
Ivan menyunggingkan senyuman pada saat melihat kepolosan yang terpancar pada wajah Cantika, di saat dirinya baru sadar jika pernah bertemu dengannya.
"Cantika, izinkan sejenak aku berbicara ya? karena banyak sekali yang ingin aku katakan. Sejak saat pertemuan kita saat itu aku terus saja mengingatmu"
"Tetapi karena tugas dari kepolisian yang tak bisa aku abaikan, hingga aku malah mengabaikan perasaanku padamu waktu itu."
"Di saat aku akan mencoba mendekati dirimu, aku harus melaksanakan tugas di negara LA. Dan dalam waktu yang lama pula, hingga aku memutuskan untuk menemuimu lagi sepulang aku dari LA."
"Tetapi setelah cukup lama aku ada di LA, kebetulan aku ada waktu libur yang cukup lama. Hingga aku pulang ke Indonesia dengan harapan ingin menemui dirimu."
"Belum juga aku bertemu dengan dirimu, pada saat aku ada di kantor polisi. Kebetulan aku bertemu dengan Tian yang merupakan sahabat baikku tempo dulu."
"Tanpa sengaja aku bertanya untuk apa ia datang ke kantor polisi. Dan ia menceritakan tentang kelakuan Rani padamu."
"Aku sempat shock pada saat melihat fotomu ada di ponsel Tian. Hingga aku memutuskan untuk merelakan kamu menjadi milik Tian."
"Bahkan aku sengaja beberapa kali ke rumah Tian, dengan tujuan ingin melihat kondisi dirimu. Dan ingan tahu apakah Tian benar-benar tulus padamu."
"Tetapi pada saat aku tak sengaja mendengar kalian bertengkar, aku baru tahu jika Tian itu tidak tulus padamu."
"Dan sejak saat itu aku meminta Siska untuk berpura-pura menjadi baby sitter dari Salsabila. Karena aku ingin terus bisa mengetahui bagaimana perkembangan rumah tanggamu dengan Tian."
"Aku tidak bisa memantau mu sendiri karena tugasku di LA waktu itu belum selesai. Hingga aku minta tolong pada, Siska."
"Dan pada hari ini aku datang kemari karena aku sudah lega, tugasku di LA susah selesai. Dan pada saat aku akan di beri tugas lagi di LA, aku menolak."
"Karena aku ingin cepat bertemu dengan dirimu. Hingga aku memutuskan untuk bekerja di Indonesia saja. Mengambil tugas yang ada di sini saja supaya aku bisa selalu dekat denganmu."
__ADS_1
Cantika begitu seksama mendengar apa yang sedang di katakan oleh Ivan. Ia bahkan sama sekali tidak menyangka jika Ivan sampai sejauh itu dalam memperhatikan dirinya.
"Nona Cantika, rumah ini juga pemberian dari Tuan Ivan. Juga mesin jahit serta kain perca yang di kirim seseorang itu juga darinya. Satu hal lagi, Nona Cantika. Dua orang yang saat ini bekerja sama dengan anda juga kenalan baik, Tuan Ivan," ucap Siska.
"Astaghfirullah aladzim, jadi yang selama ini membantuku adalah Mas Ivan? terima kasih ya, mas. Aku minta maaf karena telah merepotkan dirimu. Aku janji kelak jika aku sudah punya uang longgar, aku akan mengembalikan semuanya padamu," ucap Cantika.
"Cantika, kamu masih tidak peka saja dengan apa yang aku ceritakan dan aku lakukan untuk dirimu? aku tidak menginginkan kamu mengembalikan semua yang aku berikan. Tetapi aku ingin kamu bisa membalas rasa cintaku yang sudah terpendam begitu lamanya," ucap Ivan.
Sejenak Cantika terdiam, ia bingung harus mengatakan apa. Di dalam hatinya ia benar-benar masih trauma dengan pernikahan nya yang gagal.
"Cantika, aku berani mengatakan hal ini karena statusmu sudah resmi janda. Dan Tian saat ini sudah menikah lagi dengan seorang gadis belia."
