
Saat itu juga Tian di makamkan dan tidak ada satupun sanak saudara yang datang ke makamnya. Hanya Ivan dan Cantika yang sempat datang, karena Cantika di beri kabar oleh asisten rumah tangga yang ada di rumah Tian. Dimana asisten rumah tangga di rumah Tian adalah tetangga dekat bibi yang saat ini ikut dengan Cantika.
Cantika sempat mengatakan kabar duka tersebut pada, Ivan. Dan bahkan Ivan mengajak Cantika untuk turut hadir di pemakaman Tian. Ia sama sekali tidak melarang Cantika. Bagaimanapun Tian adalah ayah biologis dari Salsabila.
"Hem, miris sekali nasibmu Tian. Aku sama sekali tidak menyangka jika akhirnya hidupmu seperti ini. Aku juga masih belum percaya jika kamu meninggal secepat ini. Padahal kamu belum sempat mengucapkan kata maaf pada mantan istri dan anakmu."
"Dulu kamu bangga sekali dengan wanita yang menjadi istrimu hanya karena wanita itu masih sangat muda. Tetapi di saat kamu seperti ini, istri mudamu malah pergi entah kemana bahkan semua hartamu di bawanya serta."
Terus saja Ivan menggerutu di dalam hatinya. Ia begitu iba melihat akhir hidup pria yang pernah menjadi sahabat baiknya. Ivan sama sekali tak percaya jika Tian harus meninggal secara mengenaskan.
'Aku yakin, sakitnya Tian itu tidak wajar. Dan ini bisa jadi ulah dari istri mudanya itu. Tetapi untuk apa juga aku bersusah payah menyelidiki kasus meninggalnya Tian. Toh ia dulu juga bersikap tidak baik pada, Cantika dan anaknya."
"Anggap saja ini adalah sebuah karma buruk yang harus ia terima dari buah perbuatan yang ia sempat tanam dulu."
"Biarkan saja Allah yang bekerja memberikan balasan yang setimpal pada orang-orang yang telah berbuat jahat. Dan aku yakin cepat atau lambat, istri muda almarhum Tian juga akan mendapatkan balasan yang setimpal juga."
"Kini yang utama di dalam hidupku adalah rumah tanggaku yang baru terjalin dengan, Cantika. Aku akan fokus dengan kehidupan pribadiku saja."
Setelah cukup lama, Cantika dan Ivan ada di pemakaman. Mereka pun segera pergi dari pemakaman umum tersebut. Karena masih banyak yang harus ia kerjakan. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata menatap tak suka ke arah Cantika dan Ivan.
Seseorang ini adalah anak buah Lika. Dan anak buahnya ini juga memiliki beberapa anak buah. Saat Cantika dan Ivan keluar dari pemakaman umum tesebut. Dan pada saat Cantika akan menyeberang jalan untuk menuju ke mobil terlebih dahulu karena Ivan membetulkan tali sepatu yang lepas. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju sangat cepat dan akan menabrak Cantika yang terlebih dahulu akan menyeberang.
"Awas Cantika!!!!"
__ADS_1
Namun Ivan sempat melihat hal itu, hingga secepat kilat ia lari dan mendorong tubuh Cantika, hingga tubuhnya sendiri yang sempst terserempet mobil tersebut. Dan saat itu juga, Ivan pun terkapsr dengan luka di siku lengan kanan. Dan ia sempat merasakan kesakitan di pinggang serta punggungnya.
Sementara mobil tersebut semakin kencang saja larinya. Hingga Cantika sama sekali tidak sempat menghapal nomor kendaraan tersebut.
Cantika juga merasakan sakit karena dorongan Ivan yang begitu kuat, hingga ia terperosok ke dalam parit ysbbada tekat di depan mobilnya parkir.
Dengan langkah yang tertatih, Cantika menghampiri Ivan yang masih sadarkan diri, tetspi ia terus saja merintih kesakitan.
"Aaahhhh.... sayang...kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya lirih.
