Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Terkena Jebakan Sendiri


__ADS_3

Saat Rani terjatuh, saat itu juga Cantika keluar dari kamarnya. Rani begitu terkejut karena melihat tak terjadi apa-apa pada Cantika, tapi malah dirinya yang sial.


"Hah, bagaimana bisa Cantika tak apa-apa? lah kok ini minyak banyak sekali, apa iya aku salah menuang minyak ke lantai depan pintu kamarku sendiri? mana mungkin, jelas sekali aku menuangnya di sana di depan pintu kamarnya," batin Rani heran.


"Heh, kamu. Ada orang terjatuh kok diam saja, kenapa nggak di tolong?" tegur Rani menatap sinis ke arah Cantika.


"What's, kamu minta aku menolongmu? bukankah kamu terjatuh karena perbuatanmu sendiri? itu namanya senjata makan tuan. Makanya jangan berniat jahat pada orang, yang ada kamu terkena jebakanmu sendiri kan?" ejek Cantika seraya berlalu pergi dari kamarnya tanpa menghiraukan Rani yang masih saja terduduk di lantai.


"Sialan, bagaimana ia tahu aku akan menjebaknya? apa ia sempat melihatnya ya? haduh, lain kali aku harus hati-hati dech supaya Cantika tak tahu rencanaku. Tapi bagaimana lantai ini bisa berminyak, apa mungkin Cantika yang meletakkan minyak ini? awas saja akan aku adukan pada Mas Tian supaya ia benci padamu," gumamnya seraya mencoba bangkit dari jatuhnya.


*******


Makan siang tiba, seperti biasa Tian lebih nyaman pulang ke rumah untuk makan siang bersama Cantika. Tapi hal ini di salah tafsirkan oleh Rani yang melihat kepulangan Tian.


"Wah Mas Tian pulang, pasti akan mengajakku makan siang di luar kan?" ucapnya seraya tersenyum genit pada Tian.


Tetapi Tian bukannya menghampiri Rani, ia justru menghampiri Cantika.


"Rani, aku sudah terbiasa pulang makan siang bersama Cantika. Jadi kamu jangan GeEr ya, aku pulang bukan untukmu tetapi untuk Cantika." Ucap Tian seraya merangkul Cantika melangkah ke ruang makan.


"Sialan, aku di kacangin!" batin Rani kesal seraya mengikuti langkah Tian dan Cantika ke ruang makan.


Ia takkan membiarkan Cantika dan Tian hanya berduaan saja.


"Mas Tian, istri sirimu ini berniat jahat padaku. Dia hanya berpura-pura baik padaku dengan menerimaku di sini, tetapi hatinya busuk," ucap Rani seraya menatap tajam pada Cantika.


"Apa maksud perkataan Mba Rani?" tanya Cantika seraya menyendokkan makanan untuk Tian.


"Hallah, kamu masih saja berpura-pura! apa kamu lupa yang barusan kamu lakukan padaku hah?" ucap Rani ngotot.


"Mba, nggak usah ngegas begitu kali. Bicara yang rileks santai saja, iya kan Mas Tian."

__ADS_1


"Iya, sayang. Sebenarnya ada apa Rani, kenapa kamu menuduh Cantika?" tanya Tian.


Rani pun bercerita tentang apa yang telah terjadi pada dirinya, di mana ia terpeleset karena tumpahan minyak goreng di lantai depan pintu kamarnya.


"Rani, kamu jangan sembarangan ya kalau bicara. Cantika ini wanita baik-baik, bagaimana mungkin ia melakukan hal itu," ucap Tian tak percaya dengan yang di katakan oleh Rani.


"Kalau mas nggak percaya cek saja rekaman CCTV," pinta Rani.


"Haduh, kalau ada rekaman video CCTV justru aku yang akan terkena masalah. Bodohnya aku kenapa pula malah menyarankan melihat rekaman video CCTV," batin Rani berubah cemas.


Mendengar apa yang di katakan oleh Rani, Tian hanya tersenyum.


