Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Kesetiaan Cantika


__ADS_3

Sudah dua bulan berlalu, tetapi kondisi Ivan masih saja belum pulih. Ia masih tergeletak di kursi rodanya. Hal ini membuat Ivan semakin merasa dirinya tidak berharga sama sekali. Bahkan dirinya juga di rumahkan sementara dari pekerjaannya. Dan untuk sementara waktu, jabatannya sebagai komandan juga telah di copot.


Melihat suaminya selalu murung, membuat Cantika merasa sedih. Ia pun berusaha menghibur kesedihan yang sedang di alami oleh suaminya.


"Mas, bagaimana kalau mas bantu usaha garmenku saja. Dari pada Mas di rumah malah bengong yang ada pikiran mas pasti jadi tak karuan bukan?"


"Jika di garmen pasti Mas Ivan bisa menghilangkan rasa kesedihannya. Hem maaf ya mas, jangan berprasangka buruk terhadap niatku ini."


"Aku hanya tak ingin mas terlihat murung atau pun bersedih lagi. Karena aku rindu dengan Mas Ivanku yang dulu. Yang suka bercanda dan tertawa riang."


Terus saja Cantika membujuk suaminya, hingga Ivan pun bersedia menerima saran dari Cantika. Karena ia sejenak telah berpikir terlebih dahulu dengan apa yang dikatakan oleh Cantika barusan.


"Baiklah, sayang. Saranmu ini memang sangat bagus, aku akan menurutinya. Lagi pula aku juga ingin selalu ada di samping dirimu setiap saat."


Cantika sangat senang mendengar kesediaan Ivan menerima saran darinya. Untuk selalu mendampingi dirinya disaat berada di beberapa cabang garmen.


Bahkan selama Ivan berada di dalam kursi rodanya, Cantika sendiri yang merawat Ivan di sela kesibukannya sebagai seorang pebisnis wanita di bidang garmen.

__ADS_1


Cantika tidak pernah berkeluh kesah dan selalu semangat dan penuh senyuman dalam merawat suaminya. Bahkan ia tidak menyewakan jasa perawat untuk merawat Ivan.


Baginya cukup dengan dirinya saja yang merawat Ivan.


"Alhamdulillah, aku senang dengarnya karena Mas mau menerima saran dariku. Kan dengan begini, kita akan selalu bersama selamanya," ucap Cantika terkekeh.


Ivan hanya menanggapi perkataan Cantika dengan senyumannya. Ia benar-benar tidak salah pilih istri dan sangat beruntung, karena Cantika tetap cinta padanya walaupun kondisi dirinya yang masih saja ada di kursi rodanya.


Walaupun ia selalu rutin jalani terapi kelenturan otot kaki, supaya ia bisa lekas berjalan lagi. Tetapi tetap saja kondisinya belum juga pulih seperti sedia kala.


*****


Dengan sangat sabar, di pagi hari Cantika memapah perlahan Ivan ke kamar mandi untuk ia mandikan. Dan juga mengenakan pakaian untuk Ivan.


Hanya makan saja yang Ivan lakukan sendiri. Bahkan jika ia ingin ke toilet juga selalu minta tolong Cantika. Karena kakinya benar-benar mati rasa dan kaku. Sama sekali tidak bisa di gerakkan.


"Sayang, terima kasih ya? selama aku tak bisa berjalan, kamu selalu merawat aku dengan baik. Tidak ada yang kamu keluhkan sama sekali. Aku bisa merasakan ketulusan yang kamu berikan padaku," ucap Ivan dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Mas Ivan, apa yang aku lakukan itu sudah sewajarnya bagi seorang istri. Dimana jika suaminya sedang sakit, istri yang harus merawat. Dan juga sebaliknya, jika istri sakit bukannya suami yang merawat? apa lagi dulu pada saat kita belum menikah, kamu selalu ada di sampingku. Walaupun kamu tak pernah mengatakan jika kamu yang telah membantuku?"


"Aku tidak pernah melupakan semua kebaikanmu di saat aku sedang terpuruk sendiri. Kamulah dewa penolong bagi diriku. Justru aku yang bersyukur di beri seorang suami yang sangat tangguh jawab dan juga setia."


"Mas, sudah ya? nggak usah berpikiran tentang tidak enak hati padaku. Karena sudah tugas seorang istri memang merawat suami yang sedang sakit bukan?"


Ivan semakin terharu mendengar apa yang dikatakan oleh Cantika. Padahal ia kerap kali merasa jika telah gagal menjadi seorang suami karena tak bisa mencari nafkah untuk Cantika dan Salsabila.


Ivan sedang di mode tak bisa menahan rasa sedihnya. Hingga sejenak di pinggir kelopak matanya, menggenang cairan bening. Sejenak Ivan mengusapnya supaya Cantika tidak melihatnya.


Kini di dalam hatinya, akan berusaha tidak bersedih.


"Aku yakin suatu saat nanti bisa berjalan kembali. Dan aku juga tidak akan berdiam diri selalu. Memang aku tidak bisa mencari nafkah di kepolisian lagi."


"Tapi setidaknya aku bisa mencari nafkah dengan membantu usaha garmen Cantika. Aku tidak boleh putus asa dengan merutuki diri sendiri.


"Merutuki kondisi diri yang ada di kursi roda. Aku harus semangat demi anak dan istriku. Aku tak ingin membuat Cantika bersedih."

__ADS_1


Terus saja Ivan menyemangati diri sendiri di dalam hatinya. Ia tak ingin terus menerus bersedih dengan mengasihani diri sendiri.


__ADS_2