Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Sebuah Peringatan


__ADS_3

Mendengar penolakan dari Rani tentang idenya, Mamah Bella menjadi sangat kesal.


"Ya sudah, kalau kamu menolak usul yang mamah berikan. Silahkan saja kamu nikmati kehancuranmu. Masa iya seorang model cantik papan atas kalah saing sama wanita kampung."


"Apa kamu nggak malu jika tersingkirkan oleh wanita yang derajatnya jauh di bawahmu? apa kata sainganmu yang sesama model itu, bisa jadi mereka akan semakin mencibir dirimu."


"Lagi pula ini kan hanya sebagai alasan saja. Masa iya kamu bilang sakit akan sakit beneran? ini juga demi kebaikanmu, demi kelangsungan rumah tanggamu."


"Sudahlah, mamah tidak akan bantu kamu lagi. Silahkan kamu pikirkan sendiri solusinya yang tepat itu apa!"


Setelah mengucapkan banyak kata, Mamah Bella berlalu pergi dari kamarnya menuju ke ruang tengah dimana saat ini suaminya berada. Sedangkan Rani terdiam seolah sedang memikirkan ulang ide gila dari mamahnya tersebut.


"Apa yang mamah katakan ada benarnya juga, lagi pula ini demi keharmonisan rumah tanggaku. Aku jelas saja nggak mau kalah dari wanita desa itu! baiklah, aku akan gunakan cara yang di berikan oleh mamah," senyum licik tersungging di bibir Rani.


Ia pun melangkah keluar menuju ke ruang tengah menemui orang tuanya.


"Mah-pah, aku pamit pulang ya."


Ucapnya tak lupa menyalami orang tuanya.


"Ya, Rani hati-hati di jalan. Kamu jangan berbuat yang aneh-aneh loh ya, papah nggak suka," pesan Papah Willy.


Sedangkan Mamah Bella hanya diam saja tak berkata apa pun. Ia justru melirik sinis pada putrinya tersebut, tanpa ada satu kata pun.


"Mah, sudah nggak usah ngambek. Aku akan gunakan cara yang mamah sarankan tadi kok. Jadi sekarang mamah tersenyum ya?" pinta Rani membujuk mamahnya.


"Nah gitu dong, mamah kan ingin yang terbaik untuk anak mamah yang cantiknya nggak ada bandingnya ini. Ya sudah pulang sana, jangan beri celah sedikitpun pada, istri siri Tian," ucap Mamah Bella.

__ADS_1


Papah Willy sempat curiga dengan apa yang barusan di katakan oleh istrinya.


"Mah, apa maksud dari perkataanmu itu? pasti kamu telah mengajari hal yang tak pantas pada Rani ya?" tanyanya menyelidik menatap tajam ke arah Mamah Bella.


"Bisa nggak, pah. Pikirannya tuh jangan negatif thinking sama mamah. Aku hanya mengajari satu hal yakni untuk mempertahankan rumah tangganya dengan ia merubah sifat buruknya. Apa seperti itu salah?" Mamah Bella langsung pasang wajah murung.


"Aku kok masih saja nggak percaya dengan apa yang di katakan oleh istriku ya? aku harus selidiki apa maksud dari perkataan istriku tadi, dan aku tak ingin Rani bertindak tak baik pada istri siri Tian," batin Papah Willy.


Sementara Rani langsung saja pergi begitu saja, karena ia paling malas melihat perdebatan orang tuanya yang biasanya berlangsung cukup lama. Selama dalam perjalanan pulang, ia terus saja tersenyum membayangkan usahanya akan berhasil.


"Siap-siap menerima kehancuranmu wanita desa. Aku tidak akan memberikan celah bagimu untuk bisa dekat dengan Mas Tian. Ia hanya milikku seorang dan takkan aku lepaskan sampai kapanpun." Gumamnya.


"Oh ya, aku sebaiknya ke rumah Dokter Fatma untuk segera membuat laporan palsu tentang kesehatanku."


