
Cantika mencoba untuk tidak terbakar cemburu, ia pun diam tak mengutarakan kekesalannya melihat suaminya barusan begitu mesranya dengan Rani.
"Cantika, aku tahu apa yang saat ingin kamu rasakan walaupun kamu tak mengatakannya padaku. Aku juga tahu kamu telah berbohong tadi. Kamu pasti telah melihatku dengan Rani kan?"
"Cantika, apa yang kamu lihat tadi tidak sesuai dengan apa yang sedang kamu pikirkan saat ini. Rani mendadak kepalanya sakit, ia memintaku untuk sejenak memijit kepalanya."
Tian sengaja berkata panjang lebar karena melihat sikap Cantika yang begitu murung dan gelisah.
"Iya, mas. Tak perlu kamu berkata panjang lebar, aku sudah tahu kok. Lagi pula kalian kan masih sah suami istri, wajar jika melakukan hal itu. Bahkan melakukan lebih dari itu juga aku takkan marah."
Apa yang terlontar dari bibir Cantika tak sesuai dengan yang di rasakan di dalam hatinya sekarang ini, bahkan matanya semakin berkaca-kaca karena sedang menahan supaya tidak terjatuh air matanya.
Tian memalingkan wajah istri sirinya ke wajahnya, hingga kini mereka berhadapan. Akan tetapi Cantika terus saja tertunduk, membuat Tian terpaksa menengadahkan wajah istri sirinya tersebut dengan memegan kedua dagunya.
"Sayang, aku tahu apa yang sedang kamu rasakan. Tak usah kamu sembunyikan kesedihanmu itu. Tadi aku sudah menolak Rani untuk tidak memelukku karena aku tahu jika kamu melihatnya pasti seperti ini. Sayang, nanti aku akan minta pada Rani supaya kembali lagi ke rumahnya. Aku tak ingin kamu terus saja bersedih jika ada ia di sini." Tian merengkuh Cantika di dalam pelukannya.
Sementara Cantika tak berkata apapun, ia sudah tak kuasa lagi menitikkan air matanya. Ia begitu bingung dengan kehidupan yang sedang ia jalani saat ini. Ingin mundur saja, tapi keadaan tidak memungkinkan karena kehamilannya. Bertahan belum apa-apa sudah teramat menyakitkan.
Tak terasa pagi menjelang, seperti biasa Cantika memasak di dapur walaupun sudah ada asisten rumah tangga. Ia sudah terbiasa dengan rutinitasnya seperti itu dari ia sebelum menikah dengan Tian. Walaupun ia saat ini sedang hamil akan tetapi kehamilannya sama sekali tak mengganggu aktifitasnya sebagai seorang ibu rumah tangga.
Ia begitu rajin bangun pagi dan memasak serta menyiapkan segala kebutuhan suaminya. Selagi asik berada di dapur bersama dengan asisten rumah tangganya, datanglah Rani. Cantika mencoba tersenyum dan menyapanya walaupun hatinya sangat enggan melakukan hal itu.
"Selamat pagi, Mbak Rani," sapanya menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Nggak usah berbasa-basi padaku, kamu pikir aku suka? aku tahu kok jika kamu itu tak suka kan aku ada di sini?" ucapnya ketus tepat di telinga Cantika.
Cantika hanya diam saja karena ia nggak mungkin meladeni ucapan Rani yang bisa membuat dirinya terpancing emosi.
"Sabar, Cantika. Biarkan saja ia bicara, tebalkan telingamu dan fokuslah dengan masakanmu ini," batin Cantika menguatkan diri sendiri.
"Heh, kamu tuli ya? aku ini sedang bicara padamu tapi kamu diam saja!" Rani mendorong bahu Cantika dengan telunjuknya.
"Astaghfirullah aladzim, Mba Rani kenapa kasar sekali padaku?" ucap Cantika yang sempat kaget dengan perlakuan kasar Rani.
"Nggak usah menyalahkan aku ya, ini belum seberapa. Karena aku akan terus meneror hidupmu dengan segala kelicikanku supaya kamu tersingkir dengan sendirinya dari kehidupan Mas Tian."
