Istri Simpanan Tuan CEO

Istri Simpanan Tuan CEO
Bantuan Dari Ivan


__ADS_3

"Ini kan gadis yang pernah aku suka waktu sebelum aku berangkat ke LA? adanya aku datang lagi ke Indonesia karena ingin bertemu dengan gadis ini, ternyata malah sudah di nikahi Tian. Aku terlambat satu langkah dengannya gara-gara kesibukanku bertugas di kepolisian," batin Ivan.


"Sudahlah, aku ikhlas. Aku akan bantu dia supaya terselesaikan permasalahannya. Sebagai tanda cintaku ini padanya. Semoga kamu bahagia selalu dengan Tian," batin Ivan.


Melihat Ivan terdiam pada saat melihat rekaman video CCTV yang ditunjukkan olehnya. Tian menjadi heran dengan sikap sahabatnya itu.


"Ivan, kamu kenapa? sepertinya kamu kenal dengan Cantika ya?" tegur Tian mengagetkan lamunan Ivan.


"Iya aku kenal, barusan kan kamu yang mengenalkan lewat video CCTV. Oh iya nanti aku akan bantu kamu menyelesaikan permasalahanmu ini ya? sekaligus akan aku selidiki juga apakah ada hubungannya dengan kebakaran rumahmu itu," ucap Ivan menutupi rasa gugupnya karena ketahuan bengong.


"Jadi maksudmu Rani ada hubungannya dengan kebakaran rumahku itu?" tanya Tian ragu.


"Bisa jadi, Tian. Di lihat dari ceritamu itu, aku sangat yakin jika Rani dan mamahnya terlibat masalah kebakaran rumahmu itu," ucap Ivan dengan sangat pasti.


"Astaga, ya sudah aku serahkan permasalahan ini padamu ya. Aku harus segera pulang ke rumah. Karena aku mengatakan pada Cantika jika aku ini tidak akan lama. Walaupun di rumah sudah aku kerahkan beberapa anak buahku, tapi hati ini tetap tak tenang jika tak menjaga Cantika dengan tangan sendiri."


Saat itu juga Tian pulang ke rumahnya dan ia benar-benar menyerahkan segala permasalahan tersebut pada Ivan sahabat baiknya pada saat kuliah.


Tidak semua CEO itu punya orang andalan, seperti halnya dengan Tian. Untuk permasalahan pribadi ia lebih suka menangani semuanya sendiri. Karena ia tripikal pria yang tak gampang percaya dengan orang. Hingga hanya hal tertentu saja yang ia serahkan pada anak buahnya.


"Sejak tak ada orang tuaku, aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Entah kenapa aku tak mudah percaya dengan orang apa lagi sejak trauma masa lalu."


"Orang tuaku meninggal karena orang kepercayaan dari papah, yang ternyata adalah seorang penghianat besar."


Tian terus saja menggerutu di dalam hatinya sendiri mengingat kejadian naas beberapa tahun lalu dimana dirinya belum menikah dengan Rani.


Hingga lamunannya membuat dirinya tak sadar jika saat ini sudah berada di pelataran rumah. Terlebih ia menanyakan situasi dan kondisi pada salah satu anak buahnya yang di minta bertugas jaga.

__ADS_1


"Seperginya aku, apa ada hal yang mencurigakan?" tanya Tian.


"Tidak ada, bos. Semua aman saja, jika ada hal yang mencurigakan pasti saya sudah lapor dari tadi pada anda," ucapnya tegas.


"Oh ya sudah jika begitu kembalilah berjaga-jaga bersama temanmu. Jangan lengah dan selalu waspada loh ya," pesan Tian.


"Siap, bos."


Saat itu juga salah satu anak buah Tian kembali berjaga. Tian melangkah masuk menemui istri sirinya.


"Sayang, aku sudah selesai urusannya. Kamu di rumah aman saja kan bersama bibi?" Tian memeluk istri sirinya yang amat ia sayangi.


"Aman kok mas, ayok kita makan dahulu. Pasti kamu sudah lelah kan?" Cantika meraih lengan Tian dan mengapitnya membawanya melangkah ke ruang makan dimana telah siap tersaji beraneka menu masakan.


