
Tian tidak punya belas kasihan sama sekali, ia tetap memecat asisten pribadinya itu. Setelah itu Tian berlalu pergi dari cafe itu tanpa melihat ke arah, Cantika.
Sementara Cantika hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Tian yang begitu sombong dan angkuh.
"Pak, nggak usah memohon pada orang sombong seperti dia. Sebaiknya bapak ikut saya saja, bapak bisa bekerja dengan saya. Karena kebetulan saya juga butuh asisten pribadi. Apakah bapak bersedia?" tanya Cantika seraya menepuk bahu asisten pribadi Tian yang sedari tadi tertunduk.
"Serius, Nona Cantika?" tanyanya belum juga percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Cantika.
"Iya serius, pak. Oh iya, ini kontak mobilnya. Sekarang juga bapak ikut saya ya." Cantika menyerahkan kontak mobil kepada asisten pribadi.
Kini mereka berjalan berdampingan menuju ke parkiran mobil, sementara Tian masih juga belum percaya dengan keberhasilan Cantika.
"Mana mungkin Cantika yang tadinya hanya seorang gadis desa bisa sesukses sekarang ini? aku belum bisa percaya akan hal ini!"
"Apa lagi pada saat terakhir pergi dari rumah, ia tak punya apa-apa. Tak membawa apa pun dari rumahku. Bagaimana mungkin hanya dalam waktu beberapa bulan saja ia bisa sesukses sekarang ini?"
"Dapat uang dari mana ia untuk modal usahanya? ah..kok bisa sih? heran saja dech, Cantika pergi dari kehidupanku itu baru beberapa bulan, masa iya sudah sukses saja?"
"Kalau sudah bertahun-tahun sukses aku tidak janggal. Apakah ia kini sudah bersuami lagi dengan seorang yang lebih kaya dariku hingga bisa punya usaha seperti sekarang ini?"
Terus saja Tian bertanya-tanya di dalam hatinya, karena ia tidak percaya jika pengusaha wanita yang sangat ia ingin temui ternyata Cantika.
Sepanjang perjalanan pulang, terus saja ia mengumpat. Ia lupa arah ke kantor, malah ia melajukan mobil arah ke rumah.
Setelah sampai di rumah, ia baru sadar. Tetapi ia sedang malas untuk kembali ke kantor karena hal barusan.
"Loh, kenapa Mas Tian tiba-tiba pulang? apa ia mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan klien barunya itu?" batin Inka yang melihat langkah suaminya akan masuk ke dalam rumah.
"Hem, ini kesempatan bagus untukku. Akan aku buatkan minuman dan aku bubuhi sedikit racun."
__ADS_1
Dengan gerak cepat Inka melangkah ke dapur dan membuatkan minuman kesukaan Tian, tanpa lupa membubuhi sedikit racun.
"Mas, minumlah. Pasti kamu lelah kan? wajahmu terlihat kusut seperti itu, apa ada masalah dengan pengusaha baru yang akan kamu temui itu?" tanya Inka seraya memberikan cangkir minuman pada Tian.
"Pyang!"
Naas, Tian malah menampik cangkir tersebut hingga terjatuh dan pada akhirnya pecah.
"Mas, kalau ada masalah dengan kerjaan seharusnya jangan di bawa pulang! aku baik-baik ingin memberikan minuman supaya kamu sedikit lega, malah seperti ini!" Inka kesal dan pada akhirnya, ia pergi begitu saja meninggalkan Tian.
Tanpa lupa, Inka meminta Iyem untuk membereskan kekacauan di teras halaman. Sementara Tian terus saja bengong. Ia merasa malu dengan Cantika. Dan ia merasa kalah dengan mantan istrinya itu.
Inka kesal karena dua kali gagal untuk memberikan racun pada Tian. Pagi tadi dan barusan. Ia semakin kesal.
"Bagaimana ini, dua kali aku gagal! padahal jika tidak, tinggal selangkah lagi aku pasti berhasil. Dengan cara kasar pun aku gagal terus, lantas aku harus bagaimana ya?"
Inka terus berpikir untuk melanjutkan aksinya akan tetapi dengan rencana yang lain.
