Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Tak Berdaya


__ADS_3

Inka pura-pura pasang wajah tersenyum, padahal di dalam hatinya penuh dengan kemenangan dan umpatan pada, Tian.


"Ya mas, ini sudah kewajibanku sebagai seorang istri. Berbakti pada suamiku," ucap Inka.


"Hheeee.. makanlah kamu yang banyak mas. Supaya kamu lekas tergeletak saja di ranjang. Dan sebentar lagi kamu tidak akan bisa melakukan aktifitas apapun," batin Inka.


Hingga apa yang di tunggu Inka pun kini telah datang. Dimana Tian benar-benar sudah tidak bisa bergerak sama sekali. Ia merasakan sekujur tubuhnya tak bisa di gerakkan dan kaku, hingga ia hanya terbaring lemah di ranjang.


"Inka, kenapa kondisiku menjadi seperti ini? ada apa denganku ini? Inka aku minta tolong padamu, hubungi dokter pribadiku ya, supaya datang memeriksa kondisiku ini," pinta Tian.


"Baiklah, mas. Mana nomor ponselnya dan siapa namanya?" tanya Inka.


Tian pun mengatakan dimana dirinya meletakkan ponsel. Dan siapa nama kontak si dokter tersebut. Dan Inka lekas berpura-pura menelpon sang dokter. Untuk beberapa detik kemudian, Inka mengatakan pada Tian jika dokter sedang pergi.


"Mas, dokter sedang pergi ke luar kota untuk sebuah acara keluarga. Dan dia mengatakan belum bisa menentukan kapan ia akan pulang. Dan juga mengizinkan kita untuk minta tolong pada dokter yang lain," ucap Inka.


"Hem, ya sudah kalau begitu. Aku minta tolong pada untuk ke rumah sakit terdekat, dan carikan satu dokter untukku dan bawa ia kemari ya?" pinta Tian.


Inka pun mengiyakan permintaan dari Tian, padahal ia sudah mempersiapkan sebelumnya. Hingga ia tidak bingung dengan apa yang akan ia lakukan saat ini.


Setelah itu, Inka berpura-pura pergi ke sebuah rumah sakit terdekat, padahal ia telah menghubungi salah satu temannya untuk berpura-pura menjadi seorang dokter.


Tak berapa lama dokter gadungan itu pun datang ke rumah Tian dan segera memeriksanya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang telah menimpaku ya, dok? kenapa tiba-tiba aku jadi seperti ini, tak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhku sama sekali?" tanya Tian lirih.


"Setelah saya periksa seluruh tubuh anda, menurut saya tidak ada suatu penyakit yang serius sama sekali. Bisa jadi anda saat ini telah mengalami gejala struk," ucap sang dokter gadungan.


"Bagaimana saya bisa mengalami gejala stroke di usia saya yang terbilang belum begitu tua ya, dok?" Tian masih tidak percaya.


"Stroke bisa terjadi kepada siapa saja, bukan hanya dikhususkan kepada para manula, tetapi akhir-akhir ini banyak sekali kasus yang terjadi pada usia muda itu karena konsumsi makanan yang salah atau minum seperti terlalu banyak minum alkohol atau minuman yang tidak sehat lainnya. Intinya pola makan atau minum dan aktifitas anda tidak terjaga dengan benar," ucap dokter gadungan ini.


Bahkan dokter gadungan ini memberikan obat kepada Tian, yang ternyata bukan untuk menyembuhkannya tetapi untuk semakin membuat dirinya sama sekali tidak bisa bangkit dari berbaringnya.


"Anda tidak usah khawatir dengan kondisi anda yang saat ini sedang terjadi pada diri anda. Dengan konsumsi obat yang saya berikan ini, saya pastikan anda sembuh dan bisa melakukan aktivitas secara normal kembali," ucap dokter gadungan itu.


Setelah cukup lama berada di rumah, Tian. Dokter gadungan itu pun segera pergi dari rumah tersebut dengan penuh kelegaan. Dan bahkan ia pun mendapatkan upahnya saat itu juga dari, Inka.


