Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Orang Bayaran Ivan


__ADS_3

Tak terasa sudah seminggu Ivan berada di rumah Tian. Ia pun dengan berat hati harus pergi dan kembali ke LA. Tetapi bukan untuk selamanya di sana, ia hanya kembali ke LA untuk menyelesaikan semua tugas yang tertunda dan ia akan menetap di Indonesia ini.


"Tian-Cantika, ku pamit pulang ya. Terima kasih atas kebaikan kalian, dan maaf jika selama seminggu ini aku telah merepotkan kalian terutama kamu Cantik," Ivan menatap sekilas ke arah Cantika.


"Nggak usah sungkan, Ivan. Jika kamu ingin kembali menginap, pintu rumahku selalu terbuka untukmu," ucap Arian seraya menepuk bahu Ivan.


Sementara Cantika kembali ke belakang dimana terdengar suara Bila menangis.


Tian memerintah salah satu anak buahnya untuk mengantarkan Ivan ke bandara.


"Cantika, sebenarnya aku tak rela meninggalkan dirimu di sini sendiri. Karena aku tahu, pasti Tian akan bertindak semena-mena padamu."


"Tapi aku janji, Cantika. Secepatnya aku akan kembali lagi ke Indonesia. Dan selama aku berada di LA, kamu nggak usah khawatir. Aku akan mengirimkan salah satu anak buahku tetapi seorang polwan, untuk ia berpura-pura menjadi baby sitter di rumahmu."


"Aku tidak ingin kamu terus tersakiti, hingga aku meminta salah satu polwan di kepolisian khusus wanita untuk menjaga dirimu selalu."


Demikian gerutuan Ivan selama dalam perjalanan menuju ke bandara.


Baru saja di lamunkan, kini polwan itu datang menyambangi rumah Tian dengan memakai pakaian santai hingga tidak terlihat jika ia adalah seorang polwan.


"Maaf Tuan, saya mendapatkan informasi jika di rumah ini sedang membutuhkan baby sitter?" tanya Siska sang polwan.


Sejenak Tian melihat Sisma dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Entah apa yang ada di otaknya, karena setelah itu ia senyam senyum sendiri.


"Nona tahu dari mana jika di rumah ini sedang butuh baby sitter?" tanya Tian seraya terus menatap ke arah Siska.


"Ada seseorang saja yang mengatakan pada saya, Tuan. Tetapi saya lupa siapa orang itu karena kami tak begitu dekat hanya sesekali bertemu saja," ucap Siska.


"Hemmm, boleh juga dech wanita ini kerja di sini. Lagi pula ia cantik dan euih... kenapa kok pikiranku seperti ini ya? padahal aku sudah punya Cantika," batin Tian.

__ADS_1


Dan saat itu juga, Siska di terima menjadi baby sitter Salsabila tanpa di tes atau di tanya banyak hal oleh Tian.


Siska sudah di beri pesan oleh Ivan, supaya ia tidak membuka jati dirinya pada Cantika. Hingga Siska benar-benar berperan menjadi seorang baby sitter tanpa ada kesulitan sama sekali.


Selama di rumah Cantika, Siska selalu saja tak lupa memberikan informasi kepada Ivan.


Hingga tak terasa sudah satu Minggu, Siska berada di rumah Tian.


[Sejauh ini, Non Cantika baik-baik saja. Suaminya tidak berkata kasar padanya. Hanya ia sering pulang pagi, hampir setiap hari. Dan bahkan mereka tak pernah berkomunikasi satu sama lain.]


Drt drt drt drt drt


Satu notifikasi chat pesan masuk ke dalam nomor ponsel milik Ivan, ia langsung membacanya.


"Hem, sepertinya Tian mulai tidak jujur. Kenapa aku berpikiran bahwa Tian punya wanita idaman lainnya di luaran sana ya?" batin Ivan setelah ia membaca chat pesan yang dikirim ke nomor ponselnya oleh Siska.