"Wah, luar biasa. Aku pergi kamu memasak sebegini banyaknya? seharusnya kamu tak perlu memasak begini banyak," ucap Tian merasa tak tega jika melihat istrinya terlalu cape karena sedang hamil.


"Aku tadi cek kulkas dan bahan makan hampir tak bisa di pakai. Hingga aku pilih saja mana yang masih bisa di pakai. Jika tak segera di masaka kan sayang kalau di buang. Akhirnya aku dan bibi inisiatif saja memasak semuanya, kan bisa di bagi juga dengan para anak buahmu yang sedang berjaga," ucap Cantika.


"Berbeda sekali dengan Rani, ia bahkan tak pernah berkutat di dapur sama sekali. Makanya stok bahan makanan mentah hampir saja mubazir. Sebenarnya aku tak permasalahan hal kecil ini, jika sudah tak bisa di gunakan ya buang."


"Tetapi Cantika memperhatikan hal sekecil ini, mungkin ini sudah menjadi kebiasaan hidupnya yang serba kekurangan. Hingga ia sangat perhitungan."


Terus saja Tian membandingkan sifat Rani dengan Cantika yang memang sangat berbeda bagai langit dan bumi.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat sudah menjelang waktu sholat isya. Dan pada saat Rani beserta Mamahnya bersantai. Datanglah Ivan bersama anak buahnya.


"Kamu Ivan teman Tian kan?" tanya Rani memastikan seraya tersenyum padanya.

__ADS_1


"Hem iya, Rani. Tapi kedatanganku kesini bukan untuk bertamu melainkan ingin menangkapmu dan mamahmu," ucapnya ketus.


"Menangkap?" tiba-tiba datang Papah Willy.


"Iya, Om. Saya datang kemari membawa surat penangkapan untuk istri dan anak om. Dengan tuduhan tindak kriminal," ucap Ivan tegas.


"Heh, Ivan. Jangan mentang-mentang kamu ini sahabat baik Tian dan kamu bekerja sebagai aparat kepolisian. Kamu dengan seenaknya mau menangkap orang. Apa kamu tak takut jika aku malah melaporkan hal ini pada pangkat yang lebih tinggi darimu yakni pada atasanmu?" ucap Rani lantang.


"Iya, aneh sekali. Menangkap oag tanpa ada bukti itu kan salah," sela Mamah Bella.


"Petugas, bawa ibu dan anak itu ke markas sekarang juga!" perintah Ivan pada beberapa anak buahnya.


"Siap laksanakan tugas, Komandan."


Hingga pada saat itu juga, Rani dan Mamah Bella di tangkap dan di bawa ke markas besar kepolisian.


"Heh, apa-apaan ini? lepaskan Ivan!" bentak Rani.


"Heh, apa kamu tak takut di laporkan balik dan kamu di pecat oleh atasanmu!" bentak Mamah Bella.


"Sudahlah, kalian tak usah memberontak lagi. Karena bukti sangat kuat dan mengarah pada kalian berdua!" bentak Ivan kata-katanya menggelegar membuat Rani dan Mamah Bella ketakutan dan mereka tak berkata-kata lagi.


Saat itu juga keduanya di bawa ke markas besar kepolisian dimana saat ini Ivan bertugas. Sementara Papah Willy penasaran dengan kejahatan apa yang telah di lakukan orang istri dan anaknya hingga mereka di tangkap oleh aparat kepolisian.


Namun rasa penasaran ini tak berani ia ungkapkan secara langsung pada Ivan, ia hanya mengikuti saja kemana para polisi membawa istri dan anaknya.


"Sebenarnya apa sih yang telah dilakukan istri dan anakku?"

__ADS_1


Hingga tak terasa mereka sudah berada di markas besar kepolisian.


Rani dan Mamah Bella di bawa ke ruang pemeriksaan untuk dimintai keterangan perihal kejahatan yang mereka lakukan. Ivan terkenal sebagai seorang Komandan kepolisian yang benar-benar tegas dan angkuh. Hingga segala kasus mampu ia tangani dengan cepatnya.


__ADS_2