"Aku akan tidak akan melepaskan suamiku begitu saja untuk wanita ****** dan miskin seperti dirimu. Aku akan merebut suamiku lagi, bahkan dengan cara kasarpun akan aku lakukan."
Cantika sama sekali tak terpancing dengan ucapan Rani, ia terus saja fokus dengan masakan yang ada di hadapannya. Ia mengganggap segala yang di katakan Rani adalah suatu hembusan angin saja.
Cantika terhenyak kaget pada saat melihat kelakuan Rani yang secara tiba-tiba itu.
"Astaghfirullah aladzim, Mba Rani."
"Kenapa, mau marah? marahlah sekarang juga, karena memang itu yang sedang aku inginkan saat ini," tantang Rani tersenyum sinis pada Cantika.
Namun lagi-lagi Cantika tak menanggapi perkataan Rani, ia justru sibuk mengurus masakan yang telah di rusak oleh Rani. Ia mengganti dengan menu masakan yang lain karena bubuk cabe sudah mencampur ke dalam masakan tersebut. Sementara Cantika sudah paham selera dan kesukaan masakan Tian itu tidak terlalu pedas.
__ADS_1
"Dasar pelakor nggak tahu diri!" bentaknya mengangkat satu tangannya hendak memuk Cantika, akan tetapi ada satu tangan kekar menahannya.
"Apa yang akan kamu lakukan pada, Cantika?" tegur Tian melotot.
"Anu mas...itu mas..aku hanya..
Rani gagap tak bisa berkata-kata, karena ia kaget kenapa pula tiba-tiba ada Toan tapi ia tak tahu dari arah mana datangnya Tian.
"Anu-itu, hanya apa coba? mau beralasan apa kamu? kamu pikir aku tak mendengar semua perkataanmu pada Cantika? aku pikir kamu ini telah berubah karena sudah di berikan sebuah penyakit. Kamu tahu, penyakit yang kamu derita itu untuk menegur kelakuanmu itu yang tak bisa halus," ucap Tian kasar.
Rani hanya diam saja karena memang dirinya sudah kepergok oleh Tian, hingga ia tak bisa berkilah lagi.
"Sialan, dari mana datangnya Mas Tian? aku pikir ia masih nyenyak tidur di dalam kamarnya," batin Rani kesal.
Rani pun memutuskan pergi dari dapur, karena dia sudah tidak bisa menggangu Cantika lagi karena ada Tian di sampingnya.
"Sayang, seharusnya kamu balas saja segala ocehan Rani tadi. Aku saja yang mendengarnya menjadi geram, kenapa kamu malah hanya diam saja?" ucap Tian.
"Kenapa aku hanya diam, karena aku tak ingin di pagi hari terjadi keributan yang akan membuatmu terganggu, mas," ucap Cantika sekenanya.
"Kenapa kamu sudah bangun, mas? padahal ini masih terlalu pagi," tanya Cantika mengalihkan pembicaraan.
"Karena aku tahu di dapur ada Rani, aku bisa melihat dari rekaman CCTV pada saat aku terjaga dari tidur. Entah kenapa aku ingin melihat aktifitasmu di pagi hari lewat rekaman video CCTV. Dan aku melihat apa saja yang telah Rani lakukan padamu. Dan juga perkataan pedasnya padamu, hingga aku memutuskan untuk datang kemari karena terlihat gelagat Rani yang mencurigakan." Ucap Tian seraya memeluk Cantika dari arah belakang tanpa ada rasa malu sedikitpun pada asisten rumah tangga yang saat ini ada di dapur pula.
__ADS_1
"Mas, jangan seperti ini. Malu kan sama si bibi," tegur Cantika seraya melirik ke arah bibi.
"Untuk apa malu, bibi ini sudah aku anggap keluargaku. Ia bersamaku sudah cukup lama, bahkan tahu seperti apa rumah tanggaku bersama Rani, iya kan bi?" ucap Tian menyunggingkan senyumnya.