
Setelah selesai masak, mereka sarapan bertiga. Sebenarnya Cantika tak suka dengan adanya Rani, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Mas, aku tak suka masakan Cantika. Aku kan sedang sakit masa iya harus makan makanan pedas? mas, aku ingin makan bubur," pinta Rani memelas.
"Ya sudah, nanti aku minta bibi untuk membuatkan bubur untukmu." Tian bangkit dari duduknya melangkah ke arah dapur akan tetapi langkah kakinya terhenti oleh Rani.
'Mas, bibi kan sedang mengurus kerjaan yang lain. Cantika kan bisa buatin aku bubur," ucap Rani seraya melirik ke arah Cantika.
Namun kali ini Cantika diam saja, ia tak ingin dirinya terus di peralat ataupun di hina oleh istri sah suaminya. Tianpun tak ingin mengganggu waktu sarapan Cantika, ia juga hanya melirik ke arahnya.
"Ada apa, mas? aku sedang lapar sekali, apa mas tega jika anak kita sampai kelaparan?" ucap Cantika terus saja menyantap sarapannya tanpa mempedulikan kemauan Rani.
"Mulai sekarang aku tidak akan lemah, supaya tidak di injak-injak oleh Rani. Aku tahu, ia bermaksud supaya aku ini menyingkir dari kehidupan Mas Tian. Aku harus melawannya, jika tidak ia akan semakin berulah untuk bisa menyakitiku," batin Cantika.
"Iya, sayang. Biar bibi saja yang buat bubur untuk Rani, aku juga tahu itu. Takkan aku memintamu, karena kami juga sudah lelah memasak sudah waktunya istirahat." Ucap Tian seraya melanjutkan langkahnya ke dapur.
Melihat akan hal itu, Rani menjadi sangat kesal, karena niatnya untuk mengerjai Cantika malah gagal total.
"Kenapa sih, Mas Tian masih saja bersikap seperti ini? padahal aku sudah berpura-pura sakit. Trik ini salah, seharusnya aku berpura-pura hamil kali ya, tapi kan Mas Tian tak pernah menyentuhku?" batin Rani sedang berusaha mencari cara lain untuk bisa mendapatkan simpatik dan perhatian dari Tian kembali.
"Heh, kamu mau menantangku secara terang-terangan ya?" tegur Rani pada Cantika di kala Tian sedan ke dapur mencari keberadaan bibi.
"Aku tak pernah menantang, Mba Rani. Mba yang sengaja menyerangku secara terang-terangan. Aku sekarang jadi yakin jika Mba ini sebenarnya nggak sakit beneran kan?" ucap Cantika hanya sekedar berucap saja seraya terus menyantap makanannya.
"Jika iya memangnya kenapa? mau mengadu pada Mas Tian, silahkan saja. Aku yakin ia nggak akan percaya dengan apa yang kamu katakan, tetapi lebih percaya padaku," ejek Rani tersenyum sinis.
__ADS_1
"Untuk apa mba aku mengadu, toh kebenaran kelak akan terkuak sendiri kok. Bangkai di tutupi sekuat apapun pasti akan tercium juga kok, tak perlu juga aku bersusah payah meyakinkan Mas Tian bahwa Mba ini telah berbohong padanya," ucap Cantika dengan santainya.
Pada saat Rani akan membalas apa yang barusan di katakan oleh Cantika, datanglah Tian hingga ia terpaksa diam walaupun hatinya kesal.
"Rani, bibi nggak ada di dapur. Kamu bikin saja buburnya sendiri ya?" ucap Tian sekenanya.
"Apa, mas? kamu tega melihatku yang sakit ini cape di depan kompor hanya untuk membuat bubur yang akan aku makan sendiri?" ucap Rani ketus.
"Lantas mau bagaimana lagi, kalau nggak mau ya sudah makan saja yang ada. Lagi pula masakan Cantika kan enak." Ucap Tian seraya duduk kembali untuk melanjutkan sarapannya.
Dengan sangat terpaksa Rani menyantap makanan yang ada di meja makan, sementara Cantika hanya tersenyum sinis melihatnya.
