
Hingga pada akhirnya Papah Willy tak tega dan ia pun berjanji pada Rani akan menemui Tian.
Saat itu juga ia pergi dari lapas tersebut dan melajukan mobilnya menuju ke rumah Tian.
"Pah, ada apa datang kemari?" tanya Tian heran melihat kedatangan papah mertuanya.
"Tian, papah hanya ingin meminta kebijaksanaanmu. Supaya mencabut tuntutanmu terhadap Rani dan Mamahnya," pinta Papah Willy memelas.
"Tidak bisa pah, apa yang telah dilakukan oleh Rani dan mamah itu sudah sangat keterlaluan. Mereka hampir saja menghilangkan nyawa Cantika dan calon anakku."
"Bukan hanya itu, terang-terangan mereka memerintah orang untuk membakar rumahku. Untung saja kami pada saat itu tidak ada di dalam, jika iya kami sudah mati di dalam kebakaran tersebut."
"Apa yang telah mereka lakukan harus dipertanggungjawabkan di depan aparat hukum, jika aku mencabut tuntutan terhadap mereka belum tentu mereka itu akan jera. Bisa jadi perbuatan mereka akan semakin bertambah parah untuk melukai anak dan istriku."
"Papah tak usah khawatir akan masa hukuman bagi Rani dan mamah. Aku tidak akan memberikan hukuman yang memberatkan paling aku akan meminta kepada Ivan untuk memberikan masa hukuman beberapa tahun saja."
"Dengan hukuman yang akan diberikan oleh aparat hukum itu supaya Rani dan mamah jera dan tidak mengulangnya kembali."
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Tian, Papah Willy sudah tidak bisa berkata lagi ia sudah tidak bisa membujuknya untuk mencabut tuntutannya terhadap anak dan istrinya.
"Tapi bener ya Tian, jika komandan Ivan memberikan hukuman yang terlalu berat, papah minta kebijaksanaanmu untuk mengatakan padanya supaya mengurangi masa tahanan anak dan papah. Bgaimanapun Rani pernah ada di hatimu dan menjadi bagian dari hidupmu," pinta Papah Willy.
"Itu sudah pasti, pah. Aku masih punya hati nurani tidak seperti anak dan istri papah yang melakukan segala cara untuk melenyapkan Cantika dan calon anakku karena di dalam hati mereka sudah tertanam kebencian terhadap Cantika dan calon anakku," ucap Tian meyakinkan Papah Willy.
Setelah cukup lama berada di rumah Tian, Papah Willy pun berpamitan untuk pulang. Seperginya Papah Willy, Tian menyempatkan waktu untuk menelpon Ivan sejenak.
__ADS_1
Kring kring kring kring
Panggilan telepon berdering pada nomor ponsel milik Ivan. Ia pun segera mengangkat telepon tersebut yang ternyata adalah dari Tian.
"Hallo Ivan, bagaimana kasus Rani dan Mamahnya?"
"Semua bukti sudah cukup untuk menjerat mereka ke dalam masa hukuman yang sangat berat. Karena bukti-bukti tersebut mengarah jelas kepada Rani dan Mamahnya."
"Jadi mereka akan segera diproses untuk sidang masa hukuman?"
"Kemungkinan besok pagi mereka akan menjalani sidang untuk masa hukumannya dan aku pastikan mereka akan mendapat hukuman seberat-beratnya."
"Ivan, aku minta dengan sangat tolong jangan memberikan mereka hukuman yang terlalu lama di dalam penjara. Karena aku telah berjanji kepada Papah Willy, jika aku tidak akan memberikan masa hukuman yang lama pada mereka."
"Tian, yang bertindak untuk menentukan masa hukuman seseorang atas kesalahan mereka itu bukanlah dirimu atau pun aku tetapi hakim dan jaksa serta semua petugas yang ada di dalam persidangan besok."
"Kamu hanya sebagai korban dan pelapor, dan aku hanya sebagai pihak yang menangkap para pelaku."
"Pihak yang mengatur masa hukuman itu ada sendiri dan juga sudah ada undang-undang atau ketentuanya. Jika kamu tak ingin mereka berlama-lama di dalam penjara. Itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, Tian."