"Maaf, tadi kita belum kenalan. Nama bapak siapa dan sudah berapa lama kerja dengan Mas Tian?" tanya Cantika lembut.
"Nama saya, Budi. Saya baru satu bulan kerja dengan, Tuan Tian. Saya sama sekali tidak tahu tentang anda, Nona Cantika," ucapnya seraya tertunduk lesu.
"Hem, memang dari dulu sifat Mas Tian seperti itu. Sudahlah kita tak usah membicarakan keburukan orang lain yang hanya ikut menambah dosa kita saja."
"Intinya kita pada pokok cara kinerja, Pak Budi saja ya? oh ya, saya akan gaji anda sesuai dengan pada saat anda kerja dengan Mas Tian."
"Tetapi jika di dalam kinerja anda semakin baik, dan bisa membantu saya menaikkan omset penjualan garmen saya dengan cara mempromosikan pada pengusaha yang lain, supaya bersedia bekerja sama dengan saya. Pasti saya akan memberikan bonus."
"Saya minta mulai saat ini anda fokus saja di garmen saya ya? tak usah memikirkan apa yang telah terjadi pada anda barusan. Dan tak usah sakit hati dengan perlakuan, Mas Tian."
__ADS_1
Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Cantika, membuat hati Pak Budi lega.
"Terima kasih, Non Cantika. Padahal anda tidak tahu dan tidak kenal siapa saya, tetapi langsung bersedia menolong saya. Padahal saya sempat bingung pada saat mendengar kata pecat dari mulut, Tuan Tian. Karena memang saya sedang butuh banyak uang untuk persiapan melahirkan istri saya yang hari lahirnya tinggal beberapa hari lagi," ucap Pak Budi.
"Wah, senangnya mau punya momongan? mohon maaf ini anak yang keberapa, pak?" tanya Cantika.
"Yang ketiga, Non Cantika. Anak sulung saya tahun ini masuk SLTP, yang nomor dua kelas enam SD. Makanya saya sempat bingung pada saat di pecat secara mendadak," ucap Pak Budi.
"Sekarang kan Pak Budi sudah punya pekerjaan baru. Jadi tak usah bingung lagi ya. Tetapi saya minta fokus dengan pekerjaan barunya. Lagi pula kinerja di perusahaan Mas Tian dengan di garmen saya kan tidak sama. Jadi Pak Budi harus benar-benar mempelajarinya dari awal. Tidak apa-apa kan?" tanya Cantika.
"Ya, Nona. Saya tidak masalah, dan anda juga tak usah khawatir karena saya cepat dalam belajar. Cepat bisa memahami apa yang akan saya pelajari," ucap Pak Budi meyakinkan Cantika.
"Lihat saja, aku akan membalas apa yang telah kamu lakukan padaku, Tian. Walaupun aku baru bekerja satu bulan denganmu. Tetapi aku punya banyak data para klien yang bekerja sama dengan dirimu. Dan akan aku minta mereka berpindah kerja sama dengan Nona Cantika," batin Pak Budi yang sudah benar-benar tidak terima dengan ulah Tian.
********
Pagi menjelang, Tian kembali ke kantornya. Dan sejenak ia ingat pada Pak Budi. Dan ia menelponnya.
Kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel Pak Budi
"Pak, kamu di mana? ini sudah siang kenapa tak datang ke kantor?"
"Maaf, apa anda sudah pikun? bukannya anda telah memecat saya kemarin?"
"Aku hanya bercanda saja, cepat datang ke kantor sekarang juga!"
"Maaf, jika anda sudah meludah kenapa di jilat kembali? saya sudah terima anda pecat saya, dan Alhamdulillah saya sudah langsung mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."
__ADS_1
Setelah itu Pak Budi langsung menutup panggilan telepon secara sepihak. Hal ini membuat Tian marah.
"Sialan, aku belum selesai bicara malah sudah ditutup begitu saja! tapi bagaimana bisa , ia langsung mendapatkan pekerjaan? setahuku tidak gampang hari gini mendapatkan pekerjaan dengan mudahnya," gumam Tian.