
Siska kembali melaporkan kemajuan penyelidikannya pada Ivan.
"Hem, Cantika kenapa juga kamu berkeras hati dengan apa yang di sarankan oleh Siska."
"Padahal jika kamu pergi dari sisi Tian, aku akan membantumu dari segi apapun lewat Siska. Aku tidak akan membiarkanmu dan Salsabila terlantar."
"Sialnya, kenapa tugasku di LA ini belum juga selesai yang membuat aku tidak bisa seenaknya untuk bisa kembali ke Indonesia!"
Ivan sudah tidak sabar lagi ingin kembali ke Indonesia. Ia ingin bertindak sendiri dengan tangannya menghadapi Tian. Tetapi keadaan berkata lain, tugas tidak bisa di tinggalkan begitu saja. Jika ia lalai bisa mendapatkan sanksi tegas.
Raganya ada di LA, tetapi hatinya ada di Indonesia. Ia selalu saja memikirkan kondisi Cantika dan anaknya. Apalagi setelah tahu sifat Tian yang sudah tak peduli lagi dengan istri dan anaknya.
Sementara memang tanpa sepengetahuan Cantika, Tian telah menikah siri kembali dengan seorang wanita yang usianya masih sangat belia. Wanita ini bernama Inka.
"Mas Tian, mau sampai kapan aku menjadi istri siri seperti ini?" tanya INKA merasa tak suka.
"Inka, sampai kamu benar-benar di nyatakan hamil barulah kamu akan aku nikahi resmi," ucap Tian dengan entengnya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Tian, Inka sama sekali tak bisa berkata lagi. Padahal ia juga tak ingin menikah apa lagi hamil anaknya Tian. Ia melakukan hal ini juga karena ajang bala dendam.
"Aku ingin menjebak Tian, malah aku sendiri yang terjebak seperti ini. Padahal aku hanya ingin supaya ia tak lepas dariku dengan selamanya menjadi pacar gelapku. Kenapa aku malah menjadi istri sirinya? Mba Rani, aku minta maaf ya," batin Inka.
Ternyata Inka adalah orang bayaran dari Rani. Walaupun ia di dalam penjara tetapi ia masih punya banyak uang untuk melakukan segala cara, hanya saja ia tak dapat keluar begitu saja karena aparat kepolisian tidak mempan di iming-imingi uang yang banyak.
Inka sangat membanggakan Rani yang seorang model dan ia juga tidak terima pada saat model kesayangannya masuk penjara karena ulah suaminya sendiri.
Rani pintar berkilah di hadapan orang, hingga Inka pun tak tahu apa yang telah di perbuat oleh Rani dahulu.
__ADS_1
Inka bertemu dengan Tian pada saat mereka sama-sama berada di sebuah club. Di saat Tian sedang frustasi kehilangan bayi lelakinya. Ia bertemu dengan Inka dan terjadilah cinta satu malam di sebuah hotel yang tak jauh dari club tersebut.
"Apa yang harus aku katakan pada, Mba Rani tentang ini? aku khawatir jika ia marah padaku?" batin Inka cemas.
Melihat Inka hanya diam saja, Tuan menjadi heran.
"Inka, kamu kenapa diam saja? apa kamu marah padaku atau ragu padaku? " tanya Tian menyelidik.
"Nggak, mas. Aku hanya sedikit kecewa saja padamu karena kamu tidak menikahi aku resmi. Jika aku tahu akan hal ini aku tak mau lah menikah siri denganmu," ucap Inka.
"Baiklah, jika kamu protes aku talak saja kamu sekarang juga," ancam Tian hingga pada akhirnya Inka tidak berkata lagi.
"Sudah, aku mau pulang. Intinya aku tak ingin dengar perkataan seperti ini lagi!"
Seperginya Tian sepuluh menit kemudian, Inka memutuskan untuk menjenguk Rani yang ada di lapas.
"Mba Rani, bagaimana kabarmu?" tanya Inka.
