
"Iya sayang, itu memang berkas surat cerai yang harus di tanda tangani oleh Rani. Dan ini aku mendapatkannya dari Rani. Dia tak mau tanda tangan karena ini." Tian memberikan surat keterangan cek kesehatan pada Cantika.
"Apa maksudnya, ia nggak mau tanda tangan mas? dan aku juga masih belum mengerti dengan ini?" tanya Cantika seraya mengembalikan surat cek kesehatan tersebut pada Tian.
"Rani saat ini sedang sakit parah, dan hidupnya tak lama lagi. Dokter memprediksi hidupnya hanya tinggal beberapa bulan saja. Selama sisa waktu umurnya itu dia ingin masih menjadi istriku, hingga ia tak mau tanda tangani surat cerai itu."
"Rani meminta untuk selalu bersamaku di sisa umurnya. Dan bahkan ia minta tinggal bersama kita. Aku diminta tanya padamu apakah kamu setuju atau tidak?"
Mendengar akan hal itu ada guratan kecewa di wajah Cantika. Bahkan ia tak bisa membuat sebuah keputusan yang tepat.
"Sayang, aku minta maaf ya. Terpaksa aku turuti permintaan terakhir dari, Rani. Karena aku tak tega padanya," ucap Tian.
"Kamu tak tega padanya, tapi kamu tega padaku dengan ingkar janji seperti ini mas? apa kamu lupa dengan janjimu katanya akan memilihku?" ucap Cantika begitu kecewa.
"Sayang, aku minta sedikit pengertianmu. Masa iya kita tak punya hati nurani sama sekali. Rani sakit keras, masa iya kita tak mengabulkan permintaan terakhir dirinya," Tian mencoba meminta pengertian dari Cantika.
"Ya sudah terserah mas saja, aku sudah tak percaya lagi dengan ucapanmu mas. Lakukan saja apa maumu, tapi aku tak mau tinggal serumah dengannya. Dan jika seperti ini, kemungkinan aku yang akan mundur. Tapi menunggu anak ini lahir."
Pada saat Cantika akan berlalu pergi ke kamarnya, Tian meraih jemarinya dan memeluknya dari belakang.
"Sayang, kenapa kamu katakan perpisahan padaku? sedangkan aku ingin kita bersama selamanya. Justru jika anak ini telah lahir, kita akan menikah resmi," Tian berusaha membujuk Cantika.
"Mas, tak usah kamu berkata banyak hal padaku jika ternyata kamu tak bisa mengabulkannya. Belum tentu setelah anak ini lahir, kamu akan cerai dengannya. Dan saat itu kita tak bisa menikah resmi," ucap Cantika mulai ragu pada Tian.
__ADS_1
"Kenapa kamu berkata seperti itu, kan di surat keterangan kesehatan sudah di tuliskan jika umur Rani hanya tinggal menghitung bulan," ucap Tian.
"Mas, manusia itu tidak bisa memprediksi umur seseorang, termasuk seorang dokter yang juga manusia sama halnya seperti kita. Yang tahu umur kita itu cuma Allah. Sekarang jika kamu mengurungkan niatmu dengan tidak cerai, tapi ternyata ia hidup untuk waktu yang lama. Lantas apa aku dan anak ini yang harus selalu tersisih?" protes Cantika.
Mendengar ucapan Cantika, hati Tian mulai goyah dan gelisah. Ia sempat membenarkan ucapan Cantika di dalam hati, tetapi ia juga bisa memberikan alasan kembali pada istrinya.
"Sayang, Rani mengatakan jika hidupnya tinggal tiga sampai enam bulan saja. Jika memang hidupnya melebihi batas waktu dari enam bulan, secara otomatis aku akan melanjutkan percerian yang sempat tertunda. Aku tidak akan ingkar janji padamu karena aku sudah mantap memilih dirimu," ucap Tian mencoba meyakinkan Cantika.
"Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Aku pegang janjimu ya, mas. Dan jika dalam waktu yang telah di tentukan kamu berbohong, aku tidak akan pernah memaafkan dirimu. Bahkan aku akan membawa pergi anak ini jauh darimu," ancam Cantika.
"Baiklah, sayang. Aku janji tidak akan buatmu kecewa, dan aku minta maaf ya. Gara-gara masalah ini, aku gagal cerai."
"Mas, ingat ya. Aku tak mau satu atap dengannya, karena aku tidak akan mampu jika melihat kebersamaan kalian. Sepertu ini saja aku sudah tak sanggup sebenarnya, hanya saja mau bagaimana lagi," ucap Cantika kecewa.
Tak berapa lama, ponsel Tian berdering yang ternyata panggilan telepon dari Rani, akan tetapi Tian tak juga mengangkatnya, ia hanya melihat saja ponselnya.
"Baiklah, aku akan angkat telpon ini. Tapi kamu tetap di sini dan jika perlu aku lospeaker supaya kamu ikut mendengarnya." Saat itu juga Tian mengangkat telpon dari Rani tanpa lupa mengeraskan volumenya.
"Ada apa, Rani?"
"Mas, apa kamu sudah mengatakan padanya? jika belum, aku yang akan katakan padanya."
"Aku sudah mengatakannya, dan ia setuju jika kita tak jadi cerai tapi hanya untuk beberapa bulan saja sesuai dengan waktu yang telah kamu tentukan kemarin."
__ADS_1
"Wah, terima kasih ya mas. Tolong sampaikan terima kasihku padanya yang telah rela untuk sementara waktu berbagi suami denganku."
"Ya, ini juga Cantika sedang mendengarkan apa yang kamu katakan dari tadi."
Setelah tahu apa keputusannya, Rani pun mengakhiri panggilan telepon tersebut. Ia langsung berjingkrak kegirangan.
"Yesssss....ternyata saran yang mamah berikan benar-benar mumpuni. Langsung saja aku berhasil menipu Mas Tian dan istri sirinya," gumamnya sangat senang.
"Kini tinggal aku jalankan rencana selanjutnya yang pastinya juga akan berhasil. Tapi rencana ini harus benar-benar di lakukan secara hati-hati. Dan harus benar-benar menunggu situasi dan kondisi yang tepat supaya tidak gagal," gumamnya dalam hati.
Tak lupa Rani menyampaikan kabar bahagia ini pada Mamahnya. Dan Mamahnya juga sangat senang mendengar kabar anaknya tidak jadi bercerai dengan Tian.
Karena mamahnya juga gila harta, apa lagi tahu jika kekayaan Tian itu tidak akan habis tujuh turunan. Tian seorang CEO muda yang sangat sukses.
"Mah, kenapa kamu senyam senyum sendiri?" tanya suaminya heran pada saat melihat istrinya senyam-senyum sendiri.
"Senanglah, pah. Dengar kabar jika anak kita tak jadi bercerai, Tian membatalkan niatnya untuk menceraikan Rani," ucapnya.
"Kok bisa, hanya dalam waktu beberapa jam berubah drastis seperti itu?" tanya suaminya seraya tak percaya.
"Ya bisalah. Apa sih yang nggak mungkin dan nggak bisa di dunia ini," ucap istrinya seraya berlaku pergi.
Sementara Papah Willy terus saja penasaran tentang perubahan sikap pada Tian yang tadinya ingin bercerai dengan Rani. Tapi kini mendadak membatalkannya.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang tak beres dalam hal ini? masa iya Tian begitu cepatnya mengurungkan niatnya itu. Aku tahu sekali bagaimana sifat dan sikap Tian. Jika Tian sudah katakan iya ya iya. Kenapa ini jadi seperti ini?" batin Papah Willy penuh dengan tanda tanya.
Tapi ia tak mungkin bertanya pada istrinya tentang hal ini, karena ia tahu istrinya tidak akan mau berkata jujur.