"Kalian harus melakukan banding dengan menyewa seorang pengacara untuk mengurus kasus ini. Semua itu sudah ada prosedurnya jadi jangan main-main dengan hukum yang berlaku."
Setelah mendengar panjang lebar Ivan menjelaskan di dalam panggilan telepon, Tian pun sudah tidak bisa berkata lagi. Ia pun mengakhiri panggilan telepon tersebut.
"Benar juga apa yang di katakan oleh Ivan. Kenapa aku begitu bodohnya dengan berjanji pada Papah Willy jika anak dan istrinya tidak akan mendapatkan hukuman yang berat. Semua ini karena otakku sedang di bebali begitu banyak permasalahan," batin Tian.
__ADS_1
"Sudahlah, jika demikian aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Terserah pihak yang berwajib saja, paling nanti aku akan bantu Papah Willy untuk naik banding saja dengan menyewakan pengacara untuknya," batin Tian.
Tian tak tega dengan Papah Willy, karena selama ia menjadi papah mertuanya tak pernah bertindak buruk. Ia benar-benar menjadi seorang papah yang sangat baik. Bahkan Tian merasa sudah seperti papahnya sendiri, hingga ia tak tega jika tak bisa mengabulkan keinginan Papah Willy.
Saat itu juga ia menelpon salah satu kenalan seorang pengacaranya yang handal untuk membantu kasus Rani dan Mamahnya. Ia mengajak pengacara tersebut untuk bertemu saat itu juga guna membicarakan kerjasamanya.
Bahkan ia juga mengajak Papah Willy untuk itu serta dalam acara pertemuan tersebut. Supaya Papah Willy bisa paham dengan adanya seorang pengacara yang ia sewa untuk dirinya.
Beberapa saat kemudian, pengacara itu datang menemui Tian dan Papah Willy di sebuah cafe. Mereka lantas membicarakan duduk persoalan untuk naik banding.
"Baiklah, Tuan Tian. Nanti pada saat persidangan di laksanakan, saya akan datang juga untuk meminta kebijaksanaan pihak pengadilan dengan mengurangi masa tahanan bagi Nona Rani dan Nyonya Bella."
"Saya juga mengharapkan kedatangan anda juga Tuan Willy di acara persidangan yang akan di laksanakan besok pagi."
Demikian kesepakatan yang telah di lakukan oleh Tian dengan seorang pengacara. Ia tidak sungkan untuk membayar mahal jasa pengacara tersebut demi Papah Willy.
"Tian, terima kasih ya atas kebaikanmu hingga kami rela menyewaa pengacara juga untuk membantu Papah," ucapnya terharu.
"Iya, pah sama-sama. Aku lakukan itu karena menurut prosedur hukum harus seperti itu, pah. Aku tidak bisa segampang itu meminta pihak pengadilan untuk mengurangi masa tahanan pada Rani dan mamah. Aku minta maaf, tidak bisa bertindak semauku."
"Nggak apa-apa, Tian. Papah juga sudah tahu akan hal ini kok. Semua sudah ada jalan atau prosedur jadi kita tidak bisa seenaknya sendiri."
"Sekali lagi papah mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikanmu."
"Pah, aku melakukan ini karena sudah menganggap papah ini seperti papah aku sendiri. Selama ini papah selalu baik padaku. Bahkan tanpa sungkan selalu menasehati Rani di depanku. Tanpa memihaknya sama sekali."
__ADS_1
Keduanya cukup lama bercengkrama di cafe tersebut, walaupun sang pengacara sudah pergi untuk segera mengurus kasus Tian tersebut.
Mereka benar-benar bagai seorang ayah dan anak yang begitu dekatnya dan tidak ada pembatas sama sekali. Tian bisa merasakan ketulusan papah mertuanya itu. Dan juga sebaliknya, Papah Willy juga sudah tahu pasti jika Tian ini adalah pemuda yang sangat baik, kesalahan murni ada pada Rani hingga ia tak pernah menyalahkan Tian.