Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Kaget


__ADS_3

Inka tersenyum senang pada saat meraih kotak obat untuk, Tian.


"Hheee... obatnya bereaksi juga yah..mulai terasa pening, good job," batin Inka.


"Mulai lah kamu merasakan kehancuranmu ya, Tian yang sombong. Aku yakin hanya dalam hitungan hari saja, kamu akan tergeletak di kasur bagai mayat hidup," batin Inka sedang melonjak penuh kegirangan.


"Mas, ini kotak obatnya. Minumlah obatnya dan lekas tidur, tak usah memikirkan pekerjaan dulu."


Inka berpura-pura sok perhatian dan sok peduli pada, Tian.


Setelah Tian minum obat sakit kepala, ia pun berbaring tidur. Dan matanya langsung terpejam. Kini usaha Inka mulai terlihat ada titik terang hingga ia terus saja tersenyum.


Hingga tak terasa pagi menjelang, dan pada saat Inka menyediakan sarapan untuk Tian. Kali ini Tian menolak dengan alasan akan bertemu dengan klien barunya. Ia akan sarapan di luar saja.


"Mas, aku sudah siapkan sarapan. Yuk sarapan dulu," ajak Inka tapi di jawab dengan penolakan.


"Maafkan aku, Inka. Pagi ini aku tidak bisa sarapan karena akan bertemu dengan klien baruku yang sangat penting," ucapnya seraya membetulkan letak dasinya.


"Mas, memang kamu sudah tidak pening lagi? sebaiknya sarapan sejenak sedikit nggak apa-apa, terus baru minum obat lagi kalau memang masih pening," saran Inka lembut.


"Inka, aku sudah sehat dan tak pening lagi. Makanya aku bisa pergi ke kantor. Sudah dech ya, kamu nggak usah cerewet seperti ini. Aku tahu kamu perhatian, tali lihat situasi dan kondisi. Karena aku tak ingin melewatkan pertemuanku ini dengan pengusaha sukses di bidang garmen," ucap Tian.


Mendengar kata-kata ketus yang keluar dari bibir Tian, sebenarnya membuat Inka ingin mengamuk. Tetapi ia mencoba untuk bisa menahan amarahnya.


"Oh ya sudah, kamu yang hati-hati ya mas."


Inka dengan rasa sungkan menyalami Tian yang sombong itu.


Tanpa ada kata sedikitpun, Tian langsung melangkah keluar meninggalkan rumah dengan sopir pribadinya. Seperginya Tian, barulah Inka meluapkan amarahnya dengan mengacak-acak meja makan.


"Aaahhh.... susah payah aku siapkan ini untukmu Tian! seharusnya kamu tak melewatkan makanan yang aku berikan supaya kamu cepat tergeletak!"


Semua piring berjatuhan tak karuan hingga berbunyi ramai sekali, membuat asisten rumah tangga yang ada di rumah itu lari ke ruang makan.

__ADS_1


"Iyem, kamu bereskan kekacauan ini sekarang juga! aku masih ingin tidur!" perintahnya pada Iyem.


'Baik, non."


Saat itu juga Iyem membereskan kekacauan yang telah di buat oleh Inka. Sedangkan Inka pergi begitu saja menuju ke kamarnya.


"Hem...nasib jadi pembantu ya seperti ini. Selalu saja setiap harinya tambah pekerjaan," batin Iyem kesal.


*******


Tian sengaja berangkat cepat karena tak ingin terlambat menemui pengusaha wanita yang baru.


ia bahkan sengaja mengajak si pengusaha wanita untuk sarapan bersama dirinya seraya membicarakan banyak hal. Itulah yang ada di otak Tian saat ini. Ia ingin sekali bekerja sama dengan pengusaha wanita yang belum pernah ia temui.


Cantika yang sedang bersiap-siap akan pergi juga sedang merasa gelisah.


"Aku ingin bertemu dengan seorang pengusaha yang sudah terkenal di bidang garmen, tetapi kenapa malah aku tak karuan seperti ini ya? apa aku minta tolong Mas Ivan untuk menemaniku ya? ah, aku tidak enak jika mengganggu aktifitasnya. Apa lagi selama ini, ia sudah banyak sekali membantu diriku," batin Cantika.


Keduanya memang sama-sama tidak tahu, karena memang asisten pribadi Tian juga tidak menyebutkan nama pada Tian tentang Cantika. Ia hanya mengatakan pengusaha wanita.