"Mas, kamu yang terluka seperti ini masih saja memikirkan aku. Sudah nggak usah banyak bicara dukun, aku akan menelpon meminta bantuan."
Saat itu juga Cantika menelpon ambulance untuk segera datang. Dan hanya beberapa menit saja, ambulance telah datang dan langsung mengangkat tubuh Ivan masuk ke dalam mobil ambulance. Sementara Cantika dengan langkah tertatih masuk ke dalam mobil. Ia mengikuti laju mobil ambulance dari arah belakang.
Hanya beberapa menit saja, Ivan sudah sampai di rumah sakit. Dan ia langsung di tangani oleh para medis. Bahkan saat ini Ivan pingsan karena tidak kuat menahan rasa sakit yang teramat sangat pada bagian punggung dan pinggangnya.
Cantika terus saja menatap ke arah Ivan dimana saat ini ia masih saja memejamkan matanya karena belum juga sadarkan diri. Hingga beberapa menit kemudian, barulah Ivan sadar. Dan ia menyunggingkankan senyumnya pada, Cantika.
Dia sangat senang melihat istrinya sehat. Karena tidak sempat alami cedera.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga mas. Bagaimana kondisimu, sebentar ya. Aku akan panggil dokter."
Saat itu juga, Cantika memencet tombol yang ada di atas brankar dimana saat ini Ivan berbaring. Dan tak berapa lama, datanglah satu orang perawat dan satu orang dokter untuk memeriksa kondisi Ivan.
__ADS_1
Dokter menggerakkan kaki Ivan, tetsoi Ivan sana sekski tidak merasakan apapun pada kakinya.
"Dok, ada apa dengan kakiku? kenapa kok seperti tidak merasakan apapun ya? di angkat juga susah sekali" tanya Ivan penasaran.
"Anda alami kelumpuhan. Karena benturan yang cukup keras pada punggung anda, yang mengakibatkan tulang ekor dan tulang punggung anda cedera," ucap sang dokter.
"Apa saya bisa sembuh, dan bisa jalan lagi ya dok?" tanya Ivan kembali.
"Untuk bisa jalan lagi, harapan sangat tipis. Tapi kita kan tidak tahu kuasa Allah. Doa saja supaya Allah membust suatu keajaiban supaya suatu saat anda bisa jalan kembali. Jangan putus asa, tetapi teruslah berdoa."
Setelah mengatakan banyak hal pada Ivan, dokter pun meninggalkan ruang rawat tesebut karena masih banyak yang harus ia tangani.
Seperginya dokter, Cantika menghampiri suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mas Ivan, aku minta maaf ya. Gara-gara kamu menyelamatkan aku hingga ksmu harus cedera seperti ini," ucap Cantika lesu.
"Sayang, sudah kewajiban seorang suami menjaga istrinya. Aku rela menyerahkan nyawaku demi dirimu.Aju bahkan sama sekali tidak menyesal telah melakukan hal ini untuk menyelamatkan dirimu."
"Kamu nggak usah sedih, suatu saat nanti pasti aku akan bisa berjalan lagi."
Ivan mencoba menghibur Cantika, walaupun di dalam hatinya sendiri juga merasa sedih karena kondisinya yang sekarang ini hingga ia tidak bisa menjaga Cantika dan Salsabila seperti sedia kala.
Hanya saja Ivan menutupi kesedihannya supaya Cantika tidak mengetahuinya. Karena ia tak ingin Cantika tambah bersedih.
__ADS_1
"ya Allah, walaupun dokter barusan mengatakan bahwa kemungkinan untuk aku bisa jalan lagi sangat kecil. Tetapi aku sangat percaya dengan KuasaMu, karena tidak ada yang tidak mungkin bagiMu. Dan tidak ada yang mustahil bagi umatNya yang percaya," batin Ivan.
Dia sangat yakin jika suatu saat nanti akan bisa berjalan, walaupun itu entah kapan.