
Ivan mulai bertanya banyak hal pada Mamah Bella dan Rani.
"Katakan apa tujuan kalian ingin menyakiti Cantika? apa kalian tak takut dengan hukuman yang akan kalian terima?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan, tak membuat ibu dan anak ini lantas sadar. Keduanya hanya tersenyum sinis pada Ivan.
"Kamu ini ngomong apa sih? sudah di katakan jika kami tidak melakukan apapun pada pelakor itu!"
"Aneh, kenapa pula kamu membela pelakor itu? sudah tahu ia itu seorang pelakor! apa kamu di bayar mahal oleh Tian hingga sedemikian rupa kamu membelanya?"
BRAKKKK.....
Ivan menggebrag meja mendengar ucapan yang di katakan oleh Rani. Dia begitu marah.
Sontak saja gebragan meja yang di lakukan oleh Ivan membuat Rani dan mamanya ketakutan, mereka saling berpelukan satu sama lain.
Ivan memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memutar bukti rekaman video CCTV yang sempat di simpan di flashdisk. Kebetulan di ruang khusus pemeriksaan terdapat sebuah layar yang begitu besar.
"Lihat kalian berdua, apa yang ada di layar itu!" bentak Ivan.
Baik Rani maupun Mamah Bella terhenyak kaget pada saat melihat video yang ditayangkan di layar besar yang ada di ruang pemeriksaan tersebut.
"Rani, bagaimana semua yang kita lakukan bisa terekam dalam video tersebut?" tanya Mamah Bella seraya berbisik.
"Aku juga bingung, mah. Karena setahuku di rumah itu tidak ada CCTV," bisik Rani.
"Kenapa kalian berbisik-bisik seperti itu? pasti kalian kagetkan bagaimana aku bisa mendapatkan bukti dari kejahatan yang telah kalian berdua lakukan pada seorang wanita yang sedang hamil muda," celetuk Ivan.
Rani dan Mamah Bella hanya bisa tertunduk lesu. Mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, mereka benar-benar telah mati kutu.
"Kalian pikir setiap kejahatan yang dilakukan tidak akan terbongkar begitu saja? siap-siap saja untuk menerima hukuman yang berat atas apa yang telah kalian lakukan pada, Cantika."
"Aku juga telah menemukan bukti yang lain di mana kalian yang telah memerintah beberapa orang untuk membakar rumah yang ditempati oleh Tian dan Cantika."
__ADS_1
Lagi-lagi mereka terhenyak kaget mendengar akan hal itu, keduanya semakin tidak karuan.
"Astaga... ini orang pintar sekali mendapatkan bukti-bukti tentang kejahatanku bersama mamah. Bagaimana bisa secepat itu dia mendapatkan semua buktinya," batin Rani serasa tak percaya.
Baik Rani maupun Mamah Bella seketika itu juga menjadi panik dan gemetaran mereka sudah membayangkan hukuman yang akan mereka terima.
Sementara saat ini Papah Willy terus saja cemas dan gelisah menunggu di lobby kantor polisi tersebut ia ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Sebenarnya apa saja yang sedang di lakukan oleh Komandan polisi itu. Masa iya dia lama sekali dalam memeriksa Rani dan istriku?" batinnya kesal.
Tak berapa lama penyelidikan terhadap Rani dan Mamah Bella telah selesai untuk sementara waktu mereka berdua ditempatkan di tahanan sementara.
Dan pada saat itulah Papah Willy bisa menanyakan semua hal pada Komandan Ivan.
Betapa terkejutnya diri Papah Willy pada saat ia tahu kejahatan yang telah dilakukan oleh Rani dan istrinya.
"Astaga.... kenapa istri dan anakku senekad itu melakukan kejahatan. Aku benar-benar tidak mengerti," Papah Willy semakin panik dan cemas.
