
Cantika berusaha tegar menghadapi sikap suaminya, walaupun ia benar-benar sakit hati.
"Rasa sakit perutku karena operasi Caesar itu tidak seberapa di banding dengan rasa sakit hatiku karena sikap, Mas Tian. Apakah aku ini seorang wanita pendosa dan ia pria yang banyak amal, hingga perlakukan aku seperti ini," batin Cantika menumpuk rasa kekecewaan di dalam hatinya.
Dengan langkah tertatih, Cantika menghampiri Tian yang ada di ruang tamu sedang bersama dengan Ivan. Sedangkan saat ini kebetulan Salsabila sedang tidur.
"Mas Tian, aku ingin bicara sebentar dengan dirimu. Maaf jika aku lancang karena telah mengganggu waktu bersantai dirimu," ucap Cantika ragu karena ia sudah melihat jelas sorot kebencian di wajah suaminya padanya.
"Duduklah, Cantika. Biar aku masuk dulu."
Namun pada saat Ivan akan bangkit dari duduknya, Tian melarangnya.
"Ivan, kamu duduk saja di sini. Nggak usah kemana-mana," ucap Tian melarangnya.
"Tapi Tian, mungkin saja apa yang ingin di katakan oleh Cantika itu urusan keluarga kalian. Aku tidak ingin turut campur dengan mendengarnya," ucap Ivan.
"Nggak apa-apa, Ivan. Kamu sudah aku anggap keluargaku jadi tak usah sungkan seperti itu," ucap Tian hingga pada akhirnya Ivan pun duduk kembali.
"Padahal aku memang ingin bicara tentang pribadi dengan Mas Tian. Mas iya aku tetap bicara ya, sementara ada Mas Ivan di sini," batin Cantika seraya menghela napas panjang.
"Cepat katakan saja apa yang ingin kamu katakan, selagi aku ada waktu. Kenapa malah diam saja seperti itu?" tegur Tian membuat Cantika terlonjak kaget.
Tingkah Tian semakin hari semakin tidak bisa di tolerir oleh Ivan, ia sebenarnya sudah tak sabar lagi ingin membawa pergi jauh Cantika dan Salsabila.
"Kurang ajar, Tian. Kenapa ia masih saja kasar seperti ini pada Cantika!" batin Ivan sangat kesal.
"Mas Tian, aku bicara baik-baik padamu. Tetapi kenapa juga kamu bersikap kasar seperti ini padaku?" hardik Cantika.
__ADS_1
"Kamu ingin bicara atau ingin menggurui diriku saja? kamu memang pantas di perlakukan seperti ini setelah apa yang kamu lakukan pada bayiku!" ucap lantang Tian melotot ke arah Cantika.
"Mas Tian, jika memang kamu ini sudah tak cinta dan benci padaku. Kenapa juga kamu tak ceraikan aku saja, dari pada seperti ini?" tiba-tiba Cantika mengatakan seperti itu.
Padahal ia ingin mengatakan hal lain, tetapi malah ia tersulut emosi dengan mengatakan hal itu.
"Apa, kamu ingin aku ceraikan? memangnya kamu sanggup hidup sendiri dengan Salsabila? kamu sangat sanggup menafkahi anakmu itu?" ejek Tian.
"Awalnya aku datang kemari ingin mengatakan hal lain. Tetapi ternyata kamu seperti ini padaku jadi aku minta maaf mengatakan hal ini."
"Aku yakin sanggup, mas. Pasti Allah akan buka jalanku untuk menghidupi Salsabila tanpa bantuan darimu. Dari pada aku hidup denganmu hanya selalu di salahkan seperti ini."
"Aku manusia biasa yang punya hati dan perasaan yang setiap saat bisa merasakan sakit hati. Dan kesabaran seorang manusia itu ada batasnya."
Dengan memberanikan diri akhirnya Cantika mengatakan hal yang selama ini ia pendam di dalam hatinya. Karena memang ia juga sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang di torehan oleh suaminya.
