
Tian, Cantika, dan Ivan makan sore bersama. Sedangkan Salsabila anaknya saat ini sedang bersama baby sitternya, ia juga sedang di suapi.
"Bagaimana, masakan di Indonesia dan di LA enak mana?" tanya Tian seraya terus menyantap makanannya.
"Jelas beda negara ya beda ciri khas masakannya, kamu itu aneh Tian. Tapi kalau menurut aku sih tetap masakan Nusantara yang nomor satu," ucap Ivan sesekali melirik ke arah Cantika yang hanya diam saja.
"Hem, boleh nggak aku.. nambah makannya? aku kok merasakan masakan si rumah ini lain dari pada yang lain ya?" ucap Ivan kembali lagi ia melirik ke arah Cantika yang terus saja tertunduk.
"Ini masakan istriku tercinta. Aku juga sudah candu dengan masakannya loh. Kamu itu pinter masak ya, sayang. Juga pinter di ranjang."
Ucapan Tian yang tidak pada tempatnya membuat Cantika langsung saja menghentikan aksi makannya. Ia meletakan sendok dan garpunya, lantas ia pun berlalu pergi begitu saja.
"Kenapa Mas Tian berkata menjijikan seperti itu. Kesannya aku itu wanita yang doyan banget permainan ranjang. Padahal aku juga belum ingin hamil jika tak di paksa olehnya," batin Cantika kesal.
"Di depan temennya saja begitu sok romantis, aku tahu pasti ini hanya untuk pencintraan semata," batin Cantika.
"Ivan, maaf kan sikap istriku ya? biasalah kalau wanita lagi hamil itu sensitif banget juga hasratnya ya ampun...sampai aku kewalahan dech."
Tian bangkit dari duduknya, ia melangkah menuju ke kamar menyusul Cantika.
"Kenapa aku merasa cemburu seperti ini pada saat mendengar perkataan dari Tian ya? tetapi kenapa Cantika seolah tak suka pada saat Tian berkata hal itu? aku rasakan sesuatu diantara mereka berdua yang aku tak tahu, dan aku harus mencari tahu akan hal ini," batin Ivan.
Dengan langkah mengendap-endap, Ivan pun mengintip dari balik tembok kamar yang kebetulan pintu kamarnya terbuka lebar.
"Cantika, kamu kenapa tak sopan dengan pergi begitu saja saat makan. Kamu tahu nggak, perbuatanmu itu sudah membuat aku malu pada Ivan!" bentak Tian.
"Seharusnya aku yang malu, mas. Kamu berkata sok romantis dan mengatakan perihal ranjang di meja makan. Seolah aku ini tukang ka*w**i*n saja!" ucak ketus Cantika.
__ADS_1
"Loh, ini kan pembicaraan wajar untuk orang dewasa. Begitu saja kamu marah? aku sedang tak ingin marah ya Cantika karena ada Ivan. Kalau nggak ada dia, mungkin aku nggak akan bersikap romantis padamu!" ucap ketus Tian.
"Sudah aku duga, mas. Kamu bersikap lemah lembut padaku hanya untuk pencintraan saja kan? jangan-jangan dulu juga begitu ya, pada saat masih ada almarhumah Ibuku?"
Tian tersenyum sinis," nah itu kamu pintar sudah tahu seharusnya tak perlu bertanya!"
"Asal kamu tahu ya, Cantika. Aku kecewa padamu sejak kamu tak bisa memberiku seorang anak laki-laki. Dan jika anak yang sedang kamu kandung ini lahir perempuan juga, kamu jangan salahkan aku jika aku mencari wanita lain untuk aku nikahi!"
Ivan langsung melangkah kembali ke ruang makan karena ia tak ingin ketahuan menguping apalagi ia tahu jika Tian akan keluar dari kamar, hingga ia pun segera kembali ke ruang makan.
"Astaghfirullah aladzim, ternyata feeling aku benar adanya. Jadi selama ini Tian tidak tulus pada Cantika. Masa iya hanya karena Tian tak memperoleh anak laki-laki dari Cantika, ia lantas berbuat semaunya?"
