Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Sebuah Rekayasa


__ADS_3

Tak berapa lama mereka telah bertemu di sebuah cafe.


"Aku ada tugas untuk kalian berdua, yang satu berjaga yang satu beraksi. Tugas kalian adalah mencuri berkas keterangan kesehatan seseorang yang memiliki riwayat penyakit tertentu pada sebuah laboratorium di rumah sakit besar," ucap Rani menjelaskan.


"Seseorang itu siapa ya, bos? maksudnya memiliki namakah atau sembarang saja yang kami ambil?" tanya salah satu anak buahnya.


"Sembarang saja, utamakan milik wanita seusia diriku. Misalkan seseorang itu punya riwayat penyakit kanker otak atau kanker rahim atau sejenisnya. Intinya suatu penyakit yang berbahsya dan yang memungkinkan hidupnya hanya sisa waktu beberapa bulan saja. Paham tidak?" ucap Rani menjelaskan.


"Oh iya, bos. Kami paham."


"Cari yang per tanggal hari ini ya?" pinta Rani.


"Baiklah, bos."


"Aku minta kalian jangan gagal dalam melaksanakan tugas dariku, supaya aku tak kecewa. Dan ini aku bayar kalian separonya dulu, jika tugas kalian berhasil baru aku bayar sisanya. Cek saja nomor rekening masing-masing karena aku sudah mentransfer sejumlah uang untuk kalian," ucap Rani.


Kedua anak buahnya langsung melihat M-banking mereka dan ternyata memang saldo rekening mereka telah bertambah. Mereka pun memberikan keyakinan pada Rani bahwa tugas mereka itu tidak akan gagal.


Rani merasa lega, ia pun lekas kembali ke rumah. Sementara kedua anak buahnya langsung menjalankan tugas dari Rani. Mereka adalah anak buah yang selalu di perintah olehnya untuk melakukan segala hal yang Rani inginkan.


Rani kecewa, sedih, dan marah pada saat tahu jika suaminya tak ada di rumah. Dan ia mulai terbakar api cemburu.


"Aku yakin jika saat ini Mas Tian ada di rumah istri sirinya itu. Kelewatan banget dech, lihat saja aku akan buat Mas Tian bertekuk lutut padaku. Dan tak akan ada waktu untuk ada di rumah wanita desa itu," gumamnya kesal.


Sementara apa yang di katakan oleh Rani memang benar, saat ini Tian sedang bersama dengan Cantika. Mereka begitu bahagia seperti tak ada suatu masalah apapun.


"Sayang, aku sudah meminta pengacaraku untuk mengurus perceraianku dengan Rani. Semoga kelak tidak ada halangan apapun dan Rani mau menandatangani surat cerainya jika sudah ke keluar," ucap Tian meyakinkan Cantika.

__ADS_1


"Mas, jujur saja aku sampai saat ini masih saja nggak enak hati dengan istri sahmu itu. Aku merasa sangat bersalah padanya," ucap Cantika.


"Kamu takoerku merasa bersalah, karena kamu tak salah. Justru aku yang salah, seharusnya waktu itu aku ceraikan Rani dulu baru menikah denganmu. Tapi waktu itu juga almarhumah ibumu mendadak meminta kita menikah secara otomatis aku juga tak ingin menolaknya," ucap Tian.


********


Tian datang ke rumah mereka yang biasa di huni olehnya dan Rani, untuk mengantarkan surat cerai pada Rani.


"Rani, kamu tandatangani surat cerai ini supaya clear tidak ada lagi permasalahan dengan hubungan kita."


Tian menyodorkan berkas yang berisi surat cerai pada Rani.


Akan tetapi justru Rani menolaknya.


"Mas, kita tidak bisa bercerai. Apa kamu tega menceraikan istri yang umurnya tinggal beberapa bulan ini?"


"Apa maksud dari ucapanmu, Rani?" tanya Tian heran.


"Mas, aku sakit dan umurku cuma tinggal beberapa bulan. Paling lama enam bulan dan paling cepat tiga bulan."


