
Mendengar saran dari Tian, di dalam hati Ivan sangat senang. Ia akan melakukan hal yang sama jika Tian terus saja bertindak semena-mena terhadap Cantika.
"Aku akan lakukan apa yang kamu sarankan, Tian. Bahkan aku rela jika aku tidak tugas di LA lagi demi Cantika. Aku tidak peduli jika Cantika punya dua anak. Aku tetap akan cinta padanya, bahkan aku akan anggap anak-anaknya seperti anak kandungk sendiri," batin Ivan senang.
*******
Pagi menjelang, Tian pun bersiap berangkat ke kantornya.
"Ivan, kamu di rumah saja nggak apa-apa kan? jika butuh apa-apa minta tolong saja pada Cantika ya? nanti siang aku balik ke rumah untuk ajak kamu makan di luar ya," ucap Tian.
Belum juga Ivan menjawab, Tian sudah berlalu pergi begitu saja.
"Hem, padahal aku ingin berkata bahwa sebaiknya aku ikut saja ke kantor. Malah ngacir duluan. Ya sudahlah," batin Ivan kecewa.
Ivan bingung juga mau ngapain di rumah, tidak ada aktivitas yang dia bisa kerjakan. Pada saat ia sedang melintas di ruang bermain anak Tian yang sulung, ia tak sengaja mendengar pembicaraan antara Cantika dan baby sitternya.
"Maaf nona, aku terpaksa harus berhenti bekerja di sini karena barusan dapat telepon dari kampung jika ibuku sakit dan tidak ada yang menjaga kedua anakku," ucap baby sitter tertunduk tak enak hati.
"Kenapa mendadak sekali seperti ini sih? ya sudah mau bagaimana lagi, kamu hati-hati ya pulangnya," pesan Cantika.
"Sebentar ya jangan pergi dulu." Cantika berlalu keluar dari ruang khusus bermain anak, Ivan pun langsung menyingkir begitu saja karena ia tak mau Cantika mengetahui bahwa ia telah menguping pembicaraan.
Cantika kembali lagi dengan membawa amplop dan menyerahkan pada baby sitternya.
"Ini untuk transportasi kamu semoga ibumu lekas sembuh ya."
"Terima kasih Nona Cantika, sekali lagi saya minta maaf ya."
Saat itu juga babysitter tersebut pergi meninggalkan rumah Tian. Cantika begitu menyayangkan dan bingung jika tidak ada baby sitter ia akan kerepotan sendiri.
"Aduhh...aku sedang hamil besar seperti ini. Malah baby sitter risgn secara tiba-tiba seperti ini. Nggak mungkin juga aku langsung mencari gantinya. Jika tidak izin dulu sama Mas Tian yang ada nanti aku di marahi."
Gerutuan Cantika terdengar oleh Ivan, ia pun iseng menghampiri Cantika yang sedang bersama dengan Salsabila.
"Hallo, Bila sayang. Main yuk sama om."
__ADS_1
Ivan menghampiri Bila dan tanpa diduga Bila langsung saja nyelonong mau saja di gendong oleh Ivan.
"Aneh, padahal kan Mas Ivan baru sehari ada di sini. Kok Bila langsung mau di ajak olehnya ya? apa karena Bila merindukan sosok seorang papah yang tak di dapat dari Mas Tian ya? selama ini kan, Mas Tian sama sekali tidak pernah menggendong Bila," batin Cantika.
"Cantika, kalau kamu mau istirahat. Istirahat saja, biar Bila denganku," ucap Ivan merasa iba melihat Cantika terlihat lelah.
"Nggak mas. Aku juga nggak ingin merepotkan Mas Ivan, nanti Bilanya rewel atau nakal bagaimana? apa lagi saat ini Bila sedang aktif-aktifnya. Paati nanti Mas Ivan cape loh," ucap Cantika.
"Nggak usah khawatir, aku pasti bisa atasi Bila. Apa lagi aku ini suka sekali dengan anak kecil," ucap Ivan mencoba meyakinkan Cantika.
