
Tak terasa sudah satu bulan lamanya, Cantika jalani kehidupan seorang diri. Ia kini mulai bisa beradaptasi dengan keadaan dirinya.
Usaha yang ia geluti mulai membuahkan hasil. Banyak hasil jahitannya berupa selimut, kesed, daster dan lain sebagainya yang ia jual ke para tetangga di sekitar.
Lambat laun usaha mulai terkenal ke berbagai penjuru desa di sekitarnya. Banyak orderan dari para tetangga.
"Alhamdulillah, walaupun usahaku masih terbilang kecil. Belum berkembang pesat, setidaknya ada pemasukan setiap harinya. Dan aku tidak perlu lagi memikirkan kembali mengenai kesusahan mendapatkan uang."
"Sebenarnya aku ingin sekali mengembangkan usahaku ini dengan menawarkan semua hasil jahitanku ke toko-toko besar. Tetapi modalnya yang belum aku punya."
Cantika merenung sendiri, di tengah ketermenungannya. Siska pun memberanikan diri bertanya pada Cantika.
'Non Cantika, kenapa melamun?" tanya Siska menyeledik.
"Aku sedang memikirkan sesuatu, Siska," ucap singkat Cantika.
"Ya Non, saya tahu sedang memikirkan sesuatu. Tetapi jika saya boleh tahu sebenarnya apa yang sedang di pikirkan oleh, Non Cantika?" tanya Siska.
Tanpa ada rasa sungkan, Cantika pun menceritakan kegelisahan dirinya pada Siska.
"Oh jadi seperti itu ya, Non. Sabar ya non, pasti nanti lambat laun ada jalan untuk Non bisa mengembangkan usahanya," ucap Siska.
Di dalam hati Siska juga akan menghubungi Ivan untuk meminta bantuan padanya.
"Aku minta maaf ya, Siska. Belum juga bisa membayar gajimu. Tetapi aku catat di buku pribadiku dan aku anggap diriku ini berhutang padamu dan bibi. Sebenarnya aku malu karena ketidak berdayaanku ini."
'Aku juga sudah berpikir akan menggugat cerai, Mas Tian. Tetapi aku belum ada uang yang cukup juga."
"Banyak sekali keinginan dan impian di hati hanya saja modalnya yang belum ada."
__ADS_1
Mendengar segala yang di katakan oleh Cantika, ada rasa iba di dalam diri Siska. Ia selama ini ada di samping Cantika di segala kondisinya. Hingga tahu berapa menderitanya Cantika.
"Non, sudah berapa kali aku katakan pada Non Cantika supaya tidak usah memikirkan tentang masalah gaji saya dan bibi dulu. Supaya Non tidak merasa terbebani karena beban Non yang lain juga banyak."
"sekarang Non fokus saja menabung sedikit demi sedikit untuk bisa memperbesar usaha, Non ini."
Siska mencoba memberikan penghiburan pada Cantika.
"Terima kasih, Siska. Kamu sungguh baik padaku. Kamu dan bibi memsng luar biasa kebaikannya. Aku berhutang Budi banyak pada kalian berdua. Maafkan aku karena bukan seorang majikan yang baik. Hingga menunggak gaji kalian berdua," ucap Cantika terbesit rasa sedih di wajahnya.
"Non, jangan bermuram durja. Itu akan berpengaruh pada Salsabil. Nanti ia rewel dan itu bisa mengganggu usaha jahit, Non."
'Jangan lemah ya, Non. Semangat dan selalu positif tinking untuk menatap hari depan yang cerah. Berusaha tersenyum selalu dan ceria, supaya segala yang Non hadapi terasa ringan."
'Kurangi berkeluh kesah, Non. Tetapi perbanyak rasa syukur. Maaf ya,Non. Kesannya kok saya jadi sok menasehati."
Cantika tersenyum mendengar apa yang barusan di katakan oleh Siska. Ia sama sekali tidak ada rasa tersinggung dengan segala yang di katakan oleh Siska. Justru selama ini ia telah menganggap Siska dan bibi bukan hanya pelayan tetapi sahabatnya. Dimana ia selalu menceritakan apa yang sedang ia pikirkan. Dan entah kenapa Siska selalu saja bisa memberikan solusi yang tepat.
