya data lengkap pasien, apa lagi pasien susah di ajak berkomunikasi karena ia tak bisa berbicara sama sekali. Hanya saja, Inka sempat memberi tahu nama suaminya pada resepsionist. Selebihnya resepsionist tidak tahu menahu tentang pasien.
__ADS_1
**********
Esok harinya, pihak rumah sakit menghubungi nomor telepon rumah Tian, karena sebelumnya bibi memberikan nomor telepon rumah dan juga nomor ponsel Inka.
Kring kring kring kring
Panggilan telepon berbunyi, bibi lekas berlari untuk mengangkatnya. Ia pikir dari Inka, karena pada saat Inka pergi ia berkata akan memberi kabar lewat telpon rumah.
"Hallo, Nyonya Inka?"
"Maaf, ini dari pihak rumah sakit. Ingin bertanya apakah istri dari Tuan Tian sudah kembali ke rumah? karena nomor ponsel tidak bisa di hubungi sama sekali."
"Astaga, maaf pak. Sampai detik ini Nyonya Inka belum kembali ke rumah, dan tidak menghubungi saya sama sekali."
Setelah mengetahui akan hal itu, pihak rumah sakit langsung menutup panggilan teleponnya. Sementara Tian juga merasa heran, karena Inka belum juga datang ke rumah sakit. Dari kemarin ia mengantarkan Tian ke rumah sakit, terus hingga detik ini belum datang lagi.
"Sebenarnya Inka kemana? sampai tidak menjaga aku di rumah sakit. Katanya pergi hanya sebentar saja, kenapa kok nggak datang-datang?" batin Tian di penuhi tanda tanya tentang Inka.
Dia belum tahu jika Inka sudah kabur dari rumah dan ke luar negeri bersama kekasihnya yang masih muda.
Hingga berhari-hari, Inka tidak ada kabar. Bahkan bibi dan Mamang serta security databg ke rumah sakit hanya untuk mengatakan bahwa saat ini, rumah di tempati oleh pemilik baru. Dan mereka juga di gaji oleh majiksn baru yang menempati rumah Tian.
Dan Inka hingga detik ini tidak ada kabarnya sama sekali. Mendengar apa yang di katakan oleh para pelayannya, membuat Tian terhenyak kaget. Sejenak ia kejang-kejang dan tak berapa lama, ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tian wafat karena shock.
__ADS_1