"Tian, kenapa kamu pintar sekali bersandiwara demi pencintraan? akan aku layani kamu jika seperti ini caranya."
"Kamu telah menyia-nyiakan wanita yang aku sayangi. Padahal aku telah merelakan ia untukmu. Aku pikir kamu membuatnya bahagia, tetapi ternyata tidak."
Pada saat ia kembali ke meja makannya mendadak tak berselera makan. Datanglah Tian duduk di hadapannya, merasa heran melihat wajah murung yang nampak sekali pada diri Ivan.
"Kamu kenapa Ivan sepertinya kok murung, apa ada yang mengganjal di pikiranmu?" tanya Tian menyelidik.
"Memang ada yang mengganjal di pikiran aku?" jawab singkat Ivan.
"Coba ceritakan saja siapa tahu aku bisa membantumu menyelesaikan permasalahan yang sedang kamu pikirkan saat ini," pinta Tian.
"Baiklah Tian, kamu dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini ya," ujar Ivan.
Tian pun hanya merespon dengan senyuman kecil serta anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Tian apa yang kamu lakukan jika seseorang yang kamu sayangi itu malah telah menjadi milik orang lain dan yang ternyata orang lain itu adalah teman kamu sendiri?" tanya Ivan.
"Jadi kamu diam-diam menyukai seseorang yang memang sudah menjadi pacar temanmu itu?" tanya Tian memicingkan alisnya.
"Tepatnya memang seperti itu. Aku menyukai seorang wanita tetapi aku terlambat karena wanita yang aku sukai telah menjadi istri temanku."
"Awalnya aku berusaha mengiklaskan dirinya untuk dimiliki temanku tetapi pada saat aku melihat bahwa sikap temanku padanya tidaklah baik, hati ini merasa resah dan gelisah memikirkannya."
"Ternyata selama ini temanku itu tidak tulus mencintai dan menyayanginya, lantas menurutmu aku harus bagaimana? Karena aku tidak rela melihatnya selalu disakiti oleh temanku itu."
Tian mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ivan dengan seksama setelah itu ia pun memberikan suatu masukan kepada Ivan.
"Kalau menurut aku, jika kamu tak ingin melihat wanita itu terus disakiti oleh temanmu, sebaiknya kamu perlahan-lahan mendekatinya saja."
"Kamu berikan perhatian sedikit demi sedikit padanya pasti lama-lama wanita itu akan luluh dan bisa mencintaimu."
"Daripada wanita itu terus saja disakiti oleh temanmu, kasihan juga kan?"
Batin Ivan tersenyum sinis, padahal apa yang saat ini ia katakan adalah tentang Cantika dan Tian. Tetapi Tian benar-benar bodoh tidak bisa menebak dari perkataan yang dilontarkan oleh dirinya.
"Kamu serius Tian, dengan apa yang kamu sarankan padaku barusan? yang menjadikan diriku resah dan gelisah karena posisinya wanita itu sudah menjadi istri dari temanku bukan menjadi pacar," ucap Ivan.
"Itu tidaklah masalah, salah siapa temanmu itu tidak mengasihi istrinya dengan setulus hati. Malah selalu menyakitinya, daripada wanita itu terus-terusan disakiti olehnya ya lebih baik kamu rebut saja dirinya," ucap Tian.
"Lantas bagaimana jika temanku itu marah padaku? bagaimana jika memang suatu hari nanti dia mengetahui bahwa ternyata aku ini cinta dan sayang pada istrinya?" tanya Ivan lagi.
"Gampang saja, tinggal kamu katakan padanya aku sudah lama terlebih dahulu mencintainya sebelum dirimu tetapi aku terlambat meminangnya karena kamu telah terlebih dahulu meminang dirinya. Awalnya aku ikhlas aku pikir kamu akan sepenuhnya menyayanginya tetapi ternyata tidak. Aku tidak rela kamu terus menyakitinya, lepaskan saja ia untukku dari pada terus kamu sakiti," ucap Tian mengajari Ivan.
__ADS_1