"Di rumah ini tidak terpasang rekaman video CCTV, jadi aku nggak bisa cek apakah benar kamu terjatuh atau tidak," ucap Tian.


"Ya ampun, Mas Tian. Aku benar-benar terjatuh kok, ayok kita buktikan saja di depan kamarku ada minyak yang berceceran." Rani memaksa Tian dengan mengguncang lengannya untuk mengikutinya melihat di depan pintu kamarnya.


Dengan rasa malas, Tian melangkah bersama Rani. Akan tetapi Tian kesal karena tidak ada apapun di depan kamar Rani.


"Bagaimana bisa begitu cepat sudah tak ada noda minyak sama sekali? apa si bibi yang bersihkan, tapi mana mungkin hanya dalam waktu sekejap ia bisa membereskan kekacauan tadi?" batin Rani di penuhi oleh tanda tanda.


Ia pun kembali ke meja makan dengan menahan rasa malu.


"Mas, bagaimana? apakah ada noda minyaknya?" tanya Cantika pura-pura tak tahu.


"Nggak ada, sayang." Tian melirik sinis pada Rani.


"Mas, tapi tadi aku benar-benar terpele...


"Sudahlah, Rani. Jika kamu bersikap seperti ini, sebaiknya kamu pulang saja kerumah lama. Dari pada buat onar di sini," ucap Tian ketus.


"Mas, tega kamu berkata seperti inilah padaku yang sedang sakit keras?" Rani berakting menangis.

__ADS_1


"Sayang, aku pamit berangkat kerja lagi ya."


Tanpa sungkan Tian mencium kening Cantika di hadapan Rani, dan Cantika mencium punggung tangan Tian.


"Ya, mas. Hati-hati ya."


"Iya sayang. Dan kamu Rani, aku harap tak usah berulah jika ingin tetap tinggal di sini!" ucap lantang Tiang menatap tajam Rani.


"Mas hati-hati ya." Rani mengulurkan tangannya tapi sama sekali tak di hiraukan oleh Tian. Ia justru berlalu pergi begitu saja.


Selepas kepergian Tian, Rani menghampiri Cantika.


"Heh, semua gara-gara kamu jadi bertambah berantakan saja hubunganku dengan Mas Tian! dasar wanita jahat kamu ya!" bentak Rani.


"Hello, yang jahat itu siapa? kamu atau aku. Sudahlah, tak ada gunanya menghadapi wanita seperti dirimu. Mending aku mengerjakan yang lain saja."


Cantika berlalu pergi dari hadapan Rani, hal ini membuat Rani bertambah kesal.


"Aaahhnhh..aku harus ke rumah mamah saja, siapa tahu mamah punya ide yang lain. Karena ide tentang penyakit parah ini tidak ada gunanya sama sekali. Mas Tian tak bisa bersikap manis padaku."


Batin Rani seraya berlalu ke kamarnya dan ia berniat pergi ke rumah mamahnya.


Kesempatan ini tak di sia-siakan oleh Cantika. Ia mengundang petugas pemasangan CCTV. Supaya ia lebih gampang dalam mengawasi gerak gerik Rani. Karena


ia tak ingin terjadi sesuatu pada janin yang sedang ia kandung saat ini.


"Semoga saja dengan adanya CCTV ini, aku juga bisa menemukan bukti kuat bahwa Rani itu tidak memiliki riwayat penyakit parah sama sekali. Supaya Mas Tian tidak menunda perceraiannya dengan Rani."


"Ya Allah, semoga Engkau selalu melindungiku dan janinku dari niat jahat Rani."


Sementara sepanjang perjalanan menuju ke rumah mamahnya, Rani terus saja menggerutu karena kesal..Ia sama sekali tak menyangka jika tak mudah mengalahkan Cantika.

__ADS_1


"Aku pikir wanita desa itu polos dan gampang di singkirkan, tetapi pemikiranku tentangnya ternyata salah. Ia cerdik juga melawanku, hingga aku malah yang terjebak dalam permainan sendiri," batin Rani sangat kesal.


__ADS_2