
Sementara untuk dirinya sendiri dan mamahnya, ia membuat minuman dingin seperti teh manis dingin.
"Cantika, kenapa susunya tidak lekas di minum?" tegur Mamah Bella.
"Hem, maaf sekali kebetulan aku sudah minum susu. Jadi aku tak bisa meminumnya ulang. Silahkan di lanjut saja ngobrolnya karena aku akan mengurus kerjaan yang lainnya." Cantika bangkit dari duduknya ia akan berlalu pergi tetapi tiba-tiba Rani mengatakan hal yang sangat kasar.
"Cantika, kamu nggak mau minum pasti karena khawatir ada sesuatu di dalam susunya ya? sepicik itu sih pikiranmu?" ucap Rani ketus.
"Mba, aku sama sekali tak mengatakan hal itu. Tetapi mba sendiri yang mengatakannya barusan. Ya berarti bisa jadi mba menaruh sesuatu mungkin di susu itu," Cantika tersenyum sinis.
"Jahat banget sih kamu Cantika, dengan menuduhku berbuat seperti itu?"
"Sudahlah mba, aku tak ingin berdebat denganmu. Dan aku juga tak pernah menuduhmu bukan, aku barusan mengatakan jika sudah kenyang karena sudah minum susu. Tak pernah mengatakan hal buruk." Cantika tak mempedulikan lagi apa kata Rani, ia pun berlalu pergi begitu saja.
Rani dan Mamah Bella saling tatap dan saling menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba Rani menarik paksa Cantika dan Mamah Bella juga memegangi tangannya. Satu tangan Rani mengambil susu yang ada di meja, ia pun memaksakan pada Cantika untuk meminum susu itu.
"Minum Cantika! cepat kamu minum susu ini!" bentak Rani kasar seraya melotot.
Namun Cantika tetap saja membungkam mulutnya walaupun Rani terus saja memaksa. Ia pun lama-lama geram hingga pada akhirnya menginjak kaki Rani begitu keras dan satu kakinya menginjak kaki Mamah Bella.
Sekuat tenaga Cantika mendorong tubuh Rani dan Mamah Bella hingga susu yang ada di tangan Rani tertumpah ke mukanya sendiri. Lantas Cantika berlari kecil menuju ke kamarnya.
"Rani sudah keterlaluan, dan aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi padaku. Aku akan adukan hal ini pada, Mas Tian," batin Cantika seraya napasnya memburu.
Ia sempat di buat khawatir akan terjadi sesuatu hal pada janinnya.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas perlindungan darimu. Jika Engkau tak melindungiku, entah bagaimana nasib anakku ini," gumamnya seraya mengusap perutnya.
Karena rasa khawatirnya, akhirnya Cantika memutuskan untuk menghubungi Tian. Ia pun segera menelponnya karena tak ingin terjadi hal yang tak di inginkan pada janin yang sedang dia kandungnya.
Kring kring kring kring kring
Satu panggilan telpon masuk ke dalam ponsel Tian, dan kebetulan ia sedang tidak sibuk hingga bisa langsung mengangkat telpon tersebut.
__ADS_1
"Halo, sayang. Ada apakah?"
"Mas, maaf ya aku mengganggu waktumu. Apakah kamu sedang sibuk?"
"Nggak mengganggu kok sayang, kebetulan aku sedang bersantai tidak ada pekerjaan. Memangnya ada apa?"
"Mas, lekaslah pulang sekarang juga karena aku sedang dalam bahaya."
"Bahaya?"
"Cepatlah pulang, karena aku khawatir Rani dan mamahnya akan menyakiti janinku lagi."
Setelah itu Cantika menutup panggilan telepon tersebut. Sementara Tian memicingkan alisnya karena masih tak paham dengan apa yang barusan di katakan oleh Cantika di dalam panggilan telepon.
Situasi di rumah menjadi semakin panas dan tegang.
"Mah, bagaimana ini? susunya tumpah di mukaku, lantas apa yang harus aku lakukan?" tanya Rani seraya mengelap wajahnya dengan tisue.