"Aku harus waspada dengan Mba Rani yang sudah jelas kedatangannya kemari hanya untuk membuat rumah tanggaku dengan Mas Tian hancur. Ternyata ia licik juga, apa nggak takut ya jika suatu saat nanti ia kena penyakit parah beneran?"
"Hem, aneh juga dengannya. Dulu menyia-nyiakan Mas Tian, kini ia sudah bersamaku eh nggak rela."
Seusai sarapan selesai, Tian berpamitan berangkat ke kantor. Di dalam hati Rani ada rasa senang, karena ia akan berniat jahat pada Cantika di saat tak ada Tian.
"Hem, bagus dech. Di saat Mas Tian tak ada di rumah, aku akan membuat rencana bagus supaya Cantika kehilangan janinnya. Jika hal ini terjadi kan pastinya Mas Tian akan marah besar padanya dan sangat kecewa. Pada saat itu pasti Mas Tian akan kembali memperhatikanku seperti dulu," batin Rani seraya tersenyum sendiri hal ini.
Beberapa menit kemudian pada saat Cantika sedang sibuk membantu bibi di dapur untuk mencuci piring bekas sarapan tadi. Rani melangkah seraya pelan-pelan menuju ke depan kamar Cantika dengan membawa satu botol minyak.
Dia celingukan untuk mengecek situasi, setelah ia merasa aman barulah menuang minyak itu di depan pintu kamar Cantika.
Tanpa ia sadari perbuatannya sedang di lihat oleh Cantika dan bibi dari balik persembunyian. Cantika langsung merekam itu pada ponselnya, untuk sebuah barang bukti kejahatan Rani.
__ADS_1
"Bi, lihat sendiri kan? mantan majikan bibi itu jahat sekali dengan menuang minyak di depan pintu kamar saya. Dengan harapan saya jatuh dan keguguran," bisik Cantika lirih.
"Iya, Non Cantik. Bibi juga kadang heran dengan sikapnya itu. Dulu ia tak pernah peduli dengan Den Tian. Kini malah mengejar-ngejarnya lagi dan tak rela melihat kebahagiaan Den Tian bersama Non Cantik," bisik bibi.
"Hem bibi, sebaiknya kita kembali saja ke dapur. Oh iya, bi. Aku minta tolong ya, mewaspadai selalu gerak gerik Rani selama aku belum pasang CCTV. Aku telah berencana akan memasang CCTV di setiap sudut ruangan juga kamar Rani. Supaya aku tahu segala kejahatannya, dan ini kelak akan aku perlihatkan pada Mas Tian untuk menguak siapa itu Rani," bisik Cantika.
"Siap, Non Cantik."
Saat itu juga bibi dan Cantika berlaku pergi dari balik persembunyian mereka. Cantika tak hilang ide, ia pun melakukan hal yang sama di depan pintu masuk kamar Rani.
"Hem, aku ingin melihat Rani terkena jebakannya sendiri,' batin Cantika.
"Lihat Rani, aku itu tidak akan lemah di hadapanmu. Aku akan mampu mempertahankan suamiku dengan segala perhatianku. Justru dengan perbuatanmu itu, akan membuat Mas Tian semakin benci padamu," batin Cantika.
Tanpa sepengetahuan Rani, di saat ia lengah. Si bibi telah membersihkan minyak yang ada di depan kamar Cantika, bahkan mengganti kesednya pula dengan yang baru.
Hingga ia takkan terpeleset, Cantika baru masuk ke kamarnya dengan tenang. Sementara Rani saat ini sedang menajamkan pendengarannya.
"Kenapa dari tadi aku tak mendengar ada suara orang jatuh ya?" gumam Rani heran.
Iapun yang sedang merebahkan diri di ranjang merasa heran, hingga ia memutuskan untuk mengecek kondisi dengan anak melangkah ke luar kamar.
Dan pada saat ia melangkah di depan pintu kamarnya sendiri...
Brug... Rani terjatuh saat itu juga.
__ADS_1
"Aaaaddduhhh....sakitnya pinggangku, kenapa sih depan pintu kok lantai licin?" batin Rani seraya berusaha bangkit dari jatuhnya.