Namun satu Minggu berikutnya, barulah Cantika berani komplen pada suaminya.


"Mas Tian, sudah dua Minggu ini kamu selalu saja pulang pagi. Itu pun hanya sebentar saja lantas pergi lagi dengan alasan kerja lagi. Mas, masa iya kalau kerja hingga larut malam bahkan sampai pagi?" Cantika memberanikan diri bertanya pada suaminya.


Namun suaminya hanya diam saja, ia bahkan lekas pergi lagi setelah memakai pakaian untuk ke kantornya. Cantika pun mencoba mengejar suaminya.


"Mas, tunggu sebentar. Aku kan belum selesai bicara dan kamu juga tak menjawab apa yang aku katakan? jika ada suatu permasalahan jangan seperti ini, mas. Kita kan bisa bicarakan secara baik-baik."


Cantika mencekal lengan Tian.


Akan tetapi Tian malah menepiskan cekalan tangan Cantika dan ia langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya. Kejadian ini bahkan bisa di lihat oleh Siska, dan ia pun tak lupa menceritakannya pada Ivan.


Bahkan Ivan memberikan perintah pada Siska untuk mengajak Cantika pergi dari rumah itu. Siska menghampiri Cantika.

__ADS_1


"Non Cantika, saya nggak tega melihat non di perlakukan seperti itu. Apakah nggak sebaiknya non tinggalkan saja suaminya. Kalau saya yang menjadi non, sudah pergi dari sini. Maaf ya non, saya kok kesannya seperti ikut campur seperti ini?" ucap Siska pura-pura tak enak hati.


Sejenak Cantika terdiam seolah sedang berpikir dengan apa yang barusan di katakan oleh Siska. Ia pun menghela napas panjang.


"Iya juga, Siska. Aku akan beri waktu satu minggu lagi untuk Mas Tian. Jika memang ia masih seperti itu, barulah aku akan ambil tindakan tegas."


"Tetapi jika memang aku harus pergi dari sini, secara tidak langsung aku tidak akan bisa mempekerjakan kamu lagi, Siska."


"Karena yang membayarmu kan Mas Tian, dan aku tidak punya apa pun yang bisa aku gunakan untuk membayar gajimu."


Mendengar akan apa yang di katakan oleh Cantika, justru Siska menyunggingkankan senyuman.


"Non Cantika, saya ini akan setia sama non. Saya nggak di gaji juga nggak apa-apa, asalkan saya bisa selaku bersama dengan Non," ucap Siska.


"Nggak bisa begitu dong, Siska. Aku nggak mau seperti itu, kasihan kamu jika aku tak bayar gaji kamu," ucap Cantika.


"Nona Cantika, kita sama-sama yatim piatu jadi aku bisa merasakan apa yang saat ini nona rasakan. Hanya bedanya, aku ini masih lajang dan nona sudah berkeluarga," ucap Siska.


"Nona, saya juga punya usaha lain yang menghasilkan uang bukan hanya sebagai baby sitter saja. Yakni saya berjualan on line, jadi nona tak usah khawatir mengenai gaji."


"Lagi pula, nona kan bisa bekerja selepas pergi dari rumah ini. Dan saya yang menjaga Salsabila."


Sejenak Cantika hanya diam, ia benar-benar belum berpikir sejauh itu. Karena ia akan memberikan waktu satu minggu lagi untuk Tian berubah.


Cantika juga belum tahu akan kerja apa jika memang ia pergi dari rumah itu. Karena pendidikannya yang rendah hingga ia tak bisa memilih pekerjaan yang bagus.


"Entahlah, Siska. Nanti ya kita bicarakan lagi. Karena saat ini aku sama sekali tak memikirkan akan hal itu," ucap Cantika mengakhiri pembicaraan dengan Siska.


Ia pun melangkah ke dapur dengan perasaan yang resah dan gelisah memikirkan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2