Dan kepada Cantika, asisten pribadi Tian hanya mengatakan bos saya. Jadi tidak ada embel-embel nama. Baik Tian maupun Cantika sama sekali tidak menanyakan nama seseorang yang akan di ajak kerjasama kepadanya asisten pribadi Tian.


Hingga pada saat Cantika sampai di sebuah cafe yang terkenal dan langsung melangkah ke meja yang telah di pesan orang Tian, ia sangat kaget pada saat sudah ada di hadapan Tian.


Awalnya ia tidak tahu jika itu Tian karena posisi duduknya membelakangi hingga hanya terlihat punggung Tian saja. Hanya asisten pribadi Tian yang melambaikan tangan pada Cantika untuk segera mendekat.


Sementara reaksi asisten pribadi Tian tidak di ketahui oleh Tian yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Selamat pa.."


Cantika menghentikan ucapannya pada saat melihat wajah siapa pengusaha yang akan di temuinya itu. Bahkan Cantika menarik tangannya lagi untuk mengajaknya bersalaman.


"Kamu?" Tian terperangah melihat Cantika dengan penampilan yang sangat berbeda.

__ADS_1


"Iya, Tuan Tian. Ini adalah, Nona Cantika. Ia seorang pengusaha wanita itu," ucap Asisten pribadi Tian.


"Tidak mungkin!" sanggah Tian tidak percaya dengan ucapan asisten pribadinya.


"Tapi memang benar, Tuan. Nona Cantika ini yang saya ceritakan pada anda," ucap asisten pribadinya mencoba menjelaskan.


Dia tidak tahu jika Cantika adalah mantan istrinya. Karena memang dulu pada saat Cantika menjadi istri Tian, ia tidak pernah di bawa kemanapun hingga tidak ada yang tahu jika Cantika adalah istri Tian.


"Kenapa Mas Tian, kamu kaget melihat kesuksesan seorang wanita yang pernah kamu hina dulu? yang kamu katakan tidak akan bisa hidup tanpamu?"


"Sekarang kamu bisa melihat kan? bahwa ejekanmu dan hinaanmu padaku sama sekali tidak berpengaruh apa pun."


"Walaupun aku ini tidak berpendidikan tinggi. Dan hanya seorang janda yang pada masanya di sia-sia kan oleh suaminya. Kini sudah berhasil menjadi seorang pengusaha sukses."


"Bahkan mantan suaminya sangat antusias ingin bekerja sama dengan mantan istri yang teraniaya dahulu kala."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Cantika, membuat Tian marah.


"Dasar sombong! baru saja berdiri tegak sudah sombong seperti ini. Kamu pikir sudah bisa menyaingi kesuksesanku, hah? oh ya, aku sudah menggugat cerai dirimu beberapa bulan yang lalu. Aku tak mengantarkan surat cerainya karena pada saat itu aku tak tahu alamat rumahmu yang baru. Malah aku berpikir kamu dan anakmu tinggal di kolong jembatan," ucap Tian ketus.


"Aku sudah tahu kok, hanya aku malas saja ke rumahmu. Sengaja aku biarkan surat itu tidak aku ambil," ucap Cantika.


Sementara asisten pribadi Tian sempat terperangah mendengar keakraban keduanya yang ternyata mantan. Ia tidak tahu karena ia juga karyawan baru, di samping Cantika dulu juga tidak pernah di kenalkan oleh Tian bahwa ia istrinya.


Berbeda dengan Inka, yang sering di bawa ke kantor oleh Tian.


"Heh, kenapa kamu tidak mengatakan padaku jika pengusaha wanita itu adalah dia! seharusnya kamu katakan namanya dan jika perlu tunjukkan fotonya, bodoh!' bentak Tian pada asisten pribadinya.


"Maafkan saya, Tuan. Karena anda juga tidak bertanya waktu itu dan sepertinya tidak bermasalah. Jadi saya diam saja. Saya pikir anda akan berkenalan setelah bertatap muka," ucap asisten pribadinya tertunduk lesu.


"Dasar bodoh! saat ini juga aku pecat kamu!" bentak Tian.


'Tuan, kenapa hanya masalah seperti ini saya di pecat. Maafkan saya, Tuan Tian. Dan tolong cabut kata-kata anda itu," pintanya memelas.

__ADS_1


__ADS_2