Inka memberikan amplop yang berisi uang sesuai dengan permintaan sobatnya tersebut.


"Baiklah Inka, kamu tak perlu khawatir aku akan segera pergi dari kota ini terima kasih ya."


Saat itu juga, orang tersebut pergi dari rumah itu dan ia benar-benar mengabulkan keinginan Inka untuk pergi sejauh mungkin dari kota tersebut.


Inka sangat puas dengan hasil kerja dari salah satu sahabatnya tersebut. Ia yakin sebentar lagi akan mendapatkan segala yang diinginkannya.


*********

__ADS_1


Beberapa hari kemudian kondisi, Tian bukannya semakin membaik tetapi ia malah semakin memburuk. Bahkan saat ini ia sama sekali tidak bisa berbicara. Tian bisa berinteraksi dengan Inka hanya suatu kode mengangguk atau menggeleng saja.


Sejak saat Tian tidak bisa beraktivitas, Inka yang selalu datang ke kantor. Inka sama sekali tidak bisa mengurus kantor. Ia selalu datang hanya untuk mengambil uang, dengan dalih untuk pengobatan Tian. Dan bahkan ia juga telah berhasil mengambil semua dokumen penting yang ada di dalam kantor.


Inka menjual perusahaan milik Tian kepada seorang kenalannya. Ia bisa berakting dengan dalih menjual perusahaan karena Tian sedang sakit keras dan butuh banyak uang untuk biaya berobat.


"Haaa, akhirnya aku mendapatkan semua yang aku inginkan dari pria sombong ini. Dengan begini aku bisa pergi begitu saja," batin Inka.


Namun pada saat ia akan berniat pergi, ia pun mengurungkan niatnya. Jika ia pergi dengan meninggalkan kondisi Tian yang terbujur kaku tak berdaya, pasti akan membuat curiga semua orang.


"Bodoh, untung saja aku langsung ingat. Jika aku pergi meninggalkan Mas Tian, yang ada aku bisa menjadi tersangka dan bisa di kenai hukuman. Biar saja untuk saat ini aku tetap tinggal di sini, hingga Tian benar-benar mati dengan sendirinya. Setelah ia mati, barulah aku bisa pergi dengan tenang," batin Inka senang.


Sementara Tian merasakan sedih yang mendalam, karena dirinya sudah berhari-hari terkapar tak berdaya di ranjang. Ia hanya bisa menggerutu di dalam hatinya.


"Bagaimana aku bisa seperti ini? lantas bagaimana dengan perusahaanku? apakah Inka bisa menggantikan posisiku dengan baik? aku sama sekali tidak bisa mengajak Inka berkomunikasi dengan benar. Karena aku hanya bisa merespon dengan sedikit anggukan atau gelengan kepala, dan juga mengedipkan mataku."


"Kadang kala aku ingin menanyakan tentang urusan kantor, tetapi aku tak bisa berbicara. Hingga aku hanya bisa diam saja seperti ini."


"Aku takut sekali dengan kondisiku seperti sekarang ini. Aku takut jika ajal menjemput diriku. Karena aku masih ingin hidup bukan mati. Tetapi apakah aku masih bisa menolak kematian?"


"Lagi pula untuk apa aku hidup jika kondisi aku seperti ini? aku heran, pada saat itu aku di periksa dokter. Dan dokter mengatakan jika kondisi aku tidak apa-apa, lantas kenapa aku tidak sembuh kok malah menjadi seperti ini ya?"


Tian hanya bisa berbicara di dalam hatinya dengan dirinya sebagai. Tanpa ia bisa bicara dengan lawan bicaranya. Ia kini benar-benar sudah kalah oleh Inka yang hanya seorang gadis belia.

__ADS_1


Tian pintar tapi telah di bodohi oleh gadis bodoh yang hanya lulus SLTA. Orang bodoh membodohi orang pintar. Seperti yang saat ini di lakukan oleh Inka kepada Tian.


__ADS_2