'Jika sudah seperti ini, pasti saat ini Cantika telah mengadu pada Tian. Lantas apa yang akan kita jelaskan nanti jika ia bertanya?"
Mendengar apa yang di katakan oleh Mamahnya, Rani hanya tersenyum sinis.
"Mah, nggak usah takut seperti itu. Di sini kan nggak terpasang CCTV jadi kita tak usah takut. Sekarang kita tinggal akting saja, pura-pura mamah jenguk aku." Saat itu juga Rani membereskan tumpahan susu yang ada di lantai di bantu oleh mamahnya.
Mereka berdua sengaja membuat tempat menjadi rapi lagi seolah tak terjadi apa pun. Dan Rani merubah riasan wajahnya supaya terlihat seperti orang sakit. Ia pun masuk ke dalam kamar dan berbaring, sementara Mamah Bella duduk di samping sisi ranjang.
Tak berapa lama, mobil Tian telah sampai di pelataran rumah. Ia begitu panik badan langsung masuk menuju ke dalam rumah mencari keberadaan Cantika. Ia bahkan tak mempedulikan kamar Rani yang terlihat terbuka.
"Tok tok tok tok"
Tian mengetuk pintu kamar istri sirinya.
"Sayang, ini aku. Bukalah pintu kamarnya."
__ADS_1
Mendengar suara suaminya, Cantika lekas membuka pintu kamarnya. Ia pun langsung memeluk suaminya dan air matanya menetes.
"Sayang, sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Tian penasaran.
Cantika mengunci pintu kamarnya dan ia pun menunjukkan bukti rekaman video CCTV yang ada di rumah itu kepada suaminya.
"Sayang, kapan kamu pasang CCTV?" tanya Tian memicingkan alisnya.
"Tadi pada saat Rani pergi ke rumah mamahnya," ucap Cantika.
"Bukannya Rani katanya sedang sakit keras tetapi kenapa keluyuran?"
"Ia nggak sakit, mas. Hanya pura-pura sakit. Makanya mas lihat rekaman video CCTV ini dulu, jangan banyak bertanya supaya mas tahu apa yang barusan akan Rani lakukan padamu dan anak yang ada di dalam perutku ini, mas."
Cantika memberikan ponselnya supaya Tian melihat rekaman video CCTV.
Saat itu juga Tian melihatnya secara perlahan dari yang ada di dapur hingga di ruang tamu di mana terjadi insiden Cantika di paksa minum susu oleh Mamah Bella dan Rani.
Bahkan Tian tahu jika saat ini Rani hanya pura-pura sakit keras. Ia bisa melihat segala aktifitas Rani di dalam kamarnya.
"Astaga, jadi seperti ini tingkah Rani?"
Tian sangat geram seraya mengepalkan tinjunya.
"Mas, ada satu hal yang belum aku tunjukkan padamu. Awal mula aku memasang CCTV karena suatu hal, mas. Lihatlah video ini," pinta Cantika menunjukkan video dimana Rani menuang minyak ke lantai depan kamar Cantika.
"Mas, saat itu aku tak sengaja melihatnya menuang minyak lantas aku video untuk aku tunjukkan padamu. Dan setelah kejadian itu, aku inisiatif untuk pasang CCTV. Ternyata dugaanku benar, Rani masih saja berusaha berniat jahat pada janin ini, mas."
"Aku minta maaf karena pasang CCTV tak izin dulu padamu. Semua ini aku lakukan karena satu hal, yakni ingin membuktikan padamu siapa itu Rani."
"Jika aku mengadu tanpa ada bukti nanti yang ada kamu tak percaya. Makanya aku pasang CCTV. Sekali lagi aku minta maaf ya, mas?"
Mendengar apa yang di katakan oleh Cantika, membuat Tian iba. Dia sama sekali tidak menyangka jika Cantika yang terlihat polos dan tak tahu apa-apa ternyata cerdik juga.
__ADS_1