Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Ajakan Menikah


__ADS_3

Hubungan antara Cantika dan Ivan sudah mulai ada kemajuan. Semakin lama Cantika mulai merasakan getaran cinta pada Ivan. Tetapi Cantika diam saja, tak ingin mengungkapkan rasa cintanya pada Ivan. Ia memang sengaja menunggu hingga Ivan kembali bertanya tentang perasaannya.


Hingga suatu hari, di saat Ivan mengenalkan seorang wanita pada Cantika, ia mulai salah paham dan bahkan mulai ada merasakan cemburu. Ia tak berani bertanya siapa wanita itu, pada Ivan. Yang sebenarnya wanita itu masih saudara Ivan. Tetapi Ivan meman sengaja tak menjelaskannya pada Cantika.


"Aku ingin tah, seperti apa respon Cantika jika aku membawa seorang wanita di hadapannya. Karena aku bisa merasakam perubahan yang positif pada dirinya, hanya saja ia masih enggan untuk mengakuinya," batin Ivan.


"Cantika, perkenalkan ini Layla."


Dengan perasaan sungkan menyalami wanita muda nan cantik yang bernama, Layla tersebut. Dia terpaksa menyunggingkan senyuman di hadapan wanita itu, walaupun di dalam hatinya mengumpat sikap Ivan.


Bahkan Cantika tidak ingin berlama-lama di depan Layla, ia beralasan masih banyak pekerjaan yang harus ia tangani.


"Mas Ivan, sepertinya idemu ini telah berhasil. Aku melihat ada binar rasa cemburu di mata Cantika. Dan dari sikapnya yang cuek padaku, juga bisa menandakan jika ia mulai tidak suka jika kamu dekat wanita lain," ucap Layla.


"Biarkan saja, aku memang ingin melihat respon yang seperti itu. Dan aku juga ingin ia mengakui langsung padaku bahwa ia sudah mulai cinta. Karena ia wanita yang sangat susah sekali di taklukkan. Bahkan aku harus menunggu lama untuk bisa mendapatkan hatinya," ucap Ivan yang sengaja ingin iseng pada Cantika.


Ivan ingin buat prank untuk wanita yang sangat ia sayangi dan cintai. Ia ingin mendengar langsung dari mulut Cantika jika dirinya suka padanya.


Cantika gelisah di dalam ruang kerjanya, sebenarnya ia sedang tidak sibuk. Bahkan ia masih setia memantau kebersamaan Ivan dan Layla yang ada di pelataran garmennya. Sesekali Cantika mencuri pandang dari jendela ruang kerjanya.


Jika Ivan menoleh ke arah jendela ruang kerja Cantika, segera Carikan menyingkir. Dan hal itu bukan di lakukan sekali atau dua kali, bahkan berkali-kali.


Cantika terus saja gelisah memikirkan Layla dan Ivan. Ia sebenarnya ingin bertanya pada Layla tentang hubungannya dengan Ivan, tetapi ia gengsi untuk bertanya. Hingga ia memilih diam yang pada akhirnya malah membuat dirinya resah dan gelisah selalu.


"Sebaiknya aku pulang ke saja, dari pada aku harus melihat kebersamaan Mas Ivan dan Layla yang tak juga pergi dari pelataran garmenku. Mau aku usir tapi rasanya juga tak mungkin. Mau aku labrak, eh aku mah apa?"


Cantika merapikan ruang kerjanya, dan sebelum ia pulang ke rumah. Ia menemui Pak Budi untuk menghandle garmen sementara ia pulang. Setelah itu barulah ia benar-benar keluar dari garmen seraya melirik sinis pada Ivan dan Layla.

__ADS_1


"Cantika, tunggu! kamu mau kemana?" sejenak Ivan mencekal lengan Cantika untuk menghentikan langkahnya.


"Ngapain sih tanya-jawab, urus saja tuh Layla." Cantika mencoba menepis cekalan tangan Ivan, tetapi justru Ivan menarik pinggangnya hingga berada di dalam pelukannya.


"Mas Ivan, apa yang kamu lakukan? nanti pacarmu cemburu padaku loh," ucap Cantika merona merah seraya pandangannya beralih ke arah lain.


Ivan terus saja menatap wajah ayu Cantika, sementara Cantika malah mengalihkan pandai karena ia semakin merasakan getaran cinta di saat jarakmya begitu dekat dengan, Ivan.