[Tuan Ivan, saat ini usaha jahit Non Cantika membuahkan hasil yang sangat bagus karena jahitan dia rapi dan bagus. Tetapi ada satu hal yang sedang membuat ia gelisah. Ia ingin sekali mengembangkan usahanya dengan menyetok hasil jahitannya ke toko-toko besar, tetapi ia sama sekali belum ada modal.]
[Satu lagi, Tuan Ivan. Non Cantika juga sudah ingin menggugat cerai suaminya. Tetapi segala yang ia inginkan terkendala modal yang tidak ada.]
Drt drt drt drt
Drt drt drt drt drt
Dua notifikasi char pesan masuk ke dalam nomor ponsel Ivan, dan ia pun membacanya. Ia langsung membalasnya.
[Coba kamu foto beberapa hasil jahitan dari Cantika, nanti aku dari sini akan mempromosikannya pada beberapa kenalanku yang memiliki toko yang serupa dengan segala hasil jahitan Cantika.]
__ADS_1
Siska langsung menuruti kemauan Ivan, ia pun melangkah ke ruang tengah dimana Cantika sedang menjahit saat ini.
"Non Cantika, saya boleh minta izin?" tanya Siska.
"Izin, memangnya kamu mau kemana?" Cantika malah balik bertanya.
"Begini Non, saya ingin foto semua hasil jahitannya. Saya ingin bantu promosiin di laman akun sosial media saya. Brh ya, Non?"
"Oh, boleh saja kok."
Siska pun lekas foto semua hasil jahitan Cantika dari daster, baju anak, kesed, bahkan selimut.
"Terima kasih ya, Non. Semoga saja dengan ini ada yang berminat mengadakan kerjasama dengan Non Cantika," ucap Siska tersenyum.
"Amin, terima kasih ya Siska. Kamu selalu saja membantu saya dalam segala hal," ucap Cantika.
Setelah itu Siska kembali ke kamarnya. Ia tidak ingin berlama-lama karena akan mengganggu Cantika yang sedang konsentrasi dalam menjahit.
Siska langsung mengirimkan semua foto tersebut pada Ivan. Bahkan ia juga tak lupa mengabil sesi videonya supaya lebih memikat orang yang melihat hasil jahitan Cantika.
"Hem, pintar juga Cantika. Semuanya bagus-bagus, aku akan segera promo ke beberapa kenalanku di Indonesia yang memiliki toko besar. Aku yakin mereka pasti akan mau bekerja sama dengan Cantika. Dengan begitu Cantika tidak akan lagi bingung masalah modal, supaya ia cepat bisa mengurus gugatan cerainya pada Tian," batin Ivan.
Ia tidak akan ceroboh dalam bertindak, ia sengaja membantu Cantika secara sembunyi-sembunyi karena memang status Cantika masih istri sah Tian. Ivan tak ingin orang-orang beranggapan jika dirinya adalah pebinor.
"Semua sudah aku perhitungan secara matang. Jika urusanku di LA ini sudah selesai aku akan segera pulang ke Indonesia. Tetapi aku tidak akan langsung menemui Cantika, jika status ia masih istri sah Tian."
"Beberapa hari lagi, urusanku di LA ini akan selesai. Dan aku akan pindah tugas di Indonesia saja. Aku akan menetap di Indonesia demi Cantika."
"Aku juga akan mengecek kondisi Tian, supaya aku tahu seperti apa Tian saat ini. Aku yakin ia sudah menduakan Cantika."
__ADS_1
"Dasar playboy, aku menyesal sekali pernah bersahabat dengan dirinya. Aku pikir dulu ia pria yang baik dan bisa setia pada satu wanita."
"Hanya karena ia kaya raya hingga takabur dan sombong. Lihat saja Tian, kelak kamu pasti akan menyesal, dan pada saat kamu telah menyesali semuanya, aku pastikan Cantika telah menjadi milikku seutuhnya."