Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Aksi Nekad Alika


__ADS_3

Pada saat Cantika selesai pergi dari periksa kandungnya, dan pada waktu itu ia akan melangkah menyeberang ke rumah. Tiba-tiba ada sebuah motor melaju dengan kecepatan kencang.


"Cantika....awas...!!!!"


Teriak Ivan di seberang jalan depan pintu gerbang rumahnya.


Dia sempat melihat motor melaju dengan kecepatan tinggi akan menabrak Cantika. Sekuat tenaga Ivan bangkit dari kursi rodanya.


"Non Cantika....awas...!!!


Saat itu juga Siska menarik tubuh Cantika mundur, hingga tak sampai tertabrak.


Cantika selamat karena pertolongan Siska, tapi naas motor yang akan menabrak Cantika karena tak konsentrasi justru ia masuk ke dalam selokan air.


Dan tanpa pikir panjang lagi, Siska lekas berlari untuk menangkap di pengendaranya yang memakai masker. Dengan gerak cepat Siska menangkap pengendaea itu dan mengunci kedua tangannya di belakang punggungnya, hingga ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Ivan yang kesal dan penasaran dengan wajah pengendara motor itu, langsung saja melangkah menuju ke arah selokan. Ia tak sadar jika sudah bisa berjalan walaupun masih terasa sakit kakinya pada saat di gerakkan.


Dia sama sekali tak memikirkan kakinya, yang ia pikirkan pengendara motor tersebut. Dan pada saat Ivan menarik paksa helm serta maskernya, ia terbelalak kaget.


"ALIKA!!!!!!!"""


Saat itu juga Ivan menelpon rekan kerjanya sesama polisi untuk segera datang ke lokasi kejadian dan menangkap Alika.


"Mas Ivan, Alhamdulillah...."

__ADS_1


Cantika terharu langsung memeluk Ivan.


Sedangkan Ivan bingung kenapa pula Cantika dengan mata berkaca-kaca memeluk dirinya. Sedangkan yang telah menyelamatkan dirinya adalah, Siska.


"Sayang, iya Alhamdulillah. Untung saja ada Siska hingga kamu tidak sampai tertabrak."


Ivan membalas pelukan Cantika seraya mengusap surai hitam istri terkasihnya tersebut.


Kemudian Cantika merenggangkan pelukannya," Mas, apa kamu tidak sadar? aku mengucap syukur karena Mas sudah bisa berjalan lagi."


Barulah Ivan tersadar dan melihat dirinya sendiri, ia sejenak tegang karena apa yang akan menimpa Cantika. Sementara saa ini Alika masih saja di ringkus oleh Siska. Mereka sedang menunggu kedatangan rekan kerja Ivan yang masih dalam perjalanan.


Ivan penasaran ingin tahu apa maksud dan tujuan Alika ingin menabrak Cantika.


Namun pertanyaan Ivan tidak di jawab oleh Alika. Justru Alika terus saja tertunduk malu karena telah ketahuan.


Hingga pada akhirnya, Siska yang membongkarnya pada Ivan. Jika selama ini Alika suka padanya. Akan tetapi ia kecewa Ivan memilih Cantika untuk di peristri.


"Alika, aku pikir kamu sudah bisa move on dari Komandan Ivan dan membuka hatimu untuk pria lain. Terus malah kamu berbuat nekad seperti ini," tegur Siska menyayangkan sikap Alika.


"Diam kamu! ini semua juga salahmu! jika pada waktu itu kamu membantuku bukan membantu wanita desa itu, pasti saat ini aku yang telah bahagia bersama dengan Komandan Ivan!"


Alika tak sadar mengatakan hal itu, hingga membuat Ivan terkekeh di buatnya.


"Alika, walaupun Siska berusaha mendekatkan dirimu denganku. Jika aku telah suka dan sayang pada Cantika, itu juga tidak akan berpengaruh. Aku tidak akan tertarik dengan dirimu. Seharusnya kamu berpikir panjang sebelum melakukan hal keji ini. Apalagi kamu ini bekerja sebagai polwan, apa kamu tidak malu mendapatkan hukuman penjara sedangkan kamu sendiri adalah seorang penegak hukum?"

__ADS_1


Alika diam saja, ia sama sekali tak membalas perkataan panjang yang di lontarkan oleh Ivan. Tak berapa lama, datang rekan kerja Ivan beserta anak buahnya dan menggiring Alika ke kantor polisi. Beserta Siska turut serta dengannya.


Sementara Cantika dan Ivan menyusul dari dari belakang. Cantika menuntun Ivan kembali ke kursi rodanya, tetapi ia justru tidak mau duduk lagi ke kursi roda tersebut.


"Sayang, aku sudah bisa berjalan apa kamu tidak suka? kenapa malah aku di minta duduk lagi di kursi roda tersebut?"


Ivan mengerucutkan bibirnya membuat Cantika terkekeh di buatnya," Mas, aku pikir kamu belum terbiasa dan masih terlihat sekali kamu kesakitan. Jadi setidaknya duduk sejenak saja supaya otot-otot kakimu tidak kaget."


Ivan pun pada akhirnya menurut, dan setelah ia duduk di kursi roda. Cantika mendorongnya untuk masuk ke dalam rumah. Ia ingin membantu suaminya mengganti celananya terlebih dahulu. Karena saat ini Ivan hanya mengenakan celana pendek rumahan.


Setelah itu barulah keduanya melangkah ke luar pintu gerbang lagi. Karena kebetulan saat ini mobil Cantika masih ada di seberang jalan. Ivan mengenakan penyangga kaki yakni satu tangan memakai drama atau seperti tongkat.


Dia tak mau mengenakan kursi roda kembali. Dan kali ini, Cantika meminta salah satu sopir pribadinya untuk mengemudikan mobilnya menuju ke arah kantor polisi.


Mereka ingin melihat kelanjutan tentang kasus Alika. Adam ingin tahu juga apa saja yang akan di katakan oleh Alika pada saat di mintai keterangan seputar apa yang ia lakukan pada Cantika barusan.


Dan kebetulan di luar pintu gerbang tepatnya di jalan raya tersebut telah terpasang CCTV. Hingga bisa untuk bukti kuat menjerat Alika untuk meringkuk di dalam penjara.


Hanya sekejap saja mobil yang di tumpangi Cantika dan Ivan telah sampai di kantor polisi. Tak lupa, mereka mengucap terima kasih pada Siska. Jika tadi tidak ada Siska, entah apa yang terjadi pada Cantika dan calon bayinya.


"Siska, terima kasih ya. Kamu telah menyelamatkan dia nyawa sekaligus. Yakni nyawaku dan juga nyaaa calon anakku."


"Sama-sama, Nona. Ini semua hanya serba kebetulan saja, pada saat aku tiba-tiba ingin ketemu Salsabila. Jadi aku berniat ingin sejenak main ke rumah Nona."


Keduanya saling berpelukan satu sama lain. Sementara saat ini Alika sedang di mintai keterangan oleh rekan kerja Ivan di saksikan oleh Ivan.

__ADS_1


__ADS_2