Sebenarnya di dalam hatinya masih ada rasa cinta, hingga ia tidak mau menceraikan Cantika. Hanya saja ia gengsi untuk mengatakan hal itu pada Cantika, hingga ia membuat alasan almarhumah ibunya.
"Mas Tian, tak usah kamu membawa almarhumah ibu. Karena ia juga tidak akan rela melihat aku di perlakukan seperti ini olehmu," ucap Cantika.
Sebenarnya ia ingin sekali mengatakan banyak hal, tetapi ia malu karena ada Ivan yang sedari tadi melihat pertikaian dirinya dengan Tian.
'Kenapa diam, katakan saja semua yang ingin kamu katakan. Selagi aku mau mendengarkannya, karena esok hari belum tentu aku mau merespon segala yang kamu katakan padaku," tegur Tian.
Cantika hanya diam, ia pun tak berkata lagi. Ia hanya berlalu pergi dari hadapan Tian dan Ivan.
"Awalnya aku hanya ingin mengatakan bahwa baby sitter Bila telah risgn. Dan aku ingin minta tolong padanya untuk mencarikan baby sitter yang baru. Karena jika aku mencari sendiri, pasti ia marah-marah. Tetapi apa yang aku katakan malah hal lain," batin Cantika.
__ADS_1
"Aku lelah sekali hidup rumah tangga seperti ini. Aku sama sekali tidak pernah berpikir jika akan mengalami hal seperti ini. Aku pikir akan bahagia selamanya dengan Mas Tian," batinnya mulai berkeluh kesah.
Sementara Ivan mencoba mengorek isi hati Tian.
"Tian, kamu itu bagaimana sih? sikapmu pada Cantika sudah jelas terlihat kamu itu sudah tak cinta padanya. Tetapi kenapa kamu tak mau melepaskan dirinya?" tanya Ivan bingung.
"Karena aku memang masih cinta padanya. Walaupun kadang aku emosi padanya, tetapi entah kenapa aku tak bisa benar-benar benci padanya. Makanya aku tak mau melepaskan dirinya begitu saja," ucap jujur Tian.
"Jika menang benar kamu cinta, seharusnya rasa marahmu itu tidak berkelanjutan. Kasihan juga kan istrimu itu? lagi pula apa yang menimpa anak kalian itu adalah takdir bukan kesalahan Cantika. Karena pada saat itu aku tahu betul, kejadian itu," ucap Ivan membela Cantika.
"Kenapa kamu membela Cantika, apakah kamu suka padanya?" tanya Tian tiba-tiba membuat jantung Ivan berdetak begitu kencang mendengar ungkapannya tersebut.
"Tian, kenapa kamu mengatakan hal seperti ini?" Ivan malahh balik bertanya.
"Dari perkataanmu beberapa kali, terlihat jelas kamu itu selalu saja membela Cantika."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Tian, tak lantas membuat Ivan jujur dan mengaku pada Tian tentang perasaan ia pada Cantika, karena menurutnya belum saatnya saja.
"Tian, siapa pun orangnya jika melihat kekakuanmu pada istrimu entah itu ia wanita atau pria, pasti takkan tega dan akan membela Cantika."
"Apa kamu mau aku tanyakan langsung pada bibi tentang sikapmu ini? pasti ia juga tak suka dengan sikapmu ini."
"Kamu sudah sangat teramat menyakiti hati istrimu. Tetapi kamu tak mau melepaskannya. Apa kamu sengaja ingin menambah luka di hatinya secara terus-menerus?"
"Yang aku tahu dan yang aku kenal, sahabatku Tian tidaklah seperti ini. Tetapi kenapa juga sekarang sifatmu buruk seperti ini?"
"Jujur saja, Tian. Aku sangat kecewa padamu. Jika aku tahu kamu tak bisa menjaga amanah dari almarhumah ibunya Cantika. Aku tak sudi membantu kasusmu dulu."
__ADS_1
Mendengar segala yang di katakan oleh Ivan, sejenak Tian hanya bisa diam saja.