"Bagaimana misi yang aku tugaskan padamu, Inka. Apakah kamu telah berhasil perpacaran dengan Mas Tian?"
Inka tertunduk lesu pada saat di tanya seperti itu oleh Rani.
"Inka, kenapa kamu diam? apa kamu tak berhasil mendekatinya?" Rani mengulang pertanyaannya lirih karena tak ingin petugas polisi mendengarnya.
"Mba Rani, aku minta maaf ya?"
"Hah, kamu gagal?" Rani sudah panik dan kecewa.
__ADS_1
"Bukan, itu mba?" ucap Inka lagi ragu.
"Lantas, jika kamu tak gagal kenapa kamu malah meminta maaf? " Rani semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh gadis belia di hadapannya itu.
"Mba, awalnya aku ingin menjebaknya tetapi aku sendiri malah terjebak," ucap Inka semakin membuat Rani tidak mengerti dengan apa yang telah di katakan oleh Inka.
"Katakan yang jelas jangan membuat aku marah," ucap Rani mulai terbajar emosi.
"Begini, mba. Pada saat aku mengikuti laju mobil Mas Tian yang ternyata masuk ke klub. Lah aku dekati dia pada saat minum, ia beri ia minum yang banyak. Tetapi aku sendiri lupa, dengan aku tak mengontrol minumku."
"Hingga kami sama-sama mabuk berat dan kami melakukan itu di hotel yang dekat dengan club. Aku juga tak sadar, mba. Lantas pada saat kami sama-sama telah sadar, ia pun berjanji akan menikahi aku."
"Mba, aku minta maaf telah melakukan itu dengan Mas Tian. Bahkan kini aku menjadi istri sirinya."
Ada rasa ketakutan dalam diri Inka yang masih belia ini. Ia tetap saja tertunduk. Dan tiba-tiba Rani menggenggam kedua tangannya, sontak saja jantung Inka semakin berdegup kencang, ia sudah membayangkan jika Rani akan marah besar padanya.
"Inka, kenapa kamu ketakutan seperti ini? justru ini hal yang sangat bagus, kalau bisa kamu ikat Mas Tian lebih lagi dan paksa supaya melepaskan istri sahnya dan kamu menjadikanmu istri sah."
"Hah, mba Rani tidak marah padaku?" Inka terperangah mendengar apa yang dikatakan oleh Rani.
"Sama sekali tidak, justru langkahmu ini benar. Usahakan kamu bisa menikah resmi dan setelah itu kamu kuras habis semua hartanya," ucap Rani mengajari gadis belia yang benar-benar polos menjadi racun dan diri dalam pernikahan Tian dan Cantika.
"Mba, apa aku bisa ya? aku rusak tahu menahu tentang cara memeras atau menguras habis hartanya? lagi pula Mas Tian mau menikah resmi denganku jika aku ini benar-benar hamil. Masa iya aku harus hamil, mba? aku ini masih sangat muda dan belum punya pikiran untuk hamil apa lagi punya anak? aku masih ingin senang-senang di usia mudaku ini."
"Awalnya juga aku hanya ingin menjadikan Mas Tian pacar gelapku. Tetapi malah seperti ini. Aku juga sedang bingung bagaimana kelak aku menjelaskan pada pacarku yang saat ini sedang berada di luar kota."
"Aku bingung, mba. Bagaimana nanti jika pacarku kembali ke kota ini dan tahu aku ini telah menikah siri dengan pria lain?"
__ADS_1
"Ah mba Rani, semua ini malah semakin rumit saja. Bagaimana kalau aku mundur saja ya, mba? biar mba mencari orang lain saja untuk bantu mba membalas dendam. Nanti aku carikan wanita yang tepat melakukan hal seperti ini."
Rani sangat marah mendengar kata mundur dari mulut Inka. Tetapi ia menahan rasa amarahnya, dan berusaha membujuk Inka supaya terus maju dalam menjebak Tian.