"Sebelum aku datang kemari, aku mengecek ke rumah Tian. Bahkan ia sudah tahu jika aku suka padamu. Ia sempat ingin menitipkan surat cerai untukmu. Tetapi aku menolak, dan aku mengatakan supaya ia memberikannya sendiri padamu."
"Jadi jika kamu masih berharap pada Tian, kamu salah. Karena ia sudah tidak peduli lagi padamu. Aku minta maaf ya, Cantika. Mohon kamu jangan tersinggung."
Sejenak Cantika terdiam, ia pun kemudian berkata.
"Mas Ivan, justru aku itu ingin segera berpisah dengan Mas Tian. Padahal aku baru saja akan menggugat cerai Mas Tian. Dengan begini justru aku lega, jika ia sudah menceraikan aku terlebih dahulu."
"Sebaiknya Mas Ivan istirahat saja dulu. Karena pastinya cape setelah perjalanan jauh. Esok hari saja aku akan ke rumah Mas Tian tetapi di temani Siska saja," ucap Cantika.
"Cantika, apa kamu tidak mau terima aku sebagai ganti Tian?" tanya Ivan.
"Mas Ivan, aku minta maaf. Untuk saat ini aku belum memikirkan untuk menikah lagi, karena rasa sakit yang Mas Tian toreh saja masih bisa aku rasakan."
"Terlalu cepat bagiku jika aku langsung bersamamu. Aku sudah pernah merasakan hubungan yang di lakukan terlalu cepat seperti yang dulu aku lalui bersama Mas Tian. Akhirnya berakhir tragis."
__ADS_1
"Aku minta maaf, Mas Ivan. Aku belum bisa menerimamu. Percaya saja pada Allah, jika memang kita berjodoh pasti tidak akan kemana."
Ivan bisa mengerti akan luka hati yang telah membuat Cantika trauma dengan pernikahan. Tetapi ia tidak akan mundur apalagi patah semangat setelah mendengar apa yang barusan di katakan oleh Cantika.
Justru ia lebih semangat lagi untuk bisa meluluhkan hati Cantika. Ia lebih tertantang dengan hal ini.
"Baiklah, Cantika. Aku tidak akan memaksamu untuk langsung menerima cintaku sekarang juga. Tetapi aku juga minta padamu, untuk tidak menutup hatimu untukku."
"Izinkan aku untuk bisa memenangkan hatimu, dan meluluhkan hatimu dengan cara jangan menolakku jika aku akan sering datang kemari."
"Biarkan aku untuk bisa lebih dekat lagi pada Salsabila. Dan biarkan aku selalu ada di sampingmu, setidaknya jika kamu belum bisa menerimaku. Terimalah aku menjadi sahabatmu."
"Bukankah seorang sahabat bukan hanya wanita dengan wanita dan pria juga dengan sesama pria?'
"Boleh kan aku dekat dengan dirimu dan Salsabila sebagai sahabatmu?'
Seketika Cantika diam, tetapi di dalam hatinya ia tidak memungkiri dengan ketulusan Ivan yang saat ini ia rasakan.
"Baiklah, Mas Ivan. Aku akan terima kamu sebagai sahabatku. Dan kamu boleh kok kemari kapan pun kamu mau," ucap Cantika.
"Yes, terima kasih ya Cantika," ucap Ivan begitu bahagianya hingga ia tak sadar dengan apa yang ia lakukan barusan yang meloncat kegirangan.
"Heeee, maafkan aku ya Cantika. Aku lepas kontrol karena saking senangnya,' ucap Ivan salah tingkah.
"Iya, Mas Ivan. Tidak apa-apa, oh ya pasti Mas Ivan belum makan bukan? bagaimana kalau ikut makan siang di sini? kebetulan aku baru saja selesai memasak," ajak Cantika.
"Wah, mau banget. Sudah lama loh, aku merindukan masakanmu. Dari terakhir aku ada di rumah Tian itu," ucap Ivan sangat antusias karena memang ia sangat menyukai masakan Cantika.
__ADS_1