"Kalau cemburu bilang dong, bos Cantika. Kalau cinta kenapa di pendam saja yang hanya membuat hati tak menentu dan gundah gulana."


Ivan sengaja mengatakan hal itu pada Cantika. Dan ingin tahu apakah Cantika masih tetap diam dan tak mengakui rasa cintanya itu.


"Mas Ivan, lepaskan. Apa kamu tak malu di lihat banyak orang dan juga nanti pacarmu cemburu bagaimana?" Cantika masih saja mengalihkan pandangannya.


Hingga terpaksa Ivan memalingkan wajah Cantika dengan kedua tangannya supaya bisa menghadao kearahnya. Dan kini Cantika menatap lekat manik hitam Ivan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan, ad rasa suka dan senang di hati Cantika. Tetapi ia masih saja berpikiran bahwa Layla itu pacar, Ivan.


"Jika Mas Ivan mengajak aku menikah, lantas bagaimana dengan Layla? nggak lucu mas, jika ingin bercanda denganku!" rajuk Cantika.


"Cantika, wanita yang ada di hatiku hanyalah kamu saja. Tidak ada yang lain, aku memang sengaja meminta saudaraku untuk melakukan ini. Karena aku ingin tahu isi hatimu, dan kini aku sudah tahu."


"Cantika, kenapa kamu tak berkata jujur padaku bahwa kamu sudah bisa menerima cintaku di dalam hatimu?"


"Kenapa hanya diam dan diam saja? padahal aku selalu ingin hal ini lekas terjadi. Karena aku sudah ingin meminang dirimu, sayang."


Cantika tak lantas percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh Ivan, ia masih saja beranggapan jika Layla adalah kekasihnya.

__ADS_1


"Mas Ivan, tolong lepaskan aku. Malu di lihat banyak orang, dan juga di lihat pacarmu," ucap Cantika melirik ke arah Layla yang tak jauh dari mereka berdiri.


"Aku tidak peduli dengan orang, biarkan saja mereka melihat kita. Aku yakin malah mereka iri pada keromantisan kita. Cantika, Layla itu saudaraku. Ia anak dari Om aku. Jika kamu masih saja belum percaya, sebaiknya kita ke rumah Layla bagaimana? aku hanya ingin membuatmu cemburu dan ternyata usahaku berhasil. Kamu itu menyebalkan, Cantika. Punya rasa sayang dan cinta padaku tapi gengsi enggan mengakuinya," ucap Ivan terus saja menatap wajah cantik Cantika.


"Mas Ivan, aku ino seorang wanita. Masa iya aku harus mengatakan rasa ini pada seorang pria? bukannya yang wajar itu seorang pria yang mengatakan rasa cintanya pada seorang wanita?" ucap Cantika tanpa sadar.


"Asekkk, lah itu kamu barusan mengatakannya. Cantika, mau kan kamu menikah denganku?" tanya Ivan penuh harap.


"Ennnnngggggakkkkkkkk!"


Sejenak Ivan merengut pada saat mendengar jawaban singkat dari, Cantika. Dan ia pun akan melepaskan pelukannya pada Cantika. Tetapi Cantika malah bergelayut melingkarkan kedua tangannya dileher Ivan.


"Enngggggggaaakkkkkk nolak, maksudnya Mas Ivan" ucap Cantika secepat kilat menarik tangannya yang melingkar di leher Ivan.


Namun gerakan Ivan lebih cepat, ia menahan kedua tangan Cantika hingga tetap melingkar di lehernya.


"Aku ingin dengar sekali lagi, coba katakan yang barusan kamu katakan," ucap Ivan menatap lekat manik hitam yang ada di hadapannya.


"Mas Ivan, aku nggak menolak jika kamu ingin mengajakku menikah."


Sontak saja hal itu membuat Ivan berbunga-bunga, dan ia langsung memeluk tubuh Cantika sesaat kemudian mengangkat tubuj Cantika.


"Horeeeeee akhirnya, aku akan menikah....hhhuuuuuu..."


"Mas Ivan, turunkan aku. Ist malu tahu, lebay banget sih kamu mas."


"Biarin."

__ADS_1


Ivan tidak peduli dengan beribu mata yang saat ini menatap kearahnya seraya senyam senyum.


__ADS_2