"Pantas saja, Bila langsung lengket sama Mas Ivan. Karena Mas Ivan suka anak kecil, Bilanya bisa merasakan kali ya. Ya sudah ya, mas. Aku mau ke dapur. Sebelumnya terimakasih ya, mas. Sudah bersedia menjaga Bila."
Cantika berlalu pergi menuju ke dapur, dan belum juga satu menit. Ia sudah berteriak histeris.
"Aaahhhh ....bibi...tolong...."
Ivan yang sedang menggendong Bila mendengar teriakan Cantika, ia pun lekas berlari ke dapur begitu juga dengan bibi.
"Astaghfirullah aladzim, Non Cantika!"
"Ya Allah, Cantika..."
Dengan gerak cepat, Ivan memberikan Bila pada bibi dan ia langsung menggendong Cantika yang terjatuh dan alami pendarahan.
Ivan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. Hanya beberapa menit saja telah sampai. Cantika langsung mendapatkan penganan.
Ivan lekas menelpon Tian untuk segera ke rumah sakit.
Kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke dalam nomor ponsel milik Tian. Kebetulan ia sedang tidak sibuk, hingga bisa langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Ada apa, Ivan?"
"Cepat kamu kemari ke rumah sakit Vira Medika sekarang juga. Istrimu jatuh di dapur dan alami pendarahan."
__ADS_1
"Astaga, baiklah aku akan segera datang."
Tian meminta salah satu asisten pribadinya untuk mengantarkannya ke rumah sakit saat itu juga. dan hanya dalam waktu beberapa menit saja dia telah sampai di rumah sakit Vira Medika.
Pada saat Tian telah sampai di rumah sakit kebetulan sekali dokter sedang mencari suami dari Cantika.
"Alhamdulillah kamu sudah datang Tian, ini dokter sedang mencarimu," ucap Ivan.
"Bagaimana kondisi istri dan anak saya, dokter?" tanya Tian panik.
"Mohon maaf sebelumnya, Tuan. Pasien terpaksa harus melakukan operasi pengangkatan janin karena janinnya telah meninggal di dalam kandungan akibat benturan yang terlalu keras. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolongnya, tetapi Tuhan telah berkehendak lain."
"Pihak rumah sakit meminta persetujuan dari anda sebagai suaminya untuk mengizinkan kami melakukan tindakan operasi sekarang juga."
Hingga mau tidak mau akhirnya Tian pun menandatangani surat izin untuk dokter melakukan tindakan operasi kepada Cantika. Setelah mendapatkan tanda tangan dari Tian, dokter baru bisa melakukan tindak operasi kepada Cantika.
Operasi berjalan lumayan lama setelah beberapa jam menunggu keluarlah dokter dari ruang operasi tersebut.
"Maaf Tuan, janin anda bisa segera dikebumikan layaknya seorang anak karena ia sudah memiliki jenis kelamin dan sudah berujud anak," ucap sang dokter.
"Jenis kelaminnya apa ya, dok?" tanya Tian penasaran.
"Kebetulan bayi anda ini berjenis kelamin Laki-laki."
DUAR....
Tian terperangah pada saat mendengar apa yang barusan di katakan oleh Dokter.
"Dok, waktu itu di USG jenis kelamin perempuan? bagaimana bisa terlahir laki-laki?" tanya Tian ragu.
"USG itu memang di perlu kan tapi kuasa Ilahi lebih hebat. Sudah banyak kasus seperti ini, di USG laki-laki akan tetapi pada saat terlahir perempuan. Tapi kadang juga hasil USG tepat," ucap Sang Dokter.
Tiba-tiba Tian mengepalkan tinjunya, ia begitu marah dan kecewa pada Cantika. Namun Tian mencoba menahan rasa marahnya karena sedang berada di rumah sakit.
"Ivan, aku titip Cantika ya. Aku akan memakamkan anakku dulu."
__ADS_1
Tian langsung membawa jazad bayinya untuk segera di makamkan.
Sementara kondisi Cantika masih belum sadarkan diri.