"Maaf, om. Setiap pelaku kejahatan harus mendapatkan hukuman setimpal sesuai dengan kejahatan yang telah ia lakukan. Jika mendapatkan kesempatan pengampunan, mereka tidak akan jera dan bisa mengulang lagi kesalahan yang sama," ucap Komandan Ivan.
"Komandan, kira-kira berapa tahun istri dan anak saya akan mendapatkan hukumannya?" tanya Papah Willy ingin tahu.
"Untuk hal ini kami belum bisa memastikan, karena kasus baru saja akan kami pelajari. Jadi belum di tentukan masa hukuman untuk istri dan anak anda," ucap Ivan kembali.
"Komandan, izinkan saya untuk bertemu sejenak dengan istri dan anak saya," pinta Papah Willy.
Ivan pun tak tega hingga ia mengizinkan Papah Willy untuk sejenak menjenguk istri dan anaknya. Dan pada saat Papah Willy bertemu dengan Rani dan Mamah Bella, ia berkata banyak hal untuk menasehati mereka.
"Rani-mamah, padahal sudah berkali-kali aku nasehati kalian untuk tidak melakukan hal fatal seperti ini. Tetapi kenapa kalian kerasa kepala hingga akhirnya terjadi kasus seperti ini."
"Jika sudah seperti ini kalian bisa apa? seharusnya kalian berpikir yang matang sebelum melakukan tindak kriminal seperti ini."
"Kalian masih saja keras kepala dengan bermain api seperti ini. Apa kalian tidak berpikir seribu kali, jka setelah keluar dari penjara kalian menyandang status bekas narapidana?"
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh Papah Willy, Mamah Bella menjadi marah.
"Pah, seharusnya kamu itu mencari jalan keluar untuk kita bisa keluar dari penjara ini. Bukan malah terus saja menyalahkan dan menghakimi kami terus."
"Mamah membantu Rani karena untuk mempertahankan rumah tangganya. Seharusnya papah menyalahkan Tian dan pelakor itu, bukan menyalahkan kami berdua."
"Secara langsung kami yang telah di jebak oleh pelakor itu. Hingga kami terpaksa melakukan tindakan kriminal seperti ini."
"Jika tidak ada pelakor itu pasti tidak akan ada kejadian seperti ini. Mamah hanya tak ingin Rani sebagai istri sah tersingkir oleh pelakor itu."
Mendengar pembelaan dari istrinya, Papah Willy merasa heran.
"Mah, itu bukan suatu alasan yang tepat. Sudah berapa kali papah katakan pada Rani. Jika ia memutuskan untuk menikah seharusnya bijaklah menjadi seorang istri."
"Seharusnya apa tugas sebagai istri itulah yang harus di jalankan. Jangan seenaknya sendiri seperti pada saat masih lajang."
"Rani, seharusnya kamu itu koreksi diri atas segala kesalahan dirimu bukan malah merasa benar terus."
Rani pun tak terima dengan ucapan Papah Willy yang terus saja memojokkan dirinya.
"Pah, aku sudah meminta maaf pada Mas Tian atas apa yang aku lakukan padanya. Dan aku meminta supaya Mas Tian memaafkan aku dan memberiku kesempatan satu kali lagi untuk berubah."
"Tetapi apa, Mas Tian sama sekali tak mau memberiku kesempatan sama sekali. Mas Tian malah memilih jalan pintas dengan menikah siri dengan wanita lain."
"Apa itu hal benar, papah? setiap orang kan pasti ada khilaf dan pernsh melakukan kesalahan. Apa aku salah ingin mempertahankan rumah tangga ku?"
"Apa aku salah jika ingin meminta kesempatan satu kali lagi untuk menjadi lebih baik, papah."
"Pah, coba papah temui Mas Tian. Dan mintalah padanya supaya ia mau mencabut tuntutan padaku dan mamah supaya kami bebas."
"Dan aku pastikan aku dan mamah tidak akan berbuat kejahatan lagi. Aku akan mundur saja."
Demikian Rani terus saja mencoba membujuk Papah Willy.
__ADS_1