Tian menerima surat cek kesehatan itu dan membukanya.


"Masa iya kamu sakit parah, setahu aku kamu tak punya riwayat penyakit parah seperti ini, Rani?" Tian masih saja tak percaya dengan surat cek kesehatan tersebut.


"Pada awalnya aku juga tak percaya mas, pada saat aku periksa kesehatan di kala aku sering mengalami keluhan sakit kepala. Dan itulah hasil pemeriksaannya, aku tak tahu ternyata punya sakit parah. Aku pikir sakit kepala yang sering aku rasakan hanya sakit biasa," ucap Rani pasang wajah sedih.


Tian diam saja tak berkata, dia juga bingung jika sudah begini.

__ADS_1


"Mas, aku mohon dengan sangat. Izinkan aku tetap bersamamu di akhir usiaku ini yang tinggal beberapa bulan lagi. Masa iya kamu tega menceraikanku di saat aku sakit parah seperti ini?" ucap Rani memelas dengan mata berkaca-kaca.


Hingga pada akhirnya, Tian tak tega juga. Ia merasa bagaimanapun Rani pernah ada di hatinya. Masa iya, ia tega melihat penderitaan Rani tersebut.


"Baiklah, Rani. Aku akan batalkan perceraian kita dan selama sisa umurmu itu akan aku temani," ucap Tian dengan rasa tak ikhlas karena gagal bercerai dari Rani.


"Mas, aku pinta juga supaya kamu selalu ada di sisiku selama aku sakit ya. Aku ingin jika terjadi hal yang tak di inginkan, kamulah orang yang pertama tahu dan ada di sampingku,' ucap Rani.


"Di rumah ini kan ada asisten rumah tangga, jadi kamu tak usah khawatir. Kalau terjadi apa-apa, ia pasti akan melapor padaku karena aku tak ingin meninggalkan Cantika yang saat ini sedang hamil muda," ucap Tian dengan jujurnya yang membuat Rani semakin terbakar api cemburu.


"Mas, apa nggak sebaiknya Cantika di ajak tinggal dengan kita dana di sini. Jadi kamu bisa bersikap adil dengan kedua istrimu, apa lagi aku benar-benar butuh dirimu selalu ada di samping aku, mas," rengeknya.


"Rani, itu tidaklah mungkin. Mana mau Cantika tinggal satu atap denganmu," ucap Tian.


"Mas, aku yakin dia mau. Kalau kamu ceritakan tentang kondisi kesehatan ku padanya. Dia kan wanita yang sangat baik, pasti masih punya hari nurani padaku," ucap Rani terus saja membujuk Tian.


"Nanti aku tanyakan dulu ya, apakah ia mau tinggal di sini atau tidak. Aku pamit pulang dulu ya."


Saat itu juga Tian pergi dari rumah tersebut seraya membawa surat cek kesehatan milik Rani.


Seperginya Tian, Rani tersenyum sinis.


"Lihat saja wanita kampung, aku akan mendepak dirimu dari sisi suamiku secepatnya. Karena aku tak rela berbagi, ia hanya milikku seorang untuk sekarang dan selamanya!" ocehnya.


Selama dalam perjalanan pulang, Tian juga masih belum percaya dengan penyakit yang di derita oleh Rani.


"Masa iya, Rani sakit? setahuku dia sehat kok, masa tiba-tiba punya penyakit? apa bisa sih suatu penyakit parah datang dengan tiba-tiba ya?" batin Tian penuh tanda tanya.

__ADS_1


Tak berapa lama ia telah sampai di rumah, dan ia langsung menghempaskan pantatnya di sofa ruang tamu.


"Mas, kamu sudah pulang? apakah su....loh ini bukannya berkas yang akan di berikan oleh istri sahmu itu, mas? lantas kenapa di bawa pulang seperti ini?" tanya Cantika penasaran pada saat melihat stop map yang ada di atas meja ruang tamu.


__ADS_2