Rani mengurungkan niatnya pulang, ia lantas melajukan mobilnya menuju ke rumah dokter pribadinya.


Hanya beberapa menit saja, ia telah sampai di rumah sang dokter.


"Nggak apa kok, dok. Saya kemari ingin minta tolong pada dokter, dengan sangat," Rani mulai pasang wajah memelas.


"Minta tolong apa ya, non? katakan saja nggak usah ragu, jika saya bisa pasti akan saya bantu," ucap sang dokter.


Rani pun tak sungkan menceritakan semuanya pada Dokter Fatma, tetapi di luar dugaannya. Dokter Fatma menolak kemauan Rani.


"Maaf ya, Nona Rani. Saya tidak bisa membantu anda, karena perbuatan ini sama saja saya mempermainkan hati orang. Dan juga saya melanggar janji sumpah seorang dokter. Saya tidak akan berbohong dengan alasan apapun tentang suatu penyakit. Lagi pula itu pamali, Non Rani. Jika anda mengaku punya riwayat penyakit yang mematikan, nanti Allah akan memberinya pada anda."


"Karena ucapan itu adalah doa. Jadi sekali lagi saya minta maaf karena tidak bisa membantu Non Rani dalam hal ini. Ini menyangkut profesi saya sebagai dokter di pertaruhkan. Jika kebohongan saya di ketahui, bisa hancur reputasi dan izin praktek saya bisa di hapus."

__ADS_1


'Masih banyak cara yang lain yang lebih baik, Non Rani. Untuk mempertahankan rumah tangga, tidak harus berbohong dengan memiliki suatu riwayat penyakit parah. Karena sepintar apapun anda berbohong, suatu saat nanti juga akan terbongkar kebohongan anda."


Rani bukannya sadar dengan semua peringatan dan nasehat dari Dokter Fatma, ia malah sangat marah padanya.


"Baiklah, dok. Jika anda tak mau bantu saya nggak apa-apa, tapi nggak usah menceramahi saya. Kaya dokter ini tak pernah punya dosa dan salah. Sok suci dengan menolak permintaan saya. Padahal saya akan memberikan upah yang besar untuk kerja anda. Ya sudah jika begitu saya pamit pulang."


Saat itu juga Rani pergi dari rumah Dokter Fatma dengan menghentakkan langkah kakinya sebagai tanda kemarahannya. Dokter Fatma yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang.


"Ya ampun, ada ya orang seperti Rani. Yang sakit saja ingin sehat dan di pulihkan. Yang sehat malah ingin berbohong dengan mengatakan sakit parah. Sifatnya saja seperti itu, pantaslah jika suaminya mempunyai wanita lain. Astaga, kok aku jadi membicarakan keburukan Non Rani."


Setelah menyadari jika lamunan dirinya tidaklah baik, Dokter Fatma pun menghentikan lamunannya. Ia melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda karena kedatangan Rani.


Sementara Rani semakin gelisah, bingung dan panik.


"Aku harus bagaimana jika sudah begini, masa iya aku terima saja kekalahanku? tidak, aku tidak mau kalah dari wanita desa itu!"


"Aku yakin ada cara lain untuk aku bisa mendapatkan surat keterangan kesehatan yang palsu."


"Hem, sebaiknya aku minta tolong saja pada salah satu anak buahku yang terpercaya untuk mendapatkan surat kesehatan palsu."


"Mereka pasti bisa menyusup ke ruang laboratorium di sebuah rumah sakit untuk mengambil data salah satu pasien yang menderita penyakit parah."


Setelah menggerutu memutar otaknya untuk berpikir, ia pun lekas menepikan mobilnya untuk menelpon beberapa anak buahnya.


"Ada apa, bos?"


"Ada satu kerjaan untukmu dan temanmu. Jika pekerjaanmu yang ini berhasil, aku akan memberikan upah yang sangat besar."

__ADS_1


"Sebaiknya kita bertemu saja, bos. Supaya anda lebih nyaman dalam menyampaikannya pada saya."


Dan saat itu juga Rani menemui